Ekbis

Tidak ada Pendampingan, Petani Porang di Bojonegoro Belajar Otodidak

Tanaman porang di kawasan hutan bojonegoro.

Bojonegoro (beritajatim.com) – Ratusan hektar lahan hutan di Kabupaten Bojonegoro bertambah fungsi menjadi lahan produktif. Lahan hutan itu dibuka untuk pertanian bagi masyarakat sekitar hutan.

Masifnya pembukaan hutan untuk lahan pertanian setelah munculnya varietas Porang yang sedang naik daun. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro mencatat ada 746,55 hektar.

Ratusan hektar lahan hutan diwilayah KPH Bojonegoro dan KPH Padangan yang sebagian besar berada di selatan Bojonegoro itu dimanfaatkan untuk menanam tanaman yang tergolong umbi-umbian.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro sendiri mengaku tidak melakukan kerja sama dengan petani porang, baik dari segi pendidikan dalam pengolahan tanaman, pembibitan, hingga distribusi penjualan.

“Sejauh ini kami belum tahu hasil panen porang itu dijual kemana,” ujar Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Imam Nurhamid.

Petani Porang di Bojonegoro Belajar Otodidak

Sementara salah seorang petani porang asal Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro Zaenal Arifin mengatakan, Porang memang tanaman liar yang banyak tumbuh di wilayah hutan. Termasuk di Kabupaten Bojonegoro.

“Di Bojonegoro banyak tumbuh liar di daerah sekitar Gunung Pandan (Kecamatan Sekar) yang berbatasan dengan Kabupaten Madiun dan Nganjuk,” ujarnya, Minggu (18/4/2021).

Tanaman liar yang memiliki nama latin Amorphophallus Muelleri Blume itu sekarang mulai dikembangkan dan harganya cukup tinggi. Harga jual umbi Porang ini sekarang sekitar Rp8 ribu sampai Rp9.500 perkilogram untuk umbi basah.

Pada Agustus hingga September harganya akan naik lagi, bisa sampai Rp14 ribu perkilonya. “Rata-rata penjualan umbi basah. Kalau bulan Agustus – September ini lebih mahal karena kadar airnya sudah turun,” pungkasnya. [lus]


Apa Reaksi Anda?

Komentar