Ekbis

Trik dari Petani Porang di Bojonegoro Agar Umbinya Cepat Besar

Tanaman porang di kawasan hutan bojonegoro.

Bojonegoro (beritajatim.com) – Kemudahan akses informasi dimanfaatkan sebagian petani Porang yang ada di Kabupaten Bojonegoro untuk belajar budidaya tanaman Porang agar cepat besar. Petani Porang di Bojonegoro itu belajar menanam dari media sosial maupun pertemuan dengan petani lain.

Seperti yang dilakukan oleh Zaenal Arifin warga Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro. Dia mengaku mengenal budidaya Porang sejak 2015 lalu dari sebuah pelatihan yang diikutinya. “Pelatihan itu dilakukan lembaga pertanian NU bekerjasama dengan perhutani di Tuban,” ujarnya, Minggu (18/4/2021).

Kemudian baru 2019, keluarganya diajak oleh seorang yang sudah menanam porang di Gondang untuk mengembangkan tanaman umbi-umbian tersebut. Dia akhirnya melakukan studi banding ke Sekar dan awal 2020 mulai menanaman di lahan pribadi di kawasan Temayang.

Tanaman yang dia tanaman sebenarnya bagus, namun terserang banjir dari luapan kali pacal dan akhirnya umbinya busuk. Dari situ kemudian tanaman porang yang dia tanam dipindahkan ke Dander. “Di Kecamatan Dander saya bagi dua lokasi, Desa Growok setengah hektar dan di selatan pemandian Ngunut juga setengah hektare,” jelasnya.

Selama menanam Porang itu, dia belajar terus bagaimana agar tanamannya bisa tumbuh subur. Meski belum pernah panen, namun dia yakin bahwa tanaman Porang ini harganya mahal dan mudah untuk dibudidayakan. “November ini tanam. Kalau panen ini tergantung dari bibitnya juga,” katanya.

Dia menanam Porang dari bibit katak (buah) dan dari umbi yang besarnya sekitar 1 kilogram isi 5-10 biji. Dengan umbi yang besar, target panen bisa satu musim (enam bulan). “Kalau dari katak minimal dua musim sampai tiga musim,” lanjutnya.

Zaenal menanam Porang di kawasan hutan di Kecamatan Dander melalui kelompok petani porang dibawah naungan LMDH Ngunut. Dari situ dia juga melakukan cara budidaya Porang. Menurutnya, dari segi perawatan mudah, hanya butuh mencabuti gulma yang bisa mengganggu pettumbuhan, kedua penggemburan tanah dan memberi pupuk organik.

“Termasuk saat menanam jangan terlalu dalam, sekitar 10 cm, kalau terlalu dalam maka tumbuhnya akan lebih lama,” jelas pria yang juga seorang guru di sekolah yang ada di Kecamatan Temayang itu.

Soal penjualan umbi Porang, dia mengaku tidak terlalu sulit. “Penjualan porang ini sekarang banyak agen dari pabrik yang siap menampung dari media sosial. Mulai dari pabrik porang di Pasuruan, Madiun, Gresik, dan Mojokerto,” pungkasnya.

Sementara, harga jual umbi Porang ini sekarang sekitar Rp8 ribu sampai Rp9.500 perkilogram untuk umbi basah. Pada Agustus hingga September harganya diperkirakan akan naik lagi, bisa sampai Rp14 ribu perkilonya. “Rata-rata penjualan umbi basah. Kalau bulan Agustus – September ini lebih mahal karena kadar airnya sudah turun,” pungkasnya. [lus]


Apa Reaksi Anda?

Komentar