Ekbis

Sentra Tempe Sanan Kota Malang Tetap Produksi Dengan Ukuran Lebih Kecil

Tempe produksi sentra industri tempe Sanan, Kota Malang.

Malang(beritajatim.com) – Perajin tempe di sentra industri tempe Sanan, Kota Malang tetap memilih produksi di tengah kenaikan harga kedelai impor. Mereka tetap berproduksi dengan memperkecil ukuran tempe dari biasanya.

“Di Kota Malang ada 500 perajin tempe, 300 perajin ada di Sanan. Yang kami lakukan adalah modifikasi pada ukuran tempe saat terjadi kenaikan harga bahan baku. Jumlah produksi, kurang lebih 17,5 ton per hari. Kota Malang jumlah produksi 25 ton per hari,” ujar Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Kota Malang, Chamdani, Selasa, (5/1/2020).

Chamdani mengungkapkan, alasan utama para perajin tempe tidak ikut mogok produksi karena untuk memenuhi kebutuhan pasar. Biasanya ukuran normal tempe memiliki lebar 23 centimeter, panjang 52 centimeter, dengan ketebalan 6 centimeter.

“Untuk ukuran itu, dijual Rp36 ribu. Karena harga kedelai naik, ukuran tempe diperkecil menjadi lebar 20 centimeter, panjang 50 centimeter, dan tebal 4,5 centimeter harga sama,” ujar Chamdani.

Selain permintaan pasar, sebagian besar perajin tempe menganggap cukup riskan bila memilih menaikan harga tempe di tengah kondisi ekonomi lesu. Meski begitu, beberapa petani ada yang menaikan harga tempe.

“Beberapa pengusaha juga ada yang memilih menaikkan harga tempe. Sejauh ini untuk bahan baku masih lancar. Kemungkinan besar akhir Febuari atau awal Maret harga kedelai cenderung menurun,” tandas Chamdani. (Luc/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar