Iklan Banner Sukun
Ekbis

Terpuruk Saat Pandemi, Justru Temukan Produk Unggulan Karena Jadi Korban

Surabaya (beritajatim.com) – Payupayu yang dalam bahasa Jawa Timuran bearti laku keras menjadi brand sekaligus doa bagi Deny Wijayanti. Tak hanya mereknya saja yang unik, produk yang dijualnya juga punya sejarah unik.

“Siapa sih yang tak ingin dagangannya laku keras. Tentunya doa dan usahanya harus lebih keras lagi. Jadi saya selipkan saja doanya di merek. Setiap orang yang melihat produk saya pasti akan bilang, payu…payu,” ujar wanita kelahiran 6 Mei 1979 itu tersenyum lebar.

Seunik nama produknya, perjalanan Deny dalam menemukan produk-produk jualannya pun tak kalah uniknya. Seperti wader krispy yang jadi andalan pertama di Payupayu. Wanita paruh baya itu menemukan menu andalannya secara tidak sengaja, yakni saat dirinya menjadi relawan di lombok pada tahun 2018.

“Pas waktu gempa Lombok saya ikut jadi relawan. Disana saya membuat ikan wader kering agar ibu dan anak-anak korban gempa tetap mendapatkan asupan gizi yang seimbang,” beber Deny.

Ternyata wader krispy buatannya tak hanya disukai para pengungsi gempa Lombok, tetapi juga teman sesama relawannya. Hingga salah seorang relawan mencetuskan ide agar Deny membuka usaha wader crispy.

“Sepulang dari Lombok, teman-teman relawan juga banyak yang pesan. Jadilah saya akhirnya menjualnya dengan promosi dari mulut ke mulut dan teman-teman sering berseloroh payu..payu..rek. lalu saya pikir kenapa tidak dijadikan merek saja dan jadilah Payupayu ini,” kenang Deny yang tampak selalu energik itu.

Tetapi untuk mendapatkan kemasan yang menarik serta rasa yang konsisten perjalanan Deny tak semudah menemukan merek dagangnya. Deny pun mulai mengikuti berbagai pelatihan UMKM gratis yang ditawarkan oleh perusahaan swasta hingga pelatihan dari pemerintah Surabaya seperti program Pahlawan Ekonomi Surabaya.

Sekitar tahun 2019 omset Payupayu terus meningkat. Namun semangatnya menjadi relawan kemanusian masih tetap berkobar. Salah satunya dengan ikut terjun membuatkan cookies tanpa gluten untuk anak-anak down sindrome. Dengan program Seribu Cookies Fo Happiness yang digelar oleh yayasan Journey Home Foundation, Deny pun menemukan menu barunya yakni cookies.

Tak puas dengan cookies, ibu satu anak ini pun membuat Wader 2 rasa, original dan salted egg telur asin hingga berbagai macam sambal mulai sambal bawang, wader, cumi, sambal tabur rumput laut, sambal klotok yang daya simpannya hingga 1 tahun

“2019 pengembangan produk Payupayu sangat pesat hingga akhirnya Covid-19 membuat omset kami merosot tajam, sampai tak ada pesanan,” ucapnya sendu.

Pandemi tak hanya produksi menurun tetapi konsentrasinya pun jadi terganggu. Karena bapak kandungnya juga divonis menderita darah tinggi dan gagal ginjal sehingga mengharuskannya bolak-balik ke rumah sakit untuk cuci darah.

“Bapak banyak sekali pantangannya, tidak boleh mengkonsumsi daging ayam, daging sapi serta sejumlah pantangan lainnya yang tak boleh dilanggar. Demi memenuhi gizi saya disarankan mengganti protein bapak dengan mengkonsumsi iwak kutuk (ikan gabus-red). Tetapi bapak saya sering tidak mau makan karena bosan olahannya hanya dikukus,” papar Deny yang kini memiliki omset hingga Rp 30 per bulan itu.

Akhirnya Deny punya ide membuat abon iwak kutuk agar sang ayah tak jenuh. Dan ternyata kini menjadi salah satu varian andalan di Payupayu.

“Kemarin saya juga kena Covid-19 dan akhirnya harus mengkonsumsi minuman sehat setiap hari yakni susu dan kini susu pasteurisasi yang saya kemas dengan berbagai rasa pun menjadi produk terbaru kami. Jadi semua yang terjadi dalam hidup saya, saya jadikan produk terbaru,” ungkapnya terkekeh.

Keberadaan produk Payupayu yang beragam dan wader serta sambalnya yang tahan setahun membuat dirinya pun sudah mengeksport produk olahannya hingga ke Eropa. Pintu masuknya memulai eksport berawal dari diundangnya Deny dalam pameran UMKM internasional yang digagas oleh BRI dan Mall Indonesia.

“Waktu itu belum pandemi, dan saya mendapatkan cukup banyak pesanan dari luar negeri. Dan tahun lalu saya juga masuk dalam nominator BRILianpreneurship BRI dan juga ikut pameran secara online,” akunya.

Kini saat pandemi mulai mereda dan bantuan BRI merangkul para UMKM untuk bangkit membuat Payupayu bisa bangkit lagi.[rea]

 

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar