Ekbis

Ternak Sehat, Produksi pun Meningkat

Petugas kandang mengumpulkan telur yang dilakukan dua kali

Lampung (beritajatim.com) – Harus mandi, kata Rony Agustian (41), kepada kami sebelum memasuki peternakan miliknya. Padahal, kami sudah mandi saat menuju peternakan. Menurut Rony, semua orang yang akan kontak dengan ayam ternaknya harus dalam keadaan steril, tanpa kecuali.

Tidak cuma mandi, semua orang, baik karyawan apalagi tamu yang akan berkunjung juga barus mengenakan baju seragam yang sudah dipersiapkan pihak peternakan. Setelah mandi, kami pun harus berganti pakaian. Alas kaki yang kami gunakan pun harus dilepas diganti sandal yang juga telah disediakan.

Masih belum cukup, ketika melewati pintu masuk ‘zona hijau’ kami harus disemprot cairan anti kuman sekujur tubuh, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Untuk naik ke kandang pun, alas kaki harus kembali diganti yang khusus digunakan di area kandang. Hanya dibatasi satu orang dari kami yang boleh naik didampingi petugas kandang.

Kandang yang tertata dan kebersihan yang terjaga

Rony, merupakan pemilik Margaraya Farm, peternakan Ayam Petelur yang berada di Desa Rulung Raya, Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Ayam ternaknya mencapai 45 ribu ekor, yang dibagi dua lokasi. Masing-masing lokasi setidaknya 20 ribu ekor ayam yang dibagi per kandang sekitar 4.000 ekor. Ukuran masing-masing kandang 7,5 x 60 meter. Rony total memiliki 16 karyawan untuk dua lokasi peternakan miliknya.

Menurut Rony, pihaknya mulai melakukan biosecurity 3-zona dalam peternakan ketika mulai menerapkan sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV), sebuah penilaian pemenuhan persyaratan kelayakan dasar sistem jaminan keamanan pangan dalam aspek higiene-sanitasi pada unit usaha pangan asal hewan.

Selain zona hijau, yang merupakan area steril, Rony menjelaskan, ada pula zona kuning dan zona merah. Zona Kuning untuk karyawan dan orang yang berkepentingan dengan peternakan tanpa masuk ke zona hijau. Untuk tamu yang tidak berkepentingan tetap berada zona merah.

Dia menjelaskan, untuk menerapkan zonasi memerlukan penyesuaian. Desain kandang pun harus diubah untuk memenuhi persyaratan NKV. Begitu juga dengan kebersihan kandang dan kebiasaan karyawan. “Dahulu karyawan kami, kadang belum mandi. Sekarang harus mandi dulu dan juga ganti baju. Meski di rumah sudah mandi, begitu sampai kandang harus mandi lagi, ganti baju lagi,” ujar Rony ditemui di peternakannya, beberapa waktu lalu.

Rony Agustian, pemilik peternakan

Tujuan mensterilkan sebelum memasuki zona hijau atau kandang untuk menghindari cemaran dari luar. Karena pihaknya harus meminimalisasi ada bakteri yang dibawa masuk ke area kandang.

Rony mengaku setelah dua bulan menerapkan NKV produksi telurnya meningkat. Satu hari bisa menghasilkan 2 ton telur, jumlah yang selama ini tidak pernah dicapainya sebelum menerapkan NKV. Sayangnya Rony tidak menyebut angka pasti produksi telur sebelumnya.

Rony hanya mengatakan, kini peternakannya juga jadi lebih sehat. Angka kematian ternak bisa ditekan. “Kalau dahulu hampir setiap hari ada ayam mati. Kalau sekarang selama beberapa hari belum ditemukan ayam mati,” ujar Rony.

Sementara Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita, penerapan Biosecurity 3-zona sangat penting karena dapat mengendalikan penggunaan antimikroba dengan praktik-praktik manajemen yang baik. Penerapan Biosecurity 3-zona juga terbukti dapat mencegah dan mengurangi risiko terjadinya penyakit infeksi. Hal ini dapat meningkatkan keuntungan bagi para peternak karena akan mengurangi resiko kematian khususnya dari virus flu burung.

Menurutnya, penerapan Biosecurity 3-zona secara ketat sehingga dapat meningkatkan kualitas dan produksi protein hewani, meningkatkan kesejahteraan peternak, dan mendukung ekspor produk unggas. Berdasarkan data populasi ayam petelur (layer) komersil tahun 2019 per bulan berkisar antara 226 juta – 248 juta ekor dengan rataan populasi layer komersil umur produktif (19-88 minggu) sebanyak 167 juta.

Sedangkan perkembangan produksi dan kebutuhan telur konsumsi berdasarkan jumlah penduduk dan konsumsi perkapita pertahun yaitu: Tahun 2018 sebanyak 2,57 juta ton (rataan perbulan sebesar 213.755 ton) dengan kebutuhan telur sebesar 1,77 juta ton (rataan perbulan sebesar 147.201 ton), sehingga terdapat kelebihan produksi telur tahun 2018 sebesar 798.654 ton. Tahun 2019 potensi produksi telur sebanyak 2,88 juta ton (rataan perbulan sebesar 239.884 ton) dengan kebutuhan telur sebesar 1,82 juta ton.

Sebelum masuk zona hijau disemprot cairan antikuman

Ketut menjelaskan kelebihan produksi telur ini harus dapat diolah menjadi bahan baku industri agar produktifitas terus meningkat. “Usaha peternak layer memiliki masa depan yang cerah dan potensi pengembangannya sangat baik” ujar Ketut optimis disela-sela Sarasehan Peternak Layer bersama FAO Indonesia sekaligus Perayaan HUT ke-1 Pinsar Petelur Nasional (PPN) di Kecamatan Probolinggo, Lampung, Kamis (20/6/2019) lalu.

Dalam kesempatan itu, Ketut juga menyerahkan sertifikat NKV kepada 6 peternakan ayam petelur unggulan Lampung. Sertifikasi NKV sangat penting bagi dalam melakukan eksportasi yang mana aspek keamanan pangan menjadi persyaratan utama. Salah satu penerima sertifikat NKV adalah Rony Agustian, peternak yang sempat kami kunjungi.

Ketut menambahkan, saat ini pengendalian virus burung difokuskan pada peningkatan biosecurity, pencegahan penyakit melalui vaksinasi, dan sertifikasi kompartemen bebas flu burung. Adanya sertifikat bebas tersebut membuat produk unggas Indonesia dapat diekspor ke beberapa negara

“Saya berharap PPN, dapat bersinergi dengan pemerintah dalam mendukung dunia perunggasan nasional kedepan sehingga memberikan imbas positif bagi kemajuan pembangunan peternakan” tutur Ketut.

Terpisah, Chief Technical Adviser Unit Khusus Badan Pangan dan Pertanian PBB di Indonesia (FAO ECTAD) , Luuk Schoonman mengatakan hasil kajian FAO menunjukan bahwa implementasi biosecurity 3-zona secara rutin dan konsisten di peternakan ayam petelur secara signifikan menurunkan penggunaan antibiotik 40 persen dan disinfektan 30 persen.

“Biosecurity 3-zona harus menjadi standar di peternakan ayam petelur dalam menghasilkan produksi yang maksimal dan bebas dari penyakit zoonosa (infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan manusia atau sebaliknya, red) khususnya flu burung,” katanya. [hen/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar