Iklan Banner Sukun
Ekbis

Tembakau Rusak Tak Ada yang Peduli, Petani Panekan Magetan Merana

Salah satu petani tembakau di Desa Bedagung, Panekan, Magetan yang tanamannya rusak akibat busuk akar batang dan daun layu, Jumat (5/8/2022)

Magetan (beritajatim.com) – Petani tembakau di Desa Bedagung, Panekan, Magetan, Jawa Timur, terpaksa gigit jari. Tanaman tembakau jenis mriwis kuning mereka rusak akibat munus. Mulai akar yang membusuk, menjalar ke batang hingga berakibat daun layu. Tanaman pun berujung mati.

Salah satunya milik Bejo Eko Winarto, warga setempat. Sekitar seperempat lebih lahan tembakau miliknya munus. Sebagian daun mengering dan yang masih hijau justru layu. Dia mengungkapkan panen kali ini bakal merosot produktivitasnya ditambah harga jual turun akibat daun jadi tipis.

“Total empat hektar yang mengalami kerusakan. Kalau di sini mayoritas sudah rusak karena akar membusuk, batang ikut membusuk. Ditandai dengan daunnya layu. Sehingga, kami.ambil saja daun yang kering, meski laku dijual, tapi kan bobotnya tidak ada karena daunnya tipis,” kata Bejo saat ditemui di kebunnya, Jumat (5/8/2022).


Salah satu petani tembakau di Desa Bedagung, Panekan, Magetan yang tanamannya rusak akibat busuk akar batang dan daun layu, Jumat (5/8/2022)

Bejo menuturkan harga per kilogram daun tembakau basah kini hanya Rp5.000 padahal jika bagus hingga Rp7.000. Mereka jarang menjual tembakau kering rajang karena tak punya alat. Sehingga, saat musim panen, daun tembakau langsung dibeli oleh pengepul dan dibawa ke Temanggung untuk dirajang.

Salah satu petani tembakau di Desa Bedagung, Panekan, Magetan yang tanamannya rusak akibat busuk akar batang dan daun layu, Jumat (5/8/2022)

Karenanya, keuntungannya terancam turun. Dari pendapatan sebelumnya bisa mencapai lebih dari Rp8 juta, kini hanya mencapai Rp7 juta saja. Itu pun mepet dengan modal hingga biaya perawatan dan pemeliharaan tanaman mencapai Rp5 juta.

“Mau bagaimana lagi, kami hanya bisa pasrah dengan keadaan. Sementara kami belum mengajukan proposal ke dinas terkait untuk bantuan bibit untuk tanam lagi, dan apa sebab dari rusaknya tanaman kami juga belum dicek oleh dinas terkait,” kata Bejo.

Karena prospek menanam tembakau tak bagus, banyak petani desa setempat yang memilih menanam sayuran. Petani tembakau merasa tak dipedulikan, padahal Pemkab Magetan dapat DBHCHT senilai Rp21,2 miliar. [fiq/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar