Ekbis

Samiler, Produk Unggulan Desa Kemasantani Gondang Mojokerto

Mojokerto(beritajatim.com)- Samiler merupakan produk unggulan dari Desa Kemasantani, Kecamatan Gondang, Mojokerto. Samiler adalah makanan sejenis kerupuk bulat yang terbuat dari singkong dan tepung.

Samiler sudah dikenal dari puluhan tahun silam. Banyak warga Kemasantani yang memproduksi makanan ini dirumah mereka. Akhirnya Samiler menjadi salah satu lapangan pekerjaan di Desa Kemasantani, Kecamatan Gondang, Mojokerto, sampai saat ini.

Makanan dengan bahan utama singkong ini memang masih tetap diminati, meski banyak jajanan baru di luar sana. Tak ada yang tahu pasti asal mula jajanan ini muncul. Tapi salah satu warga Kemasantani, Musti`ah mengungkapkan bahwa banyaknya singkong pada waktu itu bisa saja menjadi dasar Samiler ini ada. “Ya kan disini memang terkenal banyak singkong, mungkin ini salah satu kreasi nenek moyang dulu.” ungkap Muti`ah Senin (22/7/19).

Muti`ah sudah hampir 25 tahun ikut memproduksi Samiler dirumahnya. Setiap harinya ia dan suami mampu menghabiskan 50 Kilogram Singkong, dan proses pemasakannya sampai 4 jam sehari. Warga asli Kemasantani ini belajar membuat Samiler dari orang tuannya.

Bahan dan bumbu yang ia gunakan juga masih sama dengan apa yang orang tuanya ajarkan. Yakni Singkong, tepung, Bawang merah, bawang putih, daun jeruk,dan irisan daun bawang. Yang membedakan penggunaan kompor dan beberapa alat cetak saja.

“Masih sama semua, paling pake elpigi yang beda, sama Loyang buat cetak ini, kalo adonan dan cara masih sama, ya singkong dihaluskan di campur tepung dan bumbu, kemudian dibentuk bulat di pipihkan terus ditaruh di atas air mendidih, lalu di jemur, udah gitu aja” jelasnya.

Samiler juga sudah sering menjuarai lomba produk unggulan dari tingkat kecamatan sampai tingkat kabupaten. Banyak kreasi juga yang ditawarkan salah satunya Samiler rasa Pedas. Ini semua diusung oleh ibu-ibu PKK Desa Kemasantani. “Saya juga ikut PKK, sering bawa Samiler menang lomba produk unggulan” tambahnya

Kesulitan yang rata-rata dialami oleh warga Kemasantani yang memproduksi Samiler yakni jika musim Hujan tiba. Proses penjemuran Samiler menjadi tidak maksimal, bahkan bisa menimnulkan jamur. Kemudian tak hanya itu, bahan utama makanan ini juga setahun tekahir alami kelangkaan dan kenaikan harga. Oleh sebab itu Muti`ah dan pedagang yang lain terpaksa menaikkan harga Samiler keringnya yang awalnya 15ribu perkilo menjadi 18 ribu perkilo.

Saat ditanya mengenai alasannya tetap berjualan Samiler, Musti`ah mengatakan bahwa ia sudah mempunyai banyak pelanggan. “Sudah banyak pelanggan, dari Mojosari, Mojokerto, Bangsal ,dll” tandasnya. [ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar