Iklan Banner Sukun
Ekbis

Usaha UMKM Meningkat, Kominfo Tingkatkan Active Selling untuk Pelaku Usaha

Surabaya (beritajatim.com) – Salah satu yang membuat peserta Program Active Selling membludak adalah kesempatan untuk mendapatkan pendampingan dan praktek tentang tips dan trik pemasaran di dunia digital. Para peserta juga mempelajari tentang pemanfaatan aplikasi-aplikasi digital dengan baik dan maksimal dalam rangka meningkatkan omset penjualan.

Program Active Selling yang digulirkan oleh Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Ditjen Aptika) Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia, diperuntukan bagi UMKM produsen sektor pengolahan, agar setelah memproduksi produk dengan baik, selanjutnya dapat memasarkan secara lebih luas.

Salah satu peserta dari Kota Malang, Alfiani, faham bahwa media sosial dan marketplace mampu mendukung pemasaran hasil olahan UMKM secara online. Namun diantara UMKM banyak yang sekedar tahu saja, tanpa mengerti tips dan trik agar lebih laris. Mengikuti pendampingan Active Selling, ia berharap agar mendapatkan ilmu pemasaran digital untuk mengangkat omsetnya.

“Jualan online sudah saya jalankan lewat media sosial. Kalau melalui marketplace rasanya belum maksimal karena waktu saya habis untuk produksi. Kalau belajarnya bisa langsung praktek ya semoga bisa langsung mendatangkan efek. Kebetulan saya sekarang sudah membeli mesin untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi”, ungkap Afiani yang baru saja membeli seperangkat mesin agar saat mengolah rempah-rempah, aroma dan mineralnya tidak banyak terbuang.

Ibu rumah tangga pemilik usaha Sarimpon ini ingin memasarkan empon-empon instan ke berbagai kota. Dengan pendampingan untuk menerapkan aplikasi agregator dan kasir, ia berharap dapat memaksimalkan waktunya untuk menggenjot produksi.

“Untuk produk jamu siap minum dipasarkan lewat offline. Tapi yang berbentuk ekstrak saya jual lewat online. Aplikasi agregator agaknya bagus, bisa mempersingkat waktu untuk mengunggah produk langsung ke berbagai marketplace. Kalau yang aplikasi kasir kebetulan banget saya juga butuh, karena pencatatan ini kan repot ya. Kami juga kan harus menghitung harga pokok produksi, jadi aplikasinya sangat membantu”, sambungnya.

“Saya rasa yang juga dibutuhkan adalah konsultan bisnis ya agar bisnis UMKM itu terencana dengan baik”, kata Alfiani berharap UMKM-UMKM memulai bisnis dengan pondasi yang kokoh agar memiliki langkah-langkah yang terencana dan terukur.

Peserta lainya yang juga berasal dari Jawa Timur adalah Dwi Ekowati Aprilia A. Lahal. Wanita yang biasa dipanggil Dea ini memiliki produk olahan makanan ringan berupa kacang coklat, cheese chips dan manisan mangga.

Berkat sering mengikuti pelatihan dan juga bergabung dengan berbagai komunitas UMKM, produk Dea sudah siap terjun ke pasar yang lebih luas dan bersiap untuk ekspor. Dea tidak menampik bahwa UMKM produsen sering kehabisan waktu untuk urusan administrasi. Aplikasi agregator dan kasir yang mempermudah pembukuan memang sebaiknya segera diterapkan.

“Program Pendampingan Active Selling ini bagus. Banyak teman-teman UMKM yang sangat mebutuhkan pendampingan secara langsung. Saya suka ini ada aplikasi agregator dan pembukuan, kita sebagai produsen pengolahan butuh banget”, kata Dea.

Dea berpesan kepada UMKM lain agar tak bosan-bosan mencari ilmu dan mencari kawan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman dan pemasaran.

“Menjadi UMKM harus sering-sering berkumpul untuk mencari ilmu dan siap menerima masukan untuk menyempurnakan produk kita dan mendapatkan jaringan pemasaran yang lebih luas”, kata Dea.

I Nyoman Adhiarna, Direktur Ekonomi Digital Kementerian Kominfo mengapresiasi animo para pelaku usaha yang ingin belajar tentang pemasaran digital lewat Program Active Selling. Ia sadar bahwa kuota peserta yang hanya 2.600 setiap wilayah tidak akan mengcover UMKM produsen sektor pengolahan di seluruh Jawa Timur.

“Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa menjangkau seluruh UMKM (di Jawa Timur). Kami berharap agar para peserta nanti dapat berbagi ilmu dengan UMKM lainnya. Harapan dan masukan dari peserta-peserta akan kami dalami karena kami sedang menyiapkan kegiatan kelanjutan Active Selling ini”, ungkap Nyoman.

Program Active Selling di Jawa Timur menjaring 3.900 peserta. Ini melebihi target awal yang hanya 2.600 UMKM saja. Menyasar UMKM produsen sektor pengolahan pelatihan dan pendampingan digelar selama bulan Juli hingga Desember 2021 dengan maksud agar UMKM mampu meaksimalkan pemanfaatan aplikasi-aplikasi digital untuk menunjang proses bisnis yang efektif dan efisien. [way/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar