Ekbis

Saat Pandemi Covid-19, Warga Mojokerto Budidaya Pisang Cavendish

Mojokerto (beritajatim.com) – Di tengah pandemi Covid-19, membuat masyarakat kreatif dalam memanfaatkan kondisi yang ada. Salah satunya, warga Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang memanfaatkan lahan belakang rumah untuk budidaya pisang cavendish.

Pisang cavendish ini bukan hanya populer di Indonesia, melainkan populer di dunia pula. Selain rasanya enak dan manis, pisang ini memiliki beragam manfaat untuk tubuh, serta baik untuk makanan diet. Pisang cavendish memiliki warna kulit kuning yang halus dan merata.

Selain itu, ukuran yang cukup besar yakni dengan panjang sekitar 15-25 cm memiliki nilai ekonomis yang cukup lumayan. Meski masih pemula dan baru masuk masa panen, namun bapak satu anak ini cukup sukses membudidayakan pisang cavendish.

Di lahan seluas kurang lebih 3.000 meter2, berawal dari sang anak yang mendapatkan tiga bibit pisang cavendish, ia kemudian nekad membudidayakan pisang dengan sebutan lain pisang Ambon putih ini. Ini lantaran, ia tak memiliki keahlian khusus, semua ia lakukan secara otodikdak.

Purman (64) mengatakan, ia mulai membudidayakan pisang cavendish sejak bulan Maret lalu atau saat pandemi Covid-19. “Cari bibitnya susah, saya sampai cari ke Kunjang, Kediri. Saya beli 20 bibit pisan cavendish dan saya tanam. Iseng-iseng saja buat hiburan,” ungkapnya, Minggu (29/11/2020).

Masih kata suami dari Sita ini, ternyata banyak yang tertarik untuk ikut membudidayakan pisang cavendish tersebut. Meski baru masuk masa panen, namun pisang hasil budidayanya tersebut sudah banyak diminti. Baik dari kalangan saudara maupun tetangga.

“Ini baru masuk masa panen tapi sebelumnya sudah banyak yang datang tertarik pingin budidaya. Ya saudara, tetangga. Ada yang minta bibit, ya saya kasih. Ada juga yang pesan pisang meski belum matang, buat hajatan, selamatan. Kalau mendekati hari H, baru diambil,” katanya.

Cak Pur (panggilan akrab, red) menjelaskan, pisang cavendish berbuah sekitar lima bulan dan siap panen sekitar delapan bulan. Menurutnya, perawatannya cukup mudah. Yakni dengan memberikan pupuk organik dan diberi pupuk phonska jika sudah berumur tiga bulan.

“Untuk bagian daun, harus dirapikan. Jika ada yang kering atau tua harus ditebang dan menyisahkan 6 pelepah daun saja. Tujuannya agar hasil buahnya nanti bagus. Kalau di bagian bawah hanya dikasih pupuk itu, kalau masih kecil cukup pupuk organik tapi kalau sudah usia 3 bulan dikasih pupuk phonska,” jelasnya.

Masih kata Cak Pur, saat pisang berbuah dan sudah besar alangkah baiknya dibungkus dengan plastik dan buang buah pisang yang tidak tumbuh sempurna. Jika anak pohon cavendish tumbuh, segera pisahkanlah pohon tersebut dan tanam pada lubang lain dengan jarak 3-4 meter dari pohon lainnya.

“Singkirkan gulma atau rumput liar yang berada di sekitar pohon. Jika dibiarkan, pohon cavendish akan berebut unsur hara dengan rumput liar di sekitarnya. Siramilah pohon pisang tersebut secara rutin, kalau musim kemarau cukup satu kali sehari karena pisang ini suka air,” jelasnya.

Selain gulma atau rumput liar di sekitar pohon, lanjut Cak Pur, ulat menjadi musuh pisang cavendish. Jika sudah diserang ulat maka hasil buah pisang cavendish bercorak coklat tidak memiliki warna kulit kuning yang halus dan merata saat matang.

Selain menanam pisang cavendish yang hasilnya dijual dalam bentuk buah, ia juga membagi lahannya untuk membudidayakan pisan cavendish. Dengan membuat bibit pisang cavendish dengan harga Rp15 ribu sampai Rp30 ribu tergantung tinggi pohon. Untuk anak pohon pisang cavendish dengan harga Rp20 ribu sampai 30 ribu.

“Kalau pisang yang sudah berbuah tergantung tengkulak, mau dibeli belum matang atau sudah matang. Rata-rata satu pohon berbuah sampai sembilan sisir, harganya mulai dari Rp10 ribu per sisir. Iya sudah ada tengkulak yang datang,” tuturnya.

Sementara itu, warga Desa Tejo, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Hartini (60) sengaja jauh-jauh datang untuk memesan pisang cavendish. “Saya sengaja pesan yang belum matang buat tanggal 29 Desember untuk acara selamatan. Seminggu sebelum hari H saya ambil, memang sengaja kesini,” tegasnya [tin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar