Madinah (beritajatim.com) – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk resmi menyiapkan layanan penerbangan haji 2026 untuk mengangkut sedikitnya 102.502 jemaah Indonesia yang terbagi dalam 277 kelompok terbang (kloter) dari 10 embarkasi di seluruh tanah air. Dengan dukungan 15 armada pesawat, maskapai nasional ini berkomitmen menjaga ketepatan jadwal penerbangan (On-Time Performance) dan mengingatkan jemaah untuk disiplin terkait barang bawaan, terutama larangan membawa air zamzam di dalam koper bagasi.
Langkah antisipatif ini krusial guna menghindari kendala teknis di bandara yang berpotensi menghambat kepulangan jemaah ke Indonesia.
Operasional haji tahun ini secara nasional melibatkan sinergi dua maskapai besar, di mana Garuda Indonesia menangani 277 kloter, sementara Saudia Airlines mengelola 248 kloter. General Manager Garuda Jeddah, Nano Setiawan, menegaskan bahwa kesuksesan pemulangan jemaah nantinya sangat bergantung pada kedisiplinan jemaah dalam mematuhi regulasi penerbangan internasional.
“Kami sangat siap untuk melayani jemaah dengan menyiapkan sumber daya yang terbaik untuk memberikan pelayanan kepada jemaah haji Indonesia,” kata Nano saat menghadiri acara doa bersama di Daerah Kerja (Daker) Bandara, Madinah, Selasa (21/4/2026).
Tantangan Air Zamzam dan Pemeriksaan X-Ray
Faktor utama yang kerap menjadi penghambat jadwal penerbangan adalah adanya barang bawaan jemaah yang tidak sesuai ketentuan. Nano menyoroti masih banyaknya jemaah yang mencoba membawa air zamzam di dalam koper bagasi dengan berbagai cara, termasuk membungkusnya menggunakan lakban atau isolasi.
Padahal, standar keamanan penerbangan internasional melarang cairan dalam jumlah besar di bagasi pesawat demi keselamatan. Nano mengingatkan bahwa sistem pemindai (X-ray) di bandara sangat sensitif dan tetap mampu mendeteksi cairan meski telah dibalut sedemikian rupa.
“Ketepatan penerbangan itu tergantung kita semua. Terutama saat pemulangan, barang bawaan menjadi faktor krusial,” ujarnya.
“Zamzam itu tetap terdeteksi di X-ray. Kadang dikira dengan disolasi tidak ketahuan. Kalau dalam satu kloter ada 1 botol dan ditemukan di 200 koper, ada 200 botol air zamzam, itu sangat merepotkan dan bisa mengganggu jadwal penerbangan,” jelasnya.
Edukasi Melalui Ketua Kloter
Mengingat jemaah haji berasal dari berbagai latar belakang, termasuk jemaah dari berbagai daerah di Jawa Timur dan wilayah lainnya, komunikasi yang persuasif dinilai menjadi kunci. Garuda Indonesia mengandalkan peran ketua kloter untuk memberikan edukasi sejak dini kepada para jemaah mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam bagasi.
Menurut Nano, peran ketua kloter sangat penting dalam memastikan setiap anggota kelompoknya siap secara dokumen maupun barang bawaan sebelum tiba di bandara. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi pembongkaran koper di terminal yang dapat memicu keterlambatan keberangkatan pesawat.
“Peranan ketua kloter sangat penting untuk memastikan semua sudah siap, baik dokumen maupun bagasi. Edukasi kepada jemaah harus terus diperkuat,” katanya.
Melalui koordinasi intensif antara pihak maskapai, petugas PPIH, dan jemaah, Garuda Indonesia optimis seluruh rangkaian fase keberangkatan dan kepulangan haji 2026 dapat berjalan lancar. Kepatuhan terhadap aturan bagasi bukan sekadar urusan administratif, melainkan bentuk dukungan jemaah terhadap keselamatan dan kenyamanan bersama dalam perjalanan udara. [ian/aje]







