Ekbis

Transformasi Cerdas, Petrokimia Gresik Menatap Pasar Global

Ilustrasi

Gresik (beritajatim.com) – Bunyi sirine pabrik meraung-raung tepat pukul 07.00 WIB di Jalan Tridharma dan Jalan Ahmad Yani Gresik, Jawa Timur. Dua jalan itu merupakan akses menuju PT Petrokimia Gresik (PG). Tentu saja, jalan yang semula lengang tiba-tiba ramai oleh ribuan karyawan yang hendak masuk kerja shift pagi.

Sejak resmi beroperasi 10 Juli 1972, Petrokimia Gresik tidak henti-hentinya memproduksi pupuk serta produk inovatif lainnya untuk ketahanan pangan di tanah air. Petrokimia Gresik merupakan perusahaan ‘Solusi Agroindustri’ anggota holding Pupuk Indonesia. Kini perusahaan yang sudah bertransformasi tersebut menatap pasar global. Itu setelah dibukanya kantor perwakilan PT Pupuk Indonesia (persero) di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Berbicara soal pupuk dan bahan bakunya, sejak tahun 2000 atau tepatnya 22 tahun lalu, Petrokimia Gresik menjadi pelopor produksi pupuk majemuk NPK (Nitrogen, Pospor dan Kalium). Pengganti dari tiga pupuk sebelumnya yakni TSP (triple super phospat), ZK (Zwavelzure Kali) dan Urea. Ketiga pupuk itu sebelumnya digunakan bergantian saat petani akan melakukan musim tanam.

Setelah melalui pengembangan pada industri pupuk yang terletak di Gresik, Jawa Timur, kini Petrokimia Gresik telah mengembangkan pupuk NPK dengan kapasitas produksi 2,7 juta ton per tahun. Sebelumnya, tahun 2021 perusahaan pupuk yang berlogo seekor kerbau berwarna kuning emas dan daun hijau berujung lima itu memproduksi pupuk NPK 2,4 juta ton. Pupuk ini sangat dibutuhkan oleh petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian tanaman pangan dan hortikultura. Hal itu karena kebutuhan pupuk NPK di dalam negeri diperkirakan mencapai 11 juta ton per tahun.

Namun sayangnya bahan baku pupuk NPK yakni phospate masih impor. Ditambah lagi, permintaannya di pasar global mengalami kenaikan sangat signifikan. Kenaikan itu juga dipicu moratorium ekspor pupuk serta dampak dari perang antara Rusia dan Ukraina.

Agar pasokan bahan baku phospate tetap aman, anak usaha Pupuk Indonesia ini menjalin kerjasama dengan Jordan Phosphate Mines Co (JPMC) sejak 2010. Kerjasama ini kemudian ditindaklanjuti dengan pendirian perusahaan joint venture PT Petro Jordan Abadi (PJA) yang memproduksi asam fosfat, asam sulfat, granulated gypsum, dan purified gypsum. Keberadaan JPMC berperan menyuplai batuan phosphate untuk produksi asam fosfat (acid phosphate) di PJA dengan kapasitas 200 ribu ton per tahun.

“Manfaat dari kerjasama ini tidak hanya ketersediaan stok, tapi juga dapat memperoleh bahan baku yang lebih kompetitif,” ujar Dirut Petrokimia Gresik Dwi Satryo Annurogo melalui Sekretaris Perusahaan Yusuf Wibisono kepada beritajatim.com, Senin (28/11/2022).

Untuk menjaga bahan baku phospate, Pupuk Indonesia mereview perjanjian kerjasama dengan JPMC guna menjaga pasokan phosphate bagi produsen pupuk nasional. Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Dirut Pupuk Indonesia Bakir Pasaman dan Chairman JPMC Mohammad Thneibat di hadapan Menteri Pertanian (Mentan) Syahril Yasir Limpo di Vienna, Austria, beberapa hari lalu.

Bahan baku NPK seperti phosphate, maupun kalium (KCl), merupakan bahan baku yang memang tidak tersedia dan tidak dapat diproduksi di dalam negeri. Pasalnya, kedua jenis bahan baku pupuk ini merupakan barang tambang yang terdapat di luar negeri.

Tantangan inilah yang dihadapi oleh Petrokimia Gresik. Kendati telah disuplai 200 ribu ton asam fosfat (acid phospate) dari JPMC, jumlah tersebut tidak sebanding dengan kapasitas produksi pupuk NPK yang mencapai 2,7 juta ton per tahun.

Upaya mencari bahan baku tersebut tidak membuat perusahaan pupuk yang beroperasi di Gresik itu berdiam diri. Sebaliknya, ada rencana besar yang dilakukan Petrokimia Gresik terkait dengan ‘Milestone NPK’ atau menjadi kiblatnya pupuk majemuk di kawasan benua Asia.

Terkait dengan itu, Petrokimia Gresik melakukan kajian pembangunan pabrik asam nitrat dan amonium nitrat menggandeng PT Dahana (persero) di awal November 2022. Saat ini tim yang telah dibentuk menyusun feasibility study (FS) pembangunan pabrik asam nitrat serta amonium nitrat di area pabrik Petrokimia Gresik.

Asam nitrat dan amonium nitrat merupakan produk turunan dari pabrik amoniak. Dimana Petrokimia Gresik saat ini memiliki dua pabrik amoniak dengan kapasitas produksi 1.105.000 ton per tahun. Selain itu, tambahan pasokan gas sebesar 150 MMSCFD juga akan dimanfaatkan untuk pengembangan pabrik amoniak-urea (Amurea) III.

“Petrokimia Gresik memiliki potensi besar untuk mendirikan pabrik asam nitrat dan amonium nitrat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk berbasis nitrat,” ungkap Yusuf Wibisono.

Dukungan bahan baku ini sangat penting, mengingat Petrokimia Gresik memiliki pupuk NPK bermerek ‘Petro Nitrat’ dengan formulasi 16-16-16 yang mengandung nitrogen dalam bentuk nitrat. Pupuk ini untuk tanaman hortikultura dan buah-buahan.

Masih menurut Yusuf Wibisono, berdasarkan feasibility study (FS) kebutuhan asam nitrat dan amonium nitrat dalam negeri cukup tinggi dan diperkirakan terus meningkat. Sehingga, rencana pembangunan pabrik ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan amonium nitrat dalam negeri. Selain itu juga sebagai upaya substitusi bahan baku impor.

Asam nitrat dan amonium nitrat Petrokimia Gresik ke depan, lanjut dia, diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga pasar ekspor. Dimana amonium nitrat menjadi salah satu komoditas yang akan diperdagangkan melalui kantor perwakilan Pupuk Indonesia di Dubai yang baru-baru ini diresmikan.

“Upaya ini sekaligus menjadi komitmen Petrokimia Gresik dalam mendukung Pupuk Indonesia selaku holding, go global seperti arahan Menteri BUMN Erick Thohir,” ujar Yusuf Wibisono.

Membuka Peluang Bisnis

Pabrik PT Petrokimia Gresik anggota Holding PT Pupuk Indonesia (persero)

Transformasi yang dilakukan oleh Petrokimia Gresik yang terus mengkaji pembangunan pabrik asam nitrat dan amonium nitrat tentu didukung oleh Pupuk Indonesia. Perusahaan BUMN tersebut, Senin (31/10/2022), memperluas peluang kerja sama dan membuka perdagangan amonia, urea, NPK, serta produk lainnya di Dubai Uni Emirat Arab (UEA). Lewat ekspansi ini, dapat lebih memperluas bisnis (trading) serta memperoleh akses mendapatkan bahan baku untuk pengembangan industri pupuk nasional.

Sebagai produsen pupuk terbesar di benua Asia, keberadaan Pupuk Indonesia dengan anak usahanya Petrokimia Gresik serta sembilan perusahaan lainnya, memainkan peran penting dalam perdagangan pupuk di dunia. Tahun ini, perusahaan holding yang dibentuk tahun 2012 itu diperkirakan meraih pendapatan sebesar USD 6 miliar.

Strategi membuka perwakilan di kota Dubai UEA merupakan langkah tepat. Sebab, ada beberapa langkah strategis yang dikembangkan Pupuk Indonesia ke depan. Diantaranya, efisiensi rantai pasok (bahan baku), ketahanan pangan, dan produk yang dihasilkan ramah lingkungan.

“Adanya kantor Pupuk Indonesia di Dubai UEA menjalankan beberapa peran. Misalnya, pasokan bahan baku NPK, pemasaran, serta perdagangan internasional guna mendukung bisnis Pupuk Indonesia,” kata Dirut Pupuk Indonesia (persero) Bakir Pasaman.

Dipilihnya Dubai, lanjut dia, karena kota terbesar ini memiliki reputasi sebagai salah kota terbaik di dunia. Khususnya, dalam hal bisnis dan perdagangan internasional. Kota yang berada di semenanjung timur tengah itu lokasinya berdekatan dengan negara Eropa, seperti Rusia dan Belarusia. Juga dengan negara Afrika, seperti Maroko dan Mesir. Serta dengan negara Asia, seperti Yordania, India dan China.

Kendati demikian, Petrokimia Gresik tidak melupakan tugasnya sebagai pengawal ketahanan pangan. Sebagai perusahaan yang beroperasi di Gresik, anak usaha holding Pupuk Indonesia tersebut juga aktif mendukung program makmur yang dicanangkan Kementerian BUMN. Tujuannya, membantu petani meningkatkan produktivitas lahan untuk mendapatkan nilai hasil panen yang optimal.

Melalui tagline ‘Beyond Infinity’ yang artinya melampaui batas di usia 50 tahun, Petrokimia Gresik terus bertransformasi dan berinovasi menatap pasar global. Yakni, dengan dukungan 16 pabrik serta kapasitas produksi yang bisa diandalkan. Rinciannya, produksi pupuk urea 1,03 juta ton (dua pabrik) serta fosfat 500 ribu ton (1 pabrik). Kemudian pupuk ZA 750 ribu ton (3 pabrik), pupuk NPK/Phonska Plus 2,25 juta ton (4 pabrik), dan pupuk ZK kapasitas produksi 20 ribu ton (2 pabrik).

Tidak hanya dari sisi bisnis dan aksi korporasi dilakukan perusahaan BUMN itu. Sederet pencapaian prestasi juga telah ditorehkan. Di antaranya, penghargaan zero accident dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada 2022. Selanjutnya, dinobatkan sebagai The Best IGA 2022 pada ajang Indonesia Green Awards 2022 yang diselenggarakan The La Tofi School of CSR di Jakarta. Tidak hanya itu, melalui inovasi pemanfaatan limbah, Petrokimia Gresik juga meraih gelar AGILE -1 sebagai The Grand Champion dari Pupuk Indonesia Quality Improvement (PIQI) yang diikuti insan Pupuk Indonesia Grup di Pupuk Kujang.

Dengan berbagai rencana bisnis, aksi korporasi serta inovasi dan pencapaian selama beberapa tahun terakhir, pemerintah melalui Kementerian BUMN mendorong Petrokimia Gresik membangun pabrik asam nitrat dan amonium nitrat untuk mencukupi bahan baku agar tidak bergantung pada impor.

Selain mendukung ketahanan pangan, kehadiran pabrik kimia itu juga diharapkan memperkuat struktur industri nasional yang masih lemah di bidang petrokimia. [dny/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar