Ekbis

Sejak Sebulan, Pupuk Jenis Urea dan ZA di Mojokerto Langka

Area lahan persawahan yang ditanami sayuran di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Sudah sejak satu bulan lalu, petani di Kabupaten Mojokerto mulai kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi. Pupuk jenis urea dan ZA (Amonium Sulfat) ini hilang di pasaran sejak awal bulan Juli 2020 lalu sehingga para petani terancam merugi.

Ini lantaran para petani harus menanggung biaya operasional tanam yang semakin membengkak lantaran harus membeli pupuk non subsidi tersebut. Seperti yang dialami salah satu petani sayur di Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Suryanto (53).

“Pupuk subsidi urea maupun jenis ZA di sini kurang bahkan sudah tidak ada semenjak satu bulan. Minimal kebutuhan pupuk dalam satu kali tanam itu kurang lebih sekitar 5 ton dan kalau satu tahun ada tiga kali tanam yaitu sekitar 10 ton sampai 15 ton pupuk,” ungkapnya, Rabu (19/8/2020).

Di lahan seluas 2 hektare lebih yang ia menyewa, sebagian lahan ditanami beberapa jenis sayuran. Seperti bawang merah, cabai, bawang merah, tomat dan lainnya. Akibat kelangkaan pupuk ini, ia dan petani lainnya terancam menanggung biaya produksi tanam khususnya pada pemupukan yang semakin membengkak.

“Saya menggunakan pupuk subsidi untuk memperkecil biaya operasional tanam sehingga dapat menekan harga jual produk pertanian tersebut. Tapi saat pupuk subsidi langka, kita terpaksa membeli pupuk non subsidi yang harganya dua kali lipat lebih mahal dari pupuk subsidi,” ujarnya.

Kepala Disperta Kabupaten Mojokerto Teguh Gunarko. [Foto: misti/bj.com]
Apalagi, lanjut Suryanto, jika para petani menggunakan pupuk non subsidi belum pasti mendapat untung lantaran kondisi harga produk pertanian tidak stabil di pasaran. Biaya pemupukan menjadi membengkak yakni sekitar Rp3 juta untuk lahan satu hektare.

“Sebenarnya keinginan petani itu kalau di daerah lain ada pupuk subsidi seharusnya di sini juga masih ada sehingga jangan sampai ada kelangkaan pupuk subsidi. Sehingga Kami berharap, pupuk subsidi terpenuhi dan tidak sampai ada kelangkaan sehingga produksi hasil pertanian tetap berlanjut,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko membenarkan, di sejumlah daerah di Kabupaten Mojokerto terjadi kelangkaan pupuk subsidi. “Tim sudah melakukan monitoring di lapangan dan memang benar terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi di Kabupaten Mojokerto,” tuturnya.

Hasil monitoring di lapangan, lanjut Teguh, setidaknya ada delapan kios atau agen di wilayah Kabupaten Mojokerto yang memang kebanyakan stok pupuk subsidi terbatas dan kosong. Namun pihaknya telah berkoordinasi bersama instansi terkait untuk menindaklanjuti kelangkaan pupuk subsidi  pada musim tanam kedua ini.

“Memang kebanyakan kios atau agen kosong untuk pupuk urea subsidi dan solusi tercepat masyarakat membeli pupuk yang non subsidi. Kebutuhan pupuk bersubsidi di 18 Kecamatan di Kabupaten Mojokerto sebesar 28.920 ton tidak terealisasi sepenuhnya,” tandasnya. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar