Gaya Hidup

1001 Ketupat Jadi Gunungan di Kalimalang Ponorogo

Ponorogo (beritajatim.com) – Dalam tradisi Jawa, tepatnya di daerah Ponorogo, hari ketujuh Lebaran dinamakan Kupatan. Saat itu masyarakat bumi reyog menghidangkan ketupat untuk disantap.

Namun ada hal unik yang dilakukan warga Desa Kalimalang, Kecamatan Sukorejo Ponorogo dalam merayakannya. Sebanyak 1001 ketupat yang disusun menjadi gunungan.

”Arak-arak’an gunungan ketupat baru pertama kali diselenggarakan. Ini merupakan inisiatif para pemuda desa dalam menandai tradisi kupatan di Desa Kalimalang,” kata Kepala Desa Kalimalang Riyadi, Selasa (11/6/2019).

Mengapa jumlahnya 1001 ketupat? Riyadi menjelaskan angka tersebut memiliki makna semakin mempererat persatuan. Demi satu tujuan yakni memajukan desa Kalimalang. Ketupat tersebut dibuat warga dengan bergotong-royong.

”Jadi harapannya warga desa Kalimalang bersatu untuk memajukan desa,” katanya.

Dalam arak-arakan gunungan 1001 ketupat diarak keliling desa dengan diiringi tujuh dadak merak. Barisan paling depan diisi penari jathil dan bujangganong yang diikuti emak-emak penabuh rebana dengan melantunkan lagu salawat.

”Gunungan ketupat kemudian dipurak dan dibagikan kepada warga,” katanya.

Masih kata Riyadi, warga percaya ketupat yang telah dibacakan doa tersebut membawa berkah tersendiri bila dimakan. Dia menambahkan jika tradisi lebaran ketupat merupakan warisan turun-temurun dari pada leluhur. Utamanya Sunan Kalijaga yang kali pertama mengenalkan ketupat pada saat lebaran.

”Kita uri-uri budaya Jawa dan Islam ini untuk diketahui generasi mendatang biar tidak punah,” pungkasnya. [end/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar