Iklan Banner Sukun
Ekbis

Semester Pertama, BSI Yakin Bisa Capai Laba Lebih Tinggi dari 2020

Surabaya (beritajatim.com) – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mulai sedikit melonggarkan ikat pinggang untuk melakukan efisiensi di tahun ke 2 saat pandemi melanda ini beberapa sektor mulai menunjukkan geliatnya.

Hal ini terlihat dari mulai menggeliatnya beberapa pembiayaan di BSI salah satunya adalah gadai dan auto serta kredit konsumtif. Hal ini diungkap oleh Direktur Finance & Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho, dalam pemaparan kinerja BSI semester pertama tahun ini melalui webinar, Jumat (30/7/2021).

Meskipun mulai menggeliat namun Manajemen BSI juga lebih berhati-hati dalam menetapkan target untuk pembiayaan. Cahyo hanya optimis pembiayaan tumbuh 1 digit saja. Namun untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) dirinya bisa menargetkan bisa naik double digit.

“Karena PPKM masih berlanjut membuat kami tidak boleh gegabah dalam menetapkan target,” aku Cahyo.

Menurutnya, BSI mampu mencapai laba bersih lebih baik  karena selama semester I perseroan telah banyak belajar dari pandemi yang melahirkan efisiensi biaya operasional. Pandemi, katanya, telah mendorong bisnis perbankan tanpa bertemu nasabah sehingga terjadilah efisiensi.

Direktur Utama BSI, Hery Gunardi mengatakan BSI tahun ini tidak melakukan revisi RKAP tetapi dalam menentukan target kinerja tetap menggunakan panduan atau patokan untuk melihat kondisi perekonomian setidaknya dalam 3 bulan ke depan.

“Secara umum perbankan di Indonesia hingga Mei 2021 sebenarnya sudah menunjukkan perbaikan positif secara year to date (ytd), baik dari sisi aset sudah tumbuh di atas 1 persen lebih, dan dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh lebih dari 3 persen,” paparnya

Hanya saja, dari sisi pembiayaan/kredit masih cukup tertekan, dan hanya mampu tumbuh sekitar 0,65 persen. Hal itu berarti bahwa perbankan nasional sudah menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan positif dari sisi aset, dana maupun kredit.

“Nah kita sadar bahwa Juni tentu masih bisa tumbuh tapi begitu Juli, dengan PPKM ini bisa dilihat mal-mal yang buka hanya supermarket, restoran tidak boleh makan di tempat, dan banyak sekali pusat-pusat ekonomi yang tidak termasuk kegiatan esensial tidak bisa bergerak. Mudah-mudahan PPKM tidak terlalu lama sehingga yang dicapai sampai kuartal II bisa diteruskan sampai Desember,” jelasnya.

Hery kembali menambahkan, bahwa hampir seluruh sektor masih bisa digarap untuk mecapai target tahun ini. Di antaranya seperti segmen wholesale banking (korporasi dan komersial), disusul sektor produktif yakni Small Medium Enterprise (SME) dan mikro atau usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta segmen konsumer seperti griya pembiayaan rumah, pembiayaan mitraguna yang berbasis payroll, dan pembiayaan kendaraan bermotor.

“Yang unik di BSI ini, kami ada servis yang bisa melakukan pekerjaan seperti pegadaian, karena kami punya layanan gadai emas dan cicil emas sehingga kami tetap bisa menjaga pertumbuhan yang selektif,” jelasnya.

Di sektor industri, lanjut Hery, BSI melihat pembiayaan usaha dari industri farmasi masih sangat menjanjikan disusul industri digital, food and beverage, bahkan perkebunan sawit. Khusus di sektor wholesale, BSI lebih berhati-hati memberikan pembiayaan sehingga perseroan lebih masuk pada pembiayaan proyek-proyek infrastruktur dengan jaminan pemerintah.

“Jadi kita masuk ke pembiyaan yang underline nya APBN. Dalam kurun waktu sebelum Juli kami sudah ikut pembiayaan proyek tol Serang – Panimbang Rp700 miliar, rel kereta Makassar – Pare-Pare Rp327 miliar dan preservasi Jalan Lintas Timur Sumatera Rp200 miliar. Sebetulnya total sampai Juni, BSI sudah masuk sektor infrastruktur sekitar Rp1,27 triliun,” jelas Hery.

Adapun pada semester I/2021, BSI mencatatkan kinerja aset mencapai Rp247,3 triliun naik 15,15 persen dibandingkan periode sama 2020 atau year on year (yoy). Sedangkan kinerja pembiayaan mencapai Rp161,5 triliun naik 11,73 persen (Yoy), DPK mencapai Rp216,4 triliun naik 16,03 persen.

Sementara kinerja Non Performing Financing (NPF) Gross 3,11 persen atau turun -0,12 persen dari Juni 2020 yakni 3,23 persen, dan untuk NPF Nett 0,93 persen atau turun dari Juni 2020 yakni 1,52 persen. Sedangkan kinerja cash coverage 114,07 persen atau naik 38,88 persen (yoy).

Untuk laba bersih perseroan di semester I/2021 sudah mencapai Rp1,48 triliun atau naik 34,29 pesen dibandingkan periode sama 2020 yakni Rp1,1 triliun.[rea]


Apa Reaksi Anda?

Komentar