Gaya Hidup

Ada Wine Rasa Kopi di Banyuwangi, Seperti Apa?

Kopi varian baru dari Banyuwangi Kopi Wine

Banyuwangi (beritajatim.com) – Sekelompok anak muda di Banyuwangi mengenalkan kopi varian baru bernama wine robusta coffee. Ini menjadi bagian inovasi warga Banyuwangi yang terus berkembang.

Wine Robusta dikenalkan oleh 42 anak muda yang tertarik mengembangkan kopi robusta Kalibaru. Kecamatan Kalibaru sendiri dikenal sebagai penghasil kopi Robusta. Bahkan, di tengah pandemi tahun 2020 lalu, permintaan ekspor kopi Robusta Kalibaru mencapai 600 ton. Kopi Kalibaru sangat diminati pasar Italia.

Adalah Hasan Abdillah salah satu inisiator wine robusta kalibaru community. Ia bersama kawan lainnya menjelaskan wine robusta coffee adalah produk kopi robusta yang diolah dengan teknik fermentasi sehingga memilki rasa yang kuat seperti anggur (wine).

Bupati Ipuk bersama Hasan Abdillah saat melihat varian jenis kopi di festival kopi dan cokelat di Kalibaru. (humas kab)

“Ini murni produk kopi tanpa campuran apa-apa. Kalaupun ada rasa kuat seperti minum wine, itu karena proses pengolahan yang berbeda. Salah satunya dari proses fermentasi,” kata Hasan, Selasa (23/3/2021).

Selain itu, kekhasan cita rasa wine robusta juga dipengaruhi oleh cara memanen buah kopi yang berbeda. Untuk menghasilkan wine robusta yang nikmat, Hasan memilih buah kopi yang benar-benar matang dari pohon (red cherry) dan masih segar.

“Termasuk dalam sortasi buahnya,” ujarnya.

Selanjutnya buah terpilih disimpan dalam kantong kedap angin dengan waktu yang bervariasi, mulai 45-75 hari. Baru kemudian dilakukan proses pengeringan dalam kondisi glondongan, bukan pecah kulit. Terakhir akan diistirahatkan minimal satu bulan sebelum dipasarkan atau layak konsumsi.

“Rangkaian proses inilah yang membuat wine robusta memiliki rasa mirip anggur. Karena rasa manis dari red cherry (biji kopi matang) itu kita paksa masuk dalam bean saat proses tersebut,” pungkasnya.

Banyuwangi sendiri memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil, potensi kopi yang luar biasa. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi inovasi anak muda ini.

“Rasanya enak, seger. Dan menariknya, bisa dicampur dengan sirup-sirup buah. Jadi rasanya lebih berwarna. Saya cocok dengan rasanya ini,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Sejumlah varian produk kopi yang dijajakan di festival kopi dan cokelat di Kecamatan Kalibaru. (humas kab)

Festival Kopi dan Coklat itu sendiri digelar selama tiga hari, Sabtu-Senin (20-22 Maret 2021). Festival ini diikuti 85 anak muda yang memiliki ketertarikan membuka usaha, maupun yang memang telah memiliki usaha di bidang kopi dan coklat.

Selama tiga hari, mereka mendapatkan berbagai pelatihan tentang pengolahan kopi, mulai dari teknik roasting kopi, tata cara pembuatan hingga penyajiannya yang tepat.

“Sebagai rangkaian program pemulihan ekonomi di masa pandemi, festival yang dilengkapi dengan pelatihan ini kami harapkan mampu mencetak wirausahawan baru di Banyuwangi. Pelatihan yang didapat dari sini, semoga dapat dimanfaatkan oleh para peserta untuk memulai usahanya,” tutur Ipuk.

Bahkan, Banyuwangi merupakan daerah eksportir kopi. Kopi robusta dari perkebunan Banyuwangi telah dikirim ke berbagai negara. Seperti pada tahun 2020 lalu, di tengah pandemi Banyuwangi mampu mengekspor sebanyak 600 ton kopi robusta ke Swiss dan Italia.

Pemkab juga terus mendorong pengembangan usaha kopi di Banyuwangi. Telah dibuka Klinik Pusoko Wangi (Pusat Kopi Kakao Banyuwangi) sebagai pusat edukasi kopi dan kakao di Banyuwangi.

Klinik ini disediakan bagi masyarakat yang ingin belajar tentang pengolahan kopi dan kakao dari hulu hingga hilir. Kokawangi akan menjadi tutor bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha kopi dan kakao. Komunitas Kokawangi sendiri terdiri dari petani kopi, pemilik kedai kopi, sampai pecinta kopi. (rin/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar