Ekbis

Tukang Juga Harus Berstandar Internasional

Surabaya (beritajatim.com) – Pekerja di sektor kesehatan dan industri besar harus punya sertifikat kompetensi. Tetati tidak hanya mereka, para tukang atau tenaga aplikator juga harus memiliki kompetensi yang terukur.

Tujuan kompetensi khusus tenaga aplikator ini tak lain untuk mempersiapkan mereka agar mampu bersaing di pasar bebas saat ini. Harapannya kompetensi mereka tak kalah dengan tenaga asing.

Ketua Umum Himpunan Aplikator Indonesia (HAPI) Mohammad Soleh mengatakan bawah sejauh ini enaga kerja aplikator atau tukang kurang mendapatkan perhatian, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Mereka cenderung dibiarkan tanpa ada pembelajaran atau pelatihan apapun. Padahal keberadaan mereka sangat penting dalam merealisasikan seluruh proyek, baik proyek negara maupun swasta yang ada di Indonesia.

“Peran mereka sangat penting untuk menentukan kualitas proyek, termasuk proyek infrastruktur yang dibangun pemerintah. Sebab pembangunan infrastruktur yang baik tidak akan lepas dari empat hal, yaitu perencanaan, pengawasan, pemilihan produk dan tenaga pembangunan,” ujar Mochammad Soleh saat acara “Penyerahan sertifikat kompetensi pemasangan pemasangan rangka atap baja ringan” di Surabaya, Kamis (23/1/2020).

Karena kurang perhatian, maka tenaga aplikator yang tersertifikasi masih sangat minim. Bahkan jumlah tenaga aplikator yang telah mendapatkan pelatihan tidak sampai 10 persen. Sementara tenaga aplikator yang telah tersertifikasi jumlahnya lebih kecil lagi, yaitu kurang dari 5 persen. “Kalau kondisi ini dibiarkan, maka kejadian ambruknya bangunan gedung seperti di SDN Gentong Pasuruan kemarin kemungkinan besar akan terjadi lagi dan lagi,” tambahnya.

Untuk itu, HAPI berupaya meningkatkan kualitas tenaga aplikator dengan menggelar sejumlah pelatihan. Di tahun ini, HAPI menargetkan bisa menggelar sebanyak 2.000 hingga 3.000 pelatihan aplikator dan menargetkan sekitar 1.000 hingga 1.500 tenaga aplikator akan tersertifikasi di seluruh Indonesia.

Saat ini, HAPI telah bekerjasama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk melakukan sertifikasi tenaga aplikator. “Kemarin kami telah melakukan sertifikasi kepada 22 orang di Surabaya dan 81 orang di Jember. Besok kami juga akan melakukan pelatihan untuk 100 tenaga aplikator di Sidoarjo, selanjutnya di Kediri, Malang dan di luar Jatim seperti di Bandung. Target kami ada sekitar 5.000 hingga 7.000 tenaga aplikator per tahun yang akan gabung di HAPI,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Seksi Pembinaan Kelembagaan Pelatihan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Jatim, Sumali mengatakan bahwa kewajiban tenaga kerja mengikuti sertifikasi profesi adalah salah satu upaya pemerintah memberikan proteksi dalam rangka pasar bebas asean. Karena dengan adanya sertifikasi tersebut, mereka akan memiliki standar mutu dan kompetensi.

Dan program sertifikasi profesi ini sebenarnya teah dimulai sejak tahun 2004. Hanya saja, hingga saat ini jumlah tenaga kerja yang tersertifikasi masih minim. “Nyatanya isu ini kurang booming, dan tidak publis. Sehingga jumlah tenaga kerja konstruksi yang tersertifiaksi masih kecil. Tetapi yang perlu ditekankan adalah ini bertujuan agar mereka memiliki bargaining, memiliki kompetensi dan menguasai pekerjaannya,” pungkas Sumali. [rea/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar