Iklan Banner Sukun
Beritajatim Foto

Kelasi Kepala Edi Siswanto di Mata Keluarga dan Tetangga di Lamongan

Rumah Kelasi Kepala (NAV) Edi Siswanto asal Dusun Sumelo, Desa Sumberaji, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Keluarga Kelasi Kepala (NAV) Edi Siswanto asal Dusun Sumelo, Desa Sumberaji, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan

Lamongan (beritajatim.com) – Satu awak KRI Nanggala yang tenggelam di utara perairan Bali berasal dari Kabupaten Lamongan yaitu Kelasi Kepala (NAV) Edi Siswanto asal Dusun Sumelo, Desa Sumberaji, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Pria kelahiran 1991 ini masuk TNI setelah lulus SMA. Dirinya menyusul keberhasilan kakaknya yang menjadi anggota TNI AD dengan diterima sebagai anggota TNI AL.

Masuk Akademi Militer (Akmil) tahun 2009. Lulus pendidikan pada 2013 dan ditempatkan di Ambon. Lalu mengambil keputusan untuk mengikuti seleksi kapal selam dan dinyatakan lulus. Ia merupakan Juru Lisna 2 KRI Nanggala 402.

Sejak kecil, Edi Siswanto ini memang sudah memiliki cita-cita sebagai perwira TNI.

KLK (NAV) Edi Susanto adalah anak kandung dari pasangan Nipan dan Sari. Sekitar usia 5 tahun, korban sudah ditinggal ayahnya menghadap sang khalik. Sedangkan belum genap 100 hari ini, ibu Edi, Sari, meninggal dunia.

Ia anak bungsu dari dua bersaudara. Ia memiliki kakak kandung, laki-laki, yakni Sersan Mayor (Serma) Sukirman (38), TNI AD yang dinas di Magelang.

Edi menikah dengan perempuan asal Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Mia Sri Ekawati. Usia pernikahannya 5 tahun, belum dikaruniai anak.

Kelasi Kepala (NAV) Edi Siswanto Semasa Hidup

Di mata keluarga, Edi Siswanto adalah orang yang baik, menjaga sopan santun, dan berbakti kepada orang tua.

Seperti yang disampaikan kakaknya, Sukirman, adiknya adalah sosok yang tidak pernah membantah dan selalu berbagi bersama dirinya. Selain baik, imbuh Sukirman, adiknya juga sosok yang murah senyum.

“Dia adik saya satu-satunya, waktu kecil ya sering mainnya dengan saya,” kata Sukirman yang hanya selisih usia 8 tahun dengan Edi ini, Senin (26/04/2021).

Bakti Edi, Sukirman bercerita, kepada sang ibu begitu dalam. Wujud baktinya sebagai anak kepada orang tuanya sungguh membanggakan. Bahkan, Edi menyuruh istrinya, Mia, agar berhenti kerja di perpajakan demi bisa menemani ibunya yang tinggal seorang diri di rumah.

“Keberadaan kapal selam hanya ada di Surabaya. Dan ketika lulus seleksi, Edi bisa dekat dengan ibu. Karena kan kapal selam adanya di Surabaya, jadi adik saya pilih biar bisa dekat ibu,” kata Sukirman agak terbata-bata.

Di satu sisi, kesedihan tampak di raut wajah Mia, istri Edi. Ia bahkan terus menitikkan air matanya karena kaget, tak kuasa menerima kabar suaminya yang telah dinyatakan gugur.

Bagi Mia, suaminya adalah sosok yang perhatian dan penyayang. Saat tidak berlayar, suaminya selalu memanfaatkan waktu maksimal dengan keluarga. Ia tak punya firasat apapun, bahwa pamitnya suami untuk melayar, ternyata merupakan patrolnya untuk selamanya.

Tak hanya itu, kabar mengenai Edi Siswanto tersebut juga memantik empati dan kesedihan para tetangganya. Semua merasa sangat kehilangan. Sosok Edi di mata tetangga terbilang warga yang baik.

“Sehari-harinya ya beliau ramah, kalau ketemu menyapa. Baik orangnya mas,” kenang Lasri, perempuan paruh baya tetangga sekitar rumah.

Hal senada juga diceritakan oleh Kastuni, tetangga Edi yang juga memiliki anak seorang tentara. Menurutnya, Edi termasuk warga yang rajin ibadah dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

“Anaknya gak banyak omong, suka bantu-bantu, dan rajin ibadah juga,” ungkap Kastuni kepada beritajatim.com saat ditemui di depan rumah.

Kisah Prajurit Edi Siswanto adalah kisah abadi, namanya akan terus dikenang oleh bangsa Indonesia, khususnya oleh warga Lamongan. Ia bukan hanya awak kapal selam, tapi juga patriot. Pahlawan kedaulatan NKRI. (riq/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar