Iklan Banner Sukun
Ekbis

Tangani Sapi Terinfeksi PMK, Petugas Wajib Rajin Mandi

Penyembelihan sapi dalam Idul Adha di Jember tahun lalu.

Jember (beritajatim.com) – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak sapi di Jawa Timur ternyata membingungkan petugas Dinas Peternakan Jember. Penularan virus yang cepat dan belum ditemukannya obat penyembuh membuat mereka harus bekerja keras menangani agar tak ada wabah di Jember.

Sekretaris Dinas Peternakan Jember Sugiyarto pusing tujuh keliling, karena populasi sapi di Jember cukup besar, yakni 270 ribu ekor. “Penyebaran penyakit PMK yang di udara saja bisa menyebar 10 kilometer dari satu ternak ke ternak yang lain membuat kami sangat kebingungan. Kalau terjadi outbreak (wabah), luar biasa,” katanya, ditulis Kamis (19/5/2022).

“Kalau outbreak, petugas kami di lapangan hanya 95 orang. Kalau di Jember misalnya sampai terjadi 20 ribu kasus dari 270 ribu ternak yang ada, bagaimana kondisi kita? Kami tidak mampu,” kata Sugiyarto.

Obat untuk virus PMK belum ditemukan. “Yang bisa kita lakukan adalah mengobati simtomatis. Tapi obat membunuh virusnya belum ada,” kata Sugiyarto.

Vaksinasi bisa saja dilakukan. “Tapi vaksinnya belum ada sekarang. Karena selama seratus tahun, adanya virus hanya satu subtipe, subtipe O. Sekarang ada tujuh subtipe. Kalau Indonesia mau membuat vaksin, harus diketahui subtipenya apa, dan pakai pengujian akurasinya seberapa besar. Artinya kalau vaksinasi, harus vaksin impor dalam waktu dekat. Itu pun harus disesuaikan dengan subtipe di Indonesia. Sama dengan Covid,” kata Sugiyarto.

Saat ini, kasus PMK ditemukan di dua desa di Jember. Dinas Peternakan Jember sudah menggerakkan petugas pusat kesehatan hewan untuk melokalisir lokasi adanya suspek PMK. “Tapi alhamdulillah sampai hari ini belum ada laporan pertambahan dugaan kasus lainnya,” kata Sugiyarto.

Namun itu bukan berarti Sugiyarto bisa tidur nyenyak. “Tiga hari hujan kami sangat resah, karena adanya hujan pada musim pancaroba, daya tahan tubuh ternak menurun. Hawa yang dingin membuat virus lebih lama bertahan di udara. Ini kan semakin memudahkan penyebaran ke ternak lain,” katanya.

Penanganan PMK tak mudah. “Untuk penanganan dari kandang ke kandang, kami tidak bisa melibatkan banyak orang, karena penularannya bukan hanya lewat udara, tapi juga lewat media lain yakni petugas, termasuk alat dan kendaraan,” kata Sugiyarto.

“Petugas kalau masuk ke kandang sapi yang terinfeksi harus mandi. Bayangkan kalau dalam satu hari ada sepuluh kandang. Harus mandi sepuluh kali. Tapi ini harus dilakukan agar tidak outbreak,” kata Sugiyarto.

“Makanya mumpung masih sedikit, kami lokalisir. Ini hal baru dan kami belajar cara menanganinya. Yang ada sedikit ini kami sembuhkan dan kami kembalikan pada kondisi normal,” kata Sugiyarto. [wir/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar