Ekbis

Warga Lereng Wilis Kediri Mulai Ubah Kotoran Sapi Menjadi Energi Gas dan Pupuk Bio Slurury

Kediri (beritajatim.com) – Kotoran sapi atau lethong bagi sebagian orang mungkin menjijikan. Namun, limbah kotoran sapi tersebut menyimpan sejumlah manfaat karena bisa diolah menjadi pupuk organik dan diubah menjadi energi gas alternatif yang dapat digunakan untuk kompos gas memasak serta lampu penerangan.

Ada sejumlah keluarga di Dusun Karanglo, Desa Kanyoran, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri yang mulai mengembangkannya. Banyaknya peternak sapi lereng Gunung Wilis ini, dimanfaatkan warga setempat untuk mengubah kotoran sapi menjadi sumber energi alternatif.

Salah satunya Ibu Siti. Berangkat dari kegelisahannya dalam mengaloh limbah kotoran sapi, ibu rumah tangga yang satu akhirnya memilih untuk mengambil program instalasi Biogas Rumah (BIRU) yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Enery (YRE) dan Perkumpulan ‘SuaR Indonesia’ Kediri.

“Saya beternak sapi sudah 2 tahunan. Selama ini pembuangan limbah merugikan tetangga, karena rumah saya berada di daerah miring, sering kali limbah kotoran sapi merusak tanaman milik tetangga. Sebagai ibu rumah tangga dan supaya tidak beli gas, apalagi sekarang gas sulit, akhirnya memilih program ini,” kata Siti di rumahnya.

Bertempat tinggal di daerah pegunungan, sebenarnya keluarga Siti mudah untuk memperoleh kayu bakar. Tetapi energi gas dinilai lebih efektif. Siti sudah lama berkeinginan menggunakan biogas, tetapi baru kali ini bisa terwujud. “Sudah lama saya berkeinginan memakai biogas. Saya tanya-tanya, Alhamdulillah sekarang bisa,” imbuhnya.

Keluarga Siti memelihara tiga ekor sapi pedaging di belakang rumahnya. Limbah kotoran yang dihasilkan kini langsung tertampung pada bak instalasi biogas. Limbah tlethong tersebut diubah menjadi energi alternatif gas yang dapat dimanfaatkan untuk memasak. Selain itu, sisa pemanfaatan dari biogas tersebut menjadi pupuk organik slurury yang siap pakai.

Sejak dahulu masyarakat Dusun Karanglo mayoritas menekuni usaha peternakan sapi seperti halnya keluarga Siti. Dari 300 kepala keluarga (KK) yang menghuni daerah di dataran tinggi tersebut, 90 persen adalah petani sekaligus peternak sapi. Mereka membudidayakan sapi secara kovensional yakni, dikembang biakan untuk diperoleh anakannya. Melimpahnya rumput hijau serta dedauan menjadi daya dorongan tersendiri bagi masyarakat dalam mengembangkan perternakan.

Terpisah, Direktur SuaR Indonesia, Sanusi mengatakan, ada dua poin yang dapat dipetik oleh masyarakat apabila mengikuti program tersebut. Pertama, warga dapat mengolah limbah kotoran sapi yang ramah lingkungan. Kedua, mereka dapat memetik hasilnya melalui energi alternatif untuk kebutuhan sehari-hari yaitu, biogas. Bahkan, bonusnya berupa pupuk organik yang bernilai ekonomis.

Biogas sendiri merupakan teknology tepat guna(TTG) yang sebenarnya kalau di kembangkan bisa menjadi indikator inovasi desa. Sehingga melalui otonomi baik pada tingkat regulasi maupun skema dukungan pendanaannya desa sudah seharusnya mulai melihat potensi biogas ini.

“Biogasnya sendiri, dipakai untuk lampu penerangan dan memasak. Kalau misalnya keterlambatan gas 3 kilogram (kg), dengan harga kecenderungan mahal, maka biogas menjadi solusi. Kemudian untuk pupuk slururynya bisa dipakai untuk menyuburkan tanah. Kita ketahui bahwa di daerah ini penghasil durian yang terkenal. Dengan pemberian pupuk organik, tentu hasilnya jauh lebih baik lagi,” kata Sanusi.

Dari pemetaan SuaR, di Desa Kanyoran ada 300 orang peternak sapi, dengan estimasi populasi sapi mencapai 900 ekor. Berdasarkan hasil komunikasi dengan kelompok tani setempat, ada 20-24 peternak yang mengambil program instalasi biogas tersebut. Saat ini, Yayasan Rumah Enery (YRE) bareng SuaR Indonesia tengan melatih warga setempat menjadi tukang instalasi melalui pelatihan supervisi dan tukang biogas Rumah (BIRU) Type Fixed Done.

YRE memberikan dukungan peternak juga mitra perusahaan minuman susu Nestle untuk pembuatan biogas pada kelompok peternak sapi perah. Mereka telah menggarap program BIRU tersebut di seluruh unit kerja Netle di Indonesia. Untuk dilayah Jawa Timur, sudah terbangun sebanyak 8.276 unit reaktor yang tersebar mulai dari Kabupaten Malang, Kediri, Blitar sampai Ponorogo, Banyuwangi, Jombang dan Tuban.

Rujuk Supriyanto, Mitra Konstruksi Program BIRU Yayasan Rumah Enegeri mengatakan, Kediri memiliki potensi besar penerapan program ini. Selain karena jumlah peternakan sapi yang banyak, juga belum tergarap dengan maksimal. Dirinya menyebut tantangan dari penerapan Program BIRU ini karena beberapa faktor. Salah satunya, nilai investasi diawal yang cukup besar bagi peternak kalangan menengah ke bawah.

“Program kita ini memang tidak gratis, karena harus ada swadaya dari peternak. Kadang menjadi kendala dan umum sifatnya. Investasi diawal memang mahal. Namun, peternak kita ajak untuk berfikir jangka panjang ke depan, dengan biogas ini meringankan beban hidup, terutama kebutuhan energi,” jelas Rujuk Supriyanto.

Untuk mendapatkan istalasi biogas dengan volume 6 kubik, peternak harus merogoh kocek hingga Rp 11 juta. Namun, karena ada subsisi senilai Rp 3 juta, maka peternak cukup dengan mengeluarkan investasi Rp 8 juta. Dari nilai investasi tersebut, mereka akan mendapatkan manfaat gas secara gratis, dan pupuk organik (slurury) siap pakai. Sementara itu, peternak akan menemui titik kembali modal atau break event poin (BEP) selama tiga tahun.

“Setelah terbangun, satu aka mendapatkan enegeri gratis, material untuk mendapat enegeri tersedia dari kotoran. Kemudian limbah yang dikeluarkan dari rekator biogas, menjadi sumber pupuk yang siap pakai. Tinggal mengapilkasikan. Artinya dari kotoran ternak di kandang sudah tidak terbuang sama sekali. BEP-nya sekitar 3 tahun, peternak kembali modal. Setelah itu mendapatkan gas free. Tidak perlu mengeluarkan biaya untuk beli elpiji, apalagi ada risiko yang diterima mungkin kenaikan harga elpiji,” jelasnya.

Perlu diketahui, Program BIRU mulai masuk, pada akhir 2009 lalu. Program tersebut awalnya diinisasi oleh sebuah LSM dari Belanda. Kemudian, pada 2012 berubah nama menjadi YRE. Program ini berbasis memanegemen kotoran ternak, yang menjadi perubahan iklim (perubahan ozone) dengan berusaha mengurangi emisi karbon. [nm/ted].



Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim Foto

Air Terjun Telunjuk Raung

Foto-foto Longsor di Ngetos Nganjuk