Ekbis

Semester Pertama 2019, Geliat Ekonomi di Kota Malang Membaik

Malang (beritajatim.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat deflasi sebesar -0,17 persen. Adapun penyebab deflasi adalah penurunan tarif angkutan udara. Pada bulan Mei lalu Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,35 persen.

Kepala BPS Kota Malang, Sunaryo mengatakan, Kota Malang menjadi yang terendah di Jawa Timur. Disusul Jember sebesar -0,16 persen. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Probolinggo sebesar 0,48 persen.

“Ekonomi Kota Malang aman terkendali, sumbangan penurunan harga tiket pesawat berpengaruh signifikan terhadap angka inflasi di Kota Malang. Selama empat tahun terakhir, tahun ini baru pertama kalinya di bulan Juni Kota Malang mencatatkan angka deflasi,” kata Sunaryo, Senin (01/7/2019).

Sejumlah komoditi lain juga turut meyumbang angka deflasi. Diantaranya penurunan harga bawang putih sebesar 15,27 persen, daging ayam ras sebesar 2,84 persen, penurunan harag telur ayam sebesar 4,33 persen.

“Penurunan harga besi beton, bawang merah, pasir, ikan tongkol bandeng, serta penurunan harga daging sapi juga menjadi penghambat inflasi,” ucapnya.

Sedangkan, beberapa komoditi penyumbangkan inflasi. Antara lain, harga cabai merah sebesar 18,92 persen, kenaikan harag emas perhiasan sebesar 1,97 persen, batu bata sebesar 4,17 persen, daging ayam kampung 9,36 persen.

“Sejumlah komoditi lainnya yang mengalami kenaikan harga diantaranya jeruk, tarif kereta api, tarif bimbingan belajar, gula pasir, kelapa, dan kentang,” tandas Sunaryo.

Sedangkan, pada bulan Juli dan Agustus, tarif pendidikan dan bimbingan belajar patut diwaspadai menjadi penyumbang inflasi. Sebab, tahun ajaran baru dan penerimaan mahasiswa baru terjadi pada bulan Juli dan Agustus. [luc/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar