Ekbis

Seberapa Pentingkah PLTN Bagi Indonesia?

Surabaya (beritajatim.com) – Lima tahun berkecimpung sebagai Dewan Energi Nasional (DEN) yakni di tahun 2014-2019, Ir Dwi Hary Soeryadi, MMT, pun kini menelurkan sebuah buku mengupas tentang kecukupan energi listrik Tanah Air.

Dengan meluncurkan buku “Pro-Kontra PLTN”, Dwi ingin membuka pandangan masyarakat Indonesia tentang penting dan tidaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dikembangkan di Indonesia.

“Yang pasti saat ini energi dari fosil seperti batubara dan gas bumi masih menjadi prioritas untuk pembangkit listrik. Sedangkan PLTN sendiri diurutan terbawah,” jelasnya.

Wacana PLTN ini di masyarakat sendiri seringkali memicu pertikaian pro dan kontra, hal ini juga yang membuat Dwi pengupas apa yang terjadi saat ini di masyarakat energi Indonesia.

Yang pro mengatakan: “Indonesia Harus Segera Bangun PLTN”, sedangkan yang kontra mengatakan: “Indonesia Tak Perlu PLTN”. 

Meskipun dalam peraturan kebijakan energi di Indonesia sudah dibuat dan sudah sangat jelas, yaitu di UU30/2007 tentang Energi, PP79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), dan Perpres22/2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), namun yang kontra PLTN, tetap saja kurang nyaman dengan istilah Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dan lebih cocok bila menyebutkan dengan istilah Energi Terbarukan (ET) karena didunia internasional-pun tidak ada istilah New and Renewable Energy, yang ada hanya istilah Renewable Energy

‘Sedangkan yang pro PLTN, tidak suka jika disebut bahwa PLTN ditempatkan sebagai pilihan terakhir, karena bagaimanapun PLTN adalah salah satu teknologi mutakhir yang harus dimanfaatkan. Akan tetapi, dengan histori adanya beberapa kecelakaan besar meledaknya reaktor PLTN di beberapa negara di dunia, menggugah kita semua untuk mawas diri dan berhati-hati didalam memanfaatkannya, karena Indonesia ada pada zona ring of fire,” jelasnya.

Disamping itu dengan besarnya potensi Sumber Energi Terbarukan Indonesia yang sangat berlimpah, mulai dari air, matahari, panas bumi, angin, bio, dan laut yang menurut data di direktorat jendral EBTKE Kementrian ESDM totalnya adalah sebesar 417,8 GW, dan baru termanfaatkan hanya 2,5 % -nya saja, juga menjadikan pertimbangan yang tidak boleh dikesampingkan. 

Begitu juga sebaliknya, dengan perkembangan teknologi nuklir yang semakin mutakhir, telah hadir yang disebut dengan “Nuklir FUSI” yang tidak menghasilkan limbah radioaktif sehingga mengurangi risiko kecelakaan, membawa semakin dekatnya kepada teknologi yang sesuai dengan harapan semua masyarakat di seluruh dunia. Nuklir FUSI sangat berbeda karakter dengan Nuklir FISI yang saat ini dipakai oleh semua PLTN diseluruh dunia yang mempunyai risiko meledak / bocor yang berdampak kecelakaan yang sangat fatal.

Itulah sekelumit isi dari buku Pro Kontra PLTN, yang didalamnya juga menjelaskan tentang istilah dan definisi mulai dari energi, energi terbarukan, energi fosil, dan seterusnya, yang mengakomodasi bagi pembaca yang baru mengenal istilah energi. Disamping itu disajikan juga data-data riil energi fosil nasional yang tersisa, dan data-data riil potensi energi terbarukan nasional yang ada, sesuai dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Serta seputar tentang PLTN, perkembangannya, manfaatnya bagi manusia, dan juga bahayanya. Hal itu semua, untuk memperluas wawasan pembaca maupun sebagai referensi para mahasiswa yang berminat ambil tema skripsinya dibidang ini.

Di bab-bab akhir penulis juga menyajikan pengalaman nyatanya yang didapat di beberapa lokasi PLTN maupun energi lain di beberapa negara, serta diulas juga tentang kunjungannya ke semua reaktor nuklir yang dipunyai Indonesia saat ini, mulai dari reaktor yang ada di Bandung, Yogyakarta, maupun di Serpong untuk memberikan gambaran nyata bagi pembaca.      

Menariknya, dalam buku tersebut penulis tidak bersikap pro maupun kontra, bahkan memberikan kebebasan kepada pembaca untuk memilih dan menentukan sikap. Yang tentunya hanya untuk kepentingan bangsa dan negara ini di masa sekarang maupun dimasa yang akan datang.

‘Pro – Kontra itu mencerdaskan, dan  bukan jamannya lagi memaksakan kehendak. Terlebih diselesaikan dengan cara-cara yang tidak elegan, dengan cara lobi-lobi atau semacamnya. Akan fatal akibatnya. Untuk itu sudah saatnya pemerintah memberi ruang kepada mereka bertemu mencari solusi bersama yang terbaik untuk masa depan energi negeri ini,” tandasny Dwi, yang membandrol bukunya inj diharga Rp 85.000 dan dijual di Tokopedia.[rea]

 

 

 



Apa Reaksi Anda?

Komentar