Ekbis

Transaksi Export Center Surabaya Target Capai US$ 64 juta, Ini yang dilakukan Kadin Jatim

Surabaya (beritajatim.com) – Gerak cepat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur untuk mensosialisasikan keberadaan Export Center Surabaya (ECS) sudah mulai dilaksanakan. Tahap awal, sosialisasi dilakukan secara offline dan online di Graha Kadin Jatim, yang juga dihadiri oleh Kadin Kabupaten Kota se Jatim, perwakilan Kadin Bali, NTT, NTB dan seluruh Kadin Kalimantan serta pelaku UMKM.

Seperti diketahui, pendirian pilot project ECS oleh Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan bersama Kadin Jatim ini memilki wilayah kerja Jatim, Bali, NTT, NTB dan seluruh Kalimantan. Lembaga ini didirikan dengan tujuan peningkatan kinerja ekspor dalam negeri, khususnya UMKM dalam rangka mendukung program pemulihan ekonomi nasional akibat Covid-19.

Kepala Pengelola Export Center Surabaya Tommy Kaihatu yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri Kadin Jatim mengungkapkan bahwa ECS memiliki berbagai target yang cukup besar, salah satunya adalah nilai transaksi UMKM baru ekspor mencapai US$ 64 juta pertahun.

“Target ini tidak kecil karena waktunya tinggal 10 bulan. Selain itu juga ada target lain yaitu jumlah layanan konsultasi dan pendampingan mencapai 750 layanan, pengingkatan nilai COO atau Certificate of Origin naik 5 persen serta target tambahan memunculkan UMKM baru ekspor sebanya 250 UMKM. Makanya harus gerak cepat untuk menyosialisasikannya,” ujar Tommy Kaihatu, Surabaya, Selasa (23/3/2021) petang.

Sosialisasi menjadi penting agar pelaku UMKM dan IKM mengetahui keberadaan Export Center Surabaya beserta tugasnya. Selain mendapatkan tugas memberikan layanan konsultasi dan pendampingan, ECS juga memiliki tugas untuk berikan buyer inquiry atau informasi tentang pembeli yang ada di dunia dengan harapan bisa disinergikan dengan UMKM.

“Pekerjaan Rumah kita banyak, menjahit luar dan dalam untuk mengoptimalkan potensi UMKM  ini agar bisa melakukan kegiatan ekspor. Kita harus menyiapkan UMKM kita, mengurai persoalan mereka, dari kualitas produk, pembiayaan, legalitas dan perijnan hingga persoalan SDM-nya,” terangnya.

Untuk itu, Kadin Jatim juga akan melakukan pemetaan yang nantinya dilanjutkan dengan melakukan pembinaan dan pelatihan. Pemetaan ini diperlukan agar UMKM yang mendapatkan pendampingan tidak hanya UMKM yang sama dengan UMKM yang telah mendapakan pendampingan dari sejumlah BUMN dan lembaga lain. “Agar tidak tabrakan dengan pembinaan di lembaga lain, maka data akan kita integrasikan. Ini juga untuk mempermudah dan mempercepat langkah,” tandas Tommy.

Dalam hal peningkatan produk, keberadaan ECS akan disinergikan dengan program “Rumah Kurasi” Kadin Jatim yang diinisiasi oleh Kadin kota Kediri dan Bank Indonesia wilayah Kediri. Saat ini, program Rumah Kurasi juga sudah mulai jalan dengan melakukan sertifikasi instrutur pemeriksaan produk UMKM. Harapannya nanti, jika dalam setiap daerah ada 10 kurator produk UMKM, maka peningkatan kualitas produk bisa dicapai dengan cepat.

“Dan ini juga akan menjadi solusi keterbatasan volume produksi UMKM. Kalau kualitas produk  bisa diseragamkan, maka untuk memenuhi permintaan dengan jumlah yang besar dari luar negeri bisa dengan mudah terpenuhi dari banyak UMKM,” ujarnya.

Disisi lain, program ini juga akan disinergikan dengan sejumlah Universitas yang memiliki orientasi enterpreneur seperti Universits Ciputra (UC). Di UC, ujarnya, hampir seluruh mahasiswa memiliki usaha, termasuk usaha keluarga yang selama ini sudah besar tetapi masih belum merambah pasar luar negeri.

Sementara untuk mendapatka buyer atau pembeli luar negeri, Kadin Jatim juga akan berkordinasi dengan Kemendag dan sejumlah pihak terkait data. Data, ujarnya, bisa didapat dari INA Expo melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), melalui Kedutaan Besar RI serta dari Diaspora Indonesia.

“Tantangan berikutnya adalah soal legalitas atau perijinan karena di Indonesia, masing-masing lembaga memiliki aturan masing-masing yang dititipkan ke Bea Cukai. Ini nanti kita minta kemudahan bagi UMKM yang melakukan ekspor melalui ECS. Kuncinya adalah kolaborasi dengan banyak pihak, mulai dari lembaga dan dinas terkait, universitas serta  seluruh Kadin yang masuk wilayah kerja kita. Semua potensi kita gerakkan agar tidak jalan sendiri-sendiri karena ini adalah proyek nasional,” ujar Tommy.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bagian Keuangan Sekretariat Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Tb. A. Machrodja, mengungkakan bahwa ECS adalah kelanjutan dari program FTA Center. FTA Center hanya memiliki tugas sosialisasi apa yang telah dilakukan Kemendag  agar UMKM dan pelakiu bisnis memahami tentang sejumlah kerjasama dan kebijakan yang telah dibuat bersama negara lain.

Karena UMKM sangat antusias dan banyak UMKM di Jatim mendapatkan predikat sangat baik, maka program FTA Center dilanjutkan dengan pendirian Export Center Surabaya. Dalam program ECS ini, telah ada sejumlah target yang telah ditetapkan, diantaranya jumlah layanan, transaksi yang lapor yang harus dicapai hingga penambahan jumlah UMKM baru yang MoU menembus pasar luar negeri. Untuk itulah Kemendag bekerjasama dengan Kadin Jatim, sebagai lembaga non-profit yang berkonsentrasi pada pengembangan ekonomi dan bisnis.

“Memang ini tidak mudah. Tetapi saya melihat sumbangsih Jatim terhadap ekonomi nasional tingkat dua. Ini luar biasa. Saya optimistis target bisa tercapai. ini harapan saya. Jika kemudian tidak tercapai ini bisa dievaluasi karena ini pilot project. Apa yang kurang, nanti kita perbaiki bersama,” pungkasnya.[rea/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar