Ekbis

Sepi Job Manggung, Penyanyi Dangdut Mojokerto Sukses di Usaha Sepatu dan Sandal

Inka Ceples (31) saat mengecek sepatu dan sandal yang dipesan customer.

Mojokerto (beritajatim.com) – Di tengah pandemi Covid-19, banyak dampak yang dirasakan masyarakat di berbagai sektor. Meski sepi job nyanyi, namun usaha sang suami justru berkembang dengan omset mencapai Rp30 juta setiap hari saat bulan ramadan lalu.

Ialah Inka Ceples (31). Penyanyi dangdut asal Desa Brangkal Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini, mengaku tak ada job saat pandemi Covid-19 melanda Maret lalu. “Tidak ada job sama sekali, kan dilarang. Sebelum Covid-19, sehari biasa 3 sampai 4 tempat,” ungkapnya, Sabtu (24/10/2020).

Bahkan di hari Sabtu-Minggu, bisa tujuh tempat, terjauh manggung di Gresik. Masih kata Inka, karena tak ada pemasukan dari pekerjaan yang sudah dilakoni sejak lama yakni penyanyi dangdut, ia dan suami Ali Muhajir (36) pun berpikir untuk mengembangkan bisnis sang suami. Yakni supplier sepatu dan sandal.

“Awalnya, saya supplier untuk 4 orang teman yang jualan online sandal dan sepatu 3 tahun lalu. Satu teman saya itu sukses, sampai bisa beli mobil. Tahun ketiga, November 2019 saya jual sandal, sampai puasa kemarin,” kata Muhajir.

Di awal puasa, customer yang order di tempatnya setiap hari antara 300 sampai 400 pasang. Namun di minggu kedua puasa, permintaan melonjak hingga 2.000 sampai 3.000 pasang tiap hari. Dalam sehari omzet mencapai Rp30 juta.

“Ramainya ya pas bulan puasa kemarin itu, awal corona bulan Maret laku hanya 100 kodi tiap hari. Saya supplier, tapi saya juga perajin. Ada 10 lebih karyawan yang membantu saya, untuk pengerjaan sepatu dan sandal ada di rumah Karangkedawang. Pandemi tidak ada pengaruh bagi saya,” ujarnya.

Muhajir menjelaskan, ia merupakan warga Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko, sementara sang istri warga Desa Brangkal, Kecamatan Sooko. Keduanya menikah karena sama-sama terjun di dunia hiburan.

“Saya kan dulu pemain keyboard, istri saya penyanyi dangdut. Selama hampir 15 tahun saya ikut di acara salah satu TV lokal Jawa Timur. Untuk usaha sandal dan sepatu ini, di desa saya mayoritas perajin sandal dan sepatu. Meski bapak bukan perajin sepatu dan sandal tapi saya bisa membuat (sandan dan sepatu),” ujarnya.

Menurutnya, sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia sudah membantu tetangganya membuat sandal dan sepatu. Dari situ, sekitar lima tahun lalu atau setelah menikah dengan sang istri ia mendirikan usaha serupa.

“Saya pernah usaha rongsokan (bahan bekas, red), bangkrut. Usaha ini juga pernah bangkrut, sepatu kulit saat itu rugi karena persaingan harga. Supplier ke toko juga rugi, akhirnya ikut teman yakni supplier ke teman yang jualan online. Rumah yang di Karang Kedawang sebagai tempat pembuatan sandal dan sepatu,” tuturnya.

Sementara sandal dan sepatu yang sudah jadi dan siap dikemas dibawa ke rumahnya di Desa Brangkal. Dibantu dua saudaranya, ia melayani customer secara online yang memesan sandal dan sepatu buatannya. Pesanan menjangkau hingga pelosok nusantara, ini karena dilakukan secara online.

“Melayani online baru bulan puasa 2020 kemarin, sebelumnya hanya supplier. Tapi memang untuk online, kita harus ready stok. Kita melayani penjualan eceran, bisa beli banyak nanti ada potongan harga. Kalau disini harga mulai dari Rp45 ribu sampai Rp120 ribu,” jelasnya.

Muhajir menambahkan, dari berbeda jenis sepatu dan sandal yang dibuat, sandal gunung yang masih diminati. Meski model dan tahun ke tahun sama, namun customer masih banyak yang mencari. Selain sandal gunung, juga ada sepatu sport, sepatu boat, sandal flip flop.

“Permintaan satu hari kurang lebih 100 pasang. Pas event di online, pasti ramai. Tidak pernah sampai tidak ada pesanan, sepi itu 70 pasang sehari. Memang khusus sandal dan sepatu cowok karena sandal dan sepatu cewek itu dua sampai tiga bulan harus ganti model,” tambah Inka.

Meski diakui, sandal dan sepatu cowok juga harus mengikuti model. Namun masih bisa bertahan lebih lama dibanding model sandal dan sepatu untuk cewek. Karena ia dan suaminya sangat menjaga kualitas dengan motto, customer akan kembali datang untuk memesan. [tin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar