Ekbis

Volatilitas Pasar Finansial Global Pekan Ini, Ini Kata Pakar

Foto ilustrasi uang rupiah

Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai volatilitas di pasar saham dan obligasi global telah menurun. Kondisi ini tak lepas dari situasi politik di Amerika Serikat yang kembali kondusif setelah Pemilu 3 November 2020.

Membaiknya pasar saham dan obligasi global juga dipicu oleh penemuan vaksin virus corona. Ini memunculkan optimisme terhadap pemulihan ekonomi yang lebih cepat. “Meskipun masih ada ancaman peningkatan kasus Covid-19 secara global, terutama dengan varian baru yang ditemukan di UK dan Afsel,” ujar Sri Mulyani dalam acara 11th Kompas100 CEO Forum yang berlangsung secara virtual, Kamis (21/1).

Dengan tekanan di pasar keuangan global mulai menurun, aliran modal mulai mengalir ke negara berkembang semakin meningkat, sehingga mendorong apresiasi terhadap nilai tukar emerging market, termasuk Indonesia.

Berikut Pandangan Ezra Nazula – Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia”

Tanya: Lonjakan tajam imbal hasil US Treasury di bulan Februari – yang sempat naik di atas 1,6% – memicu peningkatan volatilitas pasar finansial global. Dapatkah dijelaskan penyebabnya?

Seiring dengan ekspektasi pemulihan ekonomi tahun 2021 ini, imbal hasil US Treasury memang diprediksi akan mengalami kenaikan, namun memang besaran kenaikan yang terjadi saat ini cenderung terlalu cepat. Jika kita coba urai penyebabnya, kenaikan imbal hasil US Treasury ini mendapatkan dorongan besar dari kemenangan partai Demokrat pada pemilu senat negara bagian Georgia yang mempermudah jalan bagi Presiden Joe Biden untuk menambah dukungan stimulus fiskal guna membantu pemulihan ekonomi di Amerika Serikat. Gabungan dari paket stimulus baru yang diajukan oleh Biden senilai USD1,9 triliun dan vaksinasi yang berjalan lancar dan semakin terakselerasi di Amerika Serikat – dalam satu bulan sudah mencapai 67 juta dosis vaksin untuk 50 juta orang – mendorong ekspektasi normalisasi aktivitas, pemulihan ekonomi dan kenaikan inflasi yang lebih tinggi dan cepat dari perkiraan semula. Peningkatan ekspektasi inflasi otomatis tentu diikuti juga dengan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, yang pada akhirnya memicu lonjakan kenaikan imbal hasil US Treasury di bulan Februari.

Apa respons The Fed atas lonjakan imbal hasil US Treasury ini?

Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, berusaha meredam kekhawatiran pasar tentang peningkatan ekspektasi inflasi. Dalam berbagai kesempatan Powell berulang kali mengatakan bahwa bank sentral masih belum akan mengurangi dukungannya terhadap ekonomi yakni mempertahankan suku bunga pada level rendah dan melanjutkan program pembelian aset (QE) – pada laju saat ini sebesar USD120 miliar per bulan – dan memperkirakan tren inflasi rendah masih akan berlanjut bahkan mungkin dibutuhkan waktu hingga tiga tahun untuk mencapai target inflasi secara konsisten. The Fed mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi mengalami moderasi khususnya pada sektor yang paling terdampak pandemi sehingga kenaikan suku bunga dan pengurangan QE masih belum berada dalam radar The Fed.

Ezra Nazula – Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia

Jadi apakah dapat disimpulkan bahwa lonjakan imbal hasil US Treasury ini lebih seperti reaksi seketika yang bersifat sementara?

Betul, sejauh ini kami menilai bahwa kenaikan imbal hasil US Treasury mestinya lebih bersifat sementara. Walaupun secara keseluruhan inflasi AS untuk tahun ini diperkirakan naik, namun karena sektor tenaga kerja Amerika Serikat – yang memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi Amerika Serikat – masih belum pulih, maka sulit membuat angka inflasi naik secara berkesinambungan. Saat ini tingkat pengangguran masih tinggi di level 6,3% dan jika memperhitungkan ‘shadow unemployment’ (angkatan kerja yang sudah tidak mencari kerja), tingkat pengangguran bahkan lebih tinggi lagi. Kondisi ini mestinya tidak menyebabkan kenaikan yang terlalu cepat pada imbal hasil US Treasury. Kenaikan yang bertahap akan menjadi lebih konstruktif bagi pasar finansial. Tentu akan menjadi pilihan yang lebih bijak bagi investor untuk tidak mendahului bank sentral dalam mengantisipasi pengetatan moneter.

Bagaimana dampaknya terhadap pasar obligasi Indonesia?

Sebagai safe-haven asset, kenaikan imbal hasil US Treasury akan cenderung diikuti oleh kenaikan imbal hasil obligasi dunia, termasuk Indonesia. Inilah yang menjadi alasan utama penyebab koreksi atau kenaikan imbal hasil obligasi Indonesia baru-baru ini. Yang menarik adalah sepanjang tahun berjalan, imbal hasil obligasi Indonesia hanya mengalami peningkatan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan imbal hasil US Treasury. Berbeda misalnya dengan tahun 2013, ketika imbal hasil US Treasury naik pesat, imbal hasil obligasi Indonesia pada saat itu naik berlipat ganda. Kondisi ini sesungguhnya mencerminkan perbaikan fundamental Indonesia yang lebih dihargai oleh investor asing, dimana ekonomi Indonesia masih baik dan masih dalam jalur menuju pemulihan. Terlebih lagi kita melihat kenaikan US Treasury lebih dikaitkan sebagai refleksi perbaikan ekspektasi pemulihan ekonomi dan The Fed menekankan bahwa sinyal awal kenaikan inflasi tidak serta merta mendorong Fed mengubah kebijakan moneternya. Hal ini mestinya menjadi hal yang positif bagi negara berkembang, seperti Indonesia. Stabilitas pada US Treasury dan sentimen global yang lebih kondusif diperkirakan dapat mendorong penguatan pasar obligasi Indonesia.

Bagaimana peluang nilai tukar rupiah?

Lonjakan pada imbal hasil US Treasury memiliki dampak pada nilai tukar negara berkembang karena kondisi ini mendorong penguatan pada USD dan negara berkembang yang memiliki ketergantungan pada pembiayaan eksternal – seperti Indonesia – kondisinya menjadi lebih rentan. Namun jika dibandingkan dengan beberapa periode sebelumnya, indikator makro ekonomi Indonesia saat ini menunjukkan kesiapan yang jauh lebih baik dalam menghadapi volatilitas nilai tukar, seperti:

  • Defisit neraca berjalan yang jauh mengecil sebesar -0,5% terhadap PDB di tahun 2020.
  •  Credit default swap yang terus menurun.
  • Cadangan devisa yang terus naik – mencapai rekor tertinggi di bulan Februari sebesar USD139 miliar – setara dengan pembiayaan 10 bulan impor.

Kondisi ini meningkatkan kapasitas Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas Rupiah, ditambah dengan meningkatnya utang Amerika Serikat melalui penerbitan US Treasury juga akan meredakan penguatan USD. Peluang masuknya dana portfolio asing ke pasar finansial Indonesia dapat mendorong kembali apresiasi Rupiah.

Apa strategi investasi yang anda terapkan guna menghasilkan alpha di tengah kondisi saat ini?

Kami menilai bahwa imbal hasil obligasi pemerintah denominasi rupiah tenor 10 tahun yang berada di atas level 6,5% sebagai entry level yang menarik, mengingat inflasi rendah, suku bunga riil salah satu tertinggi di dunia, likuiditas domestik yang melimpah dan potensi meningkatnya arus dana asing mengingat kepemilikannya yang sudah rendah.

  • Portfolio obligasi dalam denominasi rupiah kami jaga pada durasi tactical overweight – baik bagi portofolio dengan durasi pendek ataupun menengah – memanfaatkan kebijakan akomodatif Bank Indonesia dan potensi meningkatnya arus asing mengingat kepemilikan yang sudah rendah.
  • – Portfolio obligasi dalam denominasi dolar kami jaga pada durasi tactical overweight memanfaatkan kebijakan The Fed yang masih akomodatif dan yield US Treasury yang sudah mencapai target akhir tahun 2021.

Duration management dan yield enhancement diharapkan untuk menjadi penopang kinerja portofolio di tahun ini. Selain itu kami juga terus mencermati likuiditas dan volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi akan memberikan hasil optimal dengan risiko yang terkendali.



Apa Reaksi Anda?

Komentar