Ekbis

Sukses Tanam Pisang Cavendish, Petani Muda Lamongan Raup Laba Ratusan Juta

Yanwari Mubarok saat mengecek kondisi buah pisang cavendish di lahannya

Lamongan (beritajatim.com) – Pisang cavendish menjadi buah primadona untuk dikonsumsi masyarakat saat pandemi. Pasalnya, jenis pisang yang satu ini memiliki beragam manfaat dan diyakini mampu meningkatkan imun tubuh di saat mewabahnya Covid-19 seperti saat ini.

Seiring dengan meningkatnya konsumsi pisang cavendish tersebut, saat ini bisnis menanam pisang cavendish juga dianggap mampu mengembalikan perekonomian masyarakat yang terkena dampak pandemi Covid-19.

Yanwari Mubarok, seorang petani muda asal Desa Bulubrangsi Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan ini sukses meraup laba yang terbilang sangat besar dari hasil menanam pisang cavendishnya. Dalam sekali panen, pria yang akrab disapa Ari tersebut mengaku, bahwa pohon pisang yang ditanamnya pada lahan seluas satu hektar itu mampu menghasilkan laba kisaran Rp 250 juta.

Kendati demikian, hasil keuntungan itu bukanlah suatu hal yang instan. Ari telah melalui proses yang sedemikian rupa hingga kegigihannya itu membuahkan hasil yang manis. Bagaimana tidak, di saat ia memulai bisnisnya, kala itu sebagian besar masyarakat khususnya Lamongan, masih ragu untuk menanam pisang cavendish.

Bahkan, keraguan tersebut juga sempat menghinggapi Ari saat awal menanam cavendish, tepatnya sekitar dua tahun yang lalu. “Saya sempat punya pemikiran itu, tetapi setelah saya fikir-fikir, daripada saya tidak melakukan apa-apa dan hanya jadi penonton, mending saya meyakinkan diri saya untuk terus berikhtiyar dan produktif. Saya tidak akan membiarkan paradigma pesimis itu menguasai diri saya,” terang Ari, Kamis (5/8/2021).

Lebih lanjut, Ari menyampaikan, bahwa sebenarnya tanaman cavendish itu telah lama dikembangkan, hanya saja kemungkinan cara bertaninya masih konvensional dan informasi yang didapatkan pun tidak seluas hari ini, sehingga waktu itu banyak petani yang belum banyak tertarik untuk menanamnya.

“Saya tertarik untuk menanam Cavendish ini semenjak awal pandemi dulu, karena saat pandemi kita harus dibatasi untuk beraktifitas, jaga jarak dan tidak boleh berkerumun. Sehingga saya memutuskan untuk berkebun, dan sebelum saya menanam, saya berfikir untuk mengambil tanaman yang memiliki prospek yang bagus, akhirnya ketemu dengan pisang cavendish ini,” ungkap Ari kepada beritajatim.com

Yanwari Mubarok saat melakukan perawatan terhadap bibit-bibit pisang yang siap untuk dijual.

Selain memiliki prospek yang bagus, lanjut Ari, pisang cavendish termasuk tanaman yang mudah, masalah pupuknya juga tidak terlalu ribet. “Pisang cavendish ini menurut saya yang penting kebutuhan airnya mencukupi. Selain itu, kita juga harus memahami jarak tanam yang baik, serta jadwal kapan harus memupuk, melakukan penjarangan, dan lain-lain. Intinya sih sebenarnya tidak terlalu ribet,” sambungnya.

Tak hanya itu, Ari juga memberikan tips agar para petani pisang cavendish nantinya bisa sukses. Menurutnya, supaya petani tidak kewalahan saat panen, para petani harus memahami tentang manajemen waktu dan pola tanam yang baik, khususnya bagi mereka yang memiliki lahan luas.

“Bagi yang memiliki lahan luas, manajemen pola tanam yang baik ini sangat diperlukan, sehendaknya tiap petani tidak lebih dulu menanam pisang secara serentak. Karena menanam pisang cavendish itu berbeda dengan padi yang harus ditanam serentak. Jadi nanti ada waktu-waktunya petani menanam,” jelasnya.

Terkait penjualannya, Ari membeberkan, selain didistribusikan ke sejumlah pasar buah grosir, buah-buah pisang yang ia panen tersebut juga didistribusikan ke modern market. “Untuk pasar sih sebenarnya luas dan peluangnya bagus, biasanya kami menawarkannya secara online melalui sosial media, ada yang ke pasar grosir dan modern market, kadang ada juga yang ke pasar tradisional, tergantung kriterianya,” bebernya.

Dari satu pohon pisang, rata-rata bisa diperoleh buah pisang seberat 25 sampai 30 kilogram per tandannya. Tetapi jika pemupukannya bagus dan perawatannya ekstra, imbuh Ari, satu tandannya bisa menghasilkan 40 sampai 50 kilogram. Untuk harganya pun bervariasi, tergantung kriteria, grade dan kualitasnya.

“Kadang ada yang dijual langsung dengan sistem root atau langsung borongan tandan, ada juga yang masuk dalam kemasan box dengan berat bersih 13 kg di tiap boxnya. Harganya pun variatif, tergantung grade dan kualitasnya, ada A, B, dan C,” imbuhnya.

Berdasarkan pantauan beritajatim.com, selain menjual buah pisang Cavendish, Ari juga membudidayakan bibit pisang dengan sistem tunas, meliputi jenis cavendish, raja dan mas kirana. Selain untuk ditanam sendiri, Ari mengaku, bahwa bibit-bibit pisang tersebut juga dijual kepada para petani dengan harga berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per bibitnya.

Untuk analisa usaha produksi sampai panennya, dalam satu hektare lahan pisang cavendish rata-rata membutuhkan Rp 80 sampai Rp 90 juta. Dengan harga jual buah pisang rata-rata sekitar Rp 100 ribu per tandan, satu hektare bisa menghasilkan Rp 250 juta, belum ditambahkan laba hasil penjualan bibit hasil budidaya yang dilakukan oleh Ari.

Terakhir, Ari juga menaruh harapan besar terhadap pertanian ke depan, khususnya kepada generasi milenial. Menurutnya, salah satu faktor penentu kemajuan pertanian di masa mendatang adalah pengembangan usaha agribisnis yang dilakukan oleh generasi milenial.

“Saya sebenarnya juga masih tahap belajar, saya senang jika para pemuda terus belajar dan sharing bersama tentang pengembangan pertanian. Kepada para pemuda generasi milenial, jangan pernah takut untuk bertani. Dengan inovasi dan gagasan kreatif yang dimiliki oleh para pemuda, yakinlah hal itu akan bermanfaat bagi kelangsungan pertanian nantinya,” tuturnya.[riq/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar