Ekbis

Sekelompok Warga Sukses Budidaya Ikan Lele dengan Menu Tambahan Herbal

Perangkat Desa Tanon memberi pakan ikan lele di kolam

Kediri (beritajatim.com) – Sekelompok masyarakat di Desa Tanon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri sukses membudidayakan ikan lele dengan metode pemberian makanan tambahan dari bahan herbal. Selain mempercepat proses pertumbuhan ikan, formula khusus tersebut diyakini mampu meminimalisir tingkat kematian ikan, sehingga hasil panen yang didapat melimpah.

Formula tersebut berasal dari campuran rempah-rempah alami yang ada di sekitar. Sedikitnya, ada 12 jenis tanaman herbal yang diramu menjadi satu. Sementara itu, dalam penggunaanya cukup mudah. Formula tersebut hanya dicampur dengan pakan pelet dari pabrikan.

Agus, Ketua Kelompok Budidaya Ikan Lele ‘Mina Tanon’ mengaku, ide awal pembuatan formula sebagai menu makanan tambahan berawal dari seringnya kegagalan warga dalam budiaya ikan. Selain karena tingkat kematian tinggi, hasil panen ikan tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Terlebih saat harga pakan mahal petani kerap merugi.

“Kami mencoba meramu bahan-bahan herbal untuk dengan berbagai khasiat. Kami padukan dengan pakan pelet pabrikan. Ilmu itu kami dapatkan dari berbagai sumber, termasuk kami baca dari sebuah penelitian yang dilakukan ITB,” kata Agus.

Perangkat Desa Tanon memperlihatkan Formula Herbal menu makanan tambahan

Formula herbal tersebut, imbuh Agus, melalui berbagai tahapan uji coba. Sehingga ia dapat mengetahui komposisi maupun takaran yang pas.

“Kami memang sudah ketergantungan dengan sebuah formula dalam budidaya ikan. Sebelum lahirnya formula kami ini, sudah memakai produk orang lain. Kemudian, karena satu dua hal, akhirnya kami memutuskan untuk menciptakan sendiri,” jlentrehnya.

Sistem budidaya ikan lele dengan menu makanan tambahan formula ini telah diterapkan oleh masyarakat setempat. Mereka tergabung dalam Kelompok Budidaya Ikan ‘Mina Tanon’. Salah satu yang berhasil adalah. Warga Kabupaten Mojokerto yang kini berdomisili di Desa Tanon. Selama satu tahun terakhir ini ia mengaplikasikan formula tersebut dan merasakan hasilnya.

“Awalnya saya coba ternak lele agak malas, karena saya tidak tahu hasilnya. Pada awal-awal dulu, karena pakan lele itu diutangi dengan modalnya banyak, bagaimana mencari pakan alternatif. Alternatifnya, coba membuat pelet sendiri. Dicoba oleh kawan-kawan, ternyata hasilnya tidak memuaskan. Kadang banyak yang mati, kadang peletnya tidak mengapung dan kolam menjadi keruh,” cerita pria yang akrab disapa Gus Hanafi itu.

Gagal memakai pelet buatan sendiri, Gus Hanafi kemudian mencari pakan alternatif lain berupa kepala udang. Mereka mendatangkan dari Lamongan. “Pandangan kami waktu itu, kepala ikan jauh lebih murah. Harganya hanya Rp 2 ribu per kilonya. Sementara pakan pelet Rp 10 ribu per kilo. Dicoba dalam sebulan, ternyata perkembangan ikan lele tidak kelihatan sekai. Dan berbau sekali, menggangu masyarakat sekitar serta kolamnya kotor sekali. Kolam baru dikuras, sudah keruh dan kolamnya dipenuhi cangkang kepala udang,” bebernya.

Tiga bulan belum panen, tentu membuat Gus Hanafi semakin pesimis. Dia pun berkeluh kesah dengan peternak lain, salah satunya Perangkat Desa Tanon Edi Prastowo. Edi memang dikenal sudah berpengalaman di dunia perikanan. Dia lama berkecimpung dalam budidaya ikan. Akhirnya Edi pun berusaha membantu. Dia bertemu dengan sebuah distributor pakan ikan yang tidak keberatan menjual dengan sistem pinjaman dan dibayar saat panen.

“Akhirnya pak Bayan berhubungan dengan orang-orang mencoba mencari pelet dengan sistem utang. Akhirnya dapat satu merk pelet ikan, yang distributornya sanggup mengutangi. Disamping pelet, teman sesama Kelompok Mina Tanon, menguji coba sebuah formula khusus agar ikan makannya lahap dan rendemennya bagus,” tegas Gus Hanafi.

Oleh Gus Hanafi, formula herbal tersebut kemudian diaplikasikan pada ikannya yang sudah berumur tiga bulan. Usia dimana ikan lele kebanyakan sudah panen. “Akhirnya saya coba memberi makan dengan campuran formula. Saya beri makan dengan jumlah porsi yang agak banyak. Ternyata 6 minggu sudah langsung panen,” ucap Gus Hanafi dengan senang.

Menu mkanan tambahan tersebut memiliki khasiat untuk meningkatkan nafsu makan ikan lele. Sehingga ikan dapat berkembang dengan pesat. Khasiat lain dari formula herbal tersebut adalah untuk meningkatkan imunitas dan daya tahan tubuh, sehingga ikan tidak gampang terserang penyakit. Oleh karena itu, tingkat kematian ikan dapat diminimalisir.

Setelah merasakan hasilnya, Gus Hanafi pun menjadi tertarik untuk membudidayakan kembali. Tentunya dengan metode pemberian makanan tambahan formula. Panen ke dua berhasil. Bahkan, lebih baik dari sebelumnya. Belum dua bulan, ikan lele sudah bisa dipanen. Untuk populasi ikan lele sebanyak 6 ribu, sukses menghasilkan rendemen ikan hingga 5 kwintal. Kemudian setelah dikalkukasi, dikurangi dengan biaya operasional, dirinya mendapat keuntungan sebesar Rp 2 juta.

Anggota Kelompok Budidaya Ikan Lele Mina Tanon

Dari semula satu kolam ikan lele, hanya dalam kurun waktu satu tahun, Gus Hanafi sudah berhasil menambah kolamnya menjadi tujuh unit. Pembuatan kolam tersebut dibiayai oleh keuntungan yang didapat. Kini populasi ikan lele yang sedang dikembangkan mencapai jumlah 30 ribu ekor. Bahkan, Gus Hanafi telah berencana untuk mengaplikasikan metode tersebut pada ikan gurami.

Edi Prastowo adalah orang yang turut memiliki andil besar terhadap keberhasilan masyarakat Desa Tanon. Dia salah satu orang yang mendorong terbentuknya kelompok Mina Tanon. Meskipun akhirnya Edi hanya sebagai anggota biasa di dalam kelompok tersebut.

Kenyang pengalaman dalam dunia perikanan, pria yang karib disapa Mbah Bayan ini pun juga membantu dalam memasarkan produk ikan lele masyarakat. Terlebih, para situasi pandemi Covid-19 saat ini. Dimana, permintaan ikan lele dari luar daerah menurun drastis akibat kebijakan PPKM dan lockdown. Terpaksa stok ikan hanya terserap oleh pasar lokal. Tetapi Edi sanggup mecari pasar luar daerah.

“Alhamdulillah saya cukup senang dan bersyukur. Dari semula hanya ada beberapa orang warga yang menekuni budidaya ikan lele, kini jumlah anggota Kelompok Mina Tanon sudah menjadi lebih dari 30. Artinya perjuangan kami dahulu, memberi pemahaman warga agar bisa meningkatkan taraf ekonominya dari budidaya ikan lele sudah bisa dinikmati hasilnya,” jelas Edi.

Kini masyarakat Desa Tanon, khususnya para petani ikan lele mampu berdaya, meskipun saat ini sedang terjadi krisis ekonomi akibat pandemi. Kemandirian ini tidak lepas dari peran Pemerintah Desa Tanon. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pemerintah desa sejak awal hadir dalam urusan permodalan petani. BUMDes mengambil peran untuk penyediaan pakan ikan pabrikan kemudian dijual kepada petani yang modalnya kecil. Peran lainnya, BUMDes akan mengambil posisi sebagai produsen formula menu makanan tambahan tersebut.

Dijelaskan Edi, satu formula dengan kemasan botol bekas air mineral ukuran 1.500 mililiter (ml) sedikitnya butuh biaya Rp 22.500. Tetapi produk ini dijual kepada petani seharga Rp 30 ribu. Mengapa demikian? Sebabnya, ada biaya untuk tenaga produksi senilai Rp 2.500 dan untuk kas LAZIZNU Rp 5 ribu. [nm/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar