Ekbis

Usir Rasa Lapar dengan Paduan Nasi Gegog dan Kopi Deplok Khas Trenggalek

Trenggalek (beritajatim.com) — Trenggalek tidak hanya terkenal dengan pantainya yang indah, tetapi juga banyak kuliner khas yang patut untuk dicoba. Salah satunya Nasi Gegog atau Sego Gegok.

Nasi gegog menjadi makanan khas Trenggalek. Menu makanan yang satu ini bisa kita jumpai di daerah kaki Gunung Wilis. Tepatnya Kecamatan Bendungan.

Tidak sulit untuk mencari kawasan Bendungan. Apabila sudah berada di Alun-alun Kota Trenggalek, tinggal menuju ke arah utara di Desa Ngares. Perjalanan dari Pendapa Trenggalek dapat ditempuh kurang lebih 30 menit.

Jalan menuju warung-warung nasi gegog lumayan berkelok, naik dan menuruni bukit. Tetapi pemandangannya cukup indah. Banyak pepohonan pinus tumbuh ijo di kanan kiri jalan.

Tiba di Kecamatan Bendungan, akan menjumpai beberapa warung dan angkringan yang menjual sego gegog. Konsep warung disini rata-rata lesehan dan sederhana. Seperti warung Mbah Wito.

Melihat komposisinya, makanan yang satu ini sangat sederhana. Bahan utamanya dari beras, cincangan bawang merah, bawang putih dan satu lagi ikan teri serta sambal.

Aneka bahan tersebut dibungkus menggunakan daun pisang kemudian dikukus dalam wadah. Tungku yang digunakan untuk menanaknya dari alat tradisional dan menggunakan bara api dari pembakaran kayu.

Tampilan nasi gegog memang terkesan sangat tradisional. Tetapi, meskipun di tengah perkembangan menu makanan modern yang menjamur, menu yang satu ini tetap eksis dan menjadi produk makanan khas daerah.

Mbah Wito telah menekuni usaha pembuatan nasi gegog satu tahun terakhir. Pada hari biasa, omzet pendapatannya tak kurang dari Rp 1 juta sehari. Namun, pada hari libur akhir pekan bisa menembus Rp 3 juta per hari.

“Alhamdulillah cukup diminati oleh pelanggan. Bahkan, istri Bupati Trenggalek Arumi Bachsin suka,” kata Wito, Sabtu (9/2/2019).

Di warung Mbah Wito, menu nasi gegog dipadupadankan dengan minuman mere jahe dan kopi deplok. Minuman ini sebagai ‘penangkal’ rasa pedas dari sambal teri yang menjadi ciri khas.

Selain terkenal dengan rasanya yang lumayan pedas, harga satu bungkus sega gegog ini cukup murah. Anda cukup mengeluarkan Rp. 2.500 atau Rp 3.000 per bungkus. Porsinya mirip satu kepel nasi kucing di angkringan. Tetapi ukuran porsi satu bungkus ini berbeda ‘sega kucing’.

Tetapi bagi pelanggan yang kurang kenyang bisa menambah satu bungkus lagi. Tetapi apabila telah habis dua sampai tiga bungkus, perut terasa sangat kenyang sekali. “Satu porsi kurang, dua porsi kekenyangan,” kata Destyan, salah satu pelanggan.

Makan sega gegog paling pas ditemani satu cangkir kopi deplok serta gorengan tahu dan tempe. Menu pendamping ini digoreng dengan bumbu khas ketumbar dan tepung pati. “Rasanya khas untuk makanan daerah,” imbuh Destyan.

Legenda Nasi Gegog dari Bekal Petani ke Ladang

Sego gegog yang melegenda di Trenggalek ternyata berasal dari makanan bekal yang dibawa oleh peladang dan petani ketika pergi berkebun atau ke sawah. Sego berarti nasi dan gegog artinya bekal atau bahasa Jawa-nya bontot.

Dulu, makanan bekal atau bontot para peladang atau petani dibungkus dengan menggunakan daun pisang atau daun jati. Sehingga rasa makanannya khas bau daun dan tentunya enak sekali.

Begitupun sega gegog ini. Makanan dengan komposisi nasi dan sambel teri bertahan dari dulu hingga sekarang ini. Para penjualnya mempertahankan ciri khas menu makanan ini dengan bungkus dari daun pisang.

Kebiasaan membungkus nasi dengan daun pisang ini kerap dilakukan warga desa. Bila nasi dimasak secara langsung bersama dengan bungkusnya maka makanan tidak gampang basi dan bontot bisa bertahan cukup lama. [nng/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar