Ekbis

Saat Pandemi Covid-19, Usaha Pot Pria Lamongan Ini Justru Laris Manis

Muttaqin bersama pekerja lainnya saat memproduksi pot di lapaknya yang berada di Desa Pengangsalan.

Lamongan (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 rupanya membawa berkah bagi pengrajin pot bunga dan bonsai di Kabupaten Lamongan. Bahkan, untuk memenuhi banyaknya pesanan pot, pengrajin tersebut kerap kerja lembur hingga dini hari.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan Ahmad Muttaqin, salah satu pengrajin pot di Desa Pengangsalan Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan. Ia menerangkan, pandemi Covid-19 dan pemberlakuan PPKM ini tidak mempengaruhi usahanya, justru penjualan potnya laris manis.

“Selama pandemi ini, banyak warga yang membeli pot. Saking banyaknya pesanan, kami hingga kerja lembur sampai larut malam. Dalam sehari biasanya kami memproduksi sekitar 50 pot,” ungkap Muttaqin kepada wartawan, Senin (13/9/2021) kemarin.

Lebih lanjut, Muttaqin mengaku, dalam membuat kerajinan pot tersebut, pihaknya dibantu oleh keluarga dan sejumlah pekerjanya. Pot yang ia buat tersebut terdiri dari berbagai macam ukuran dan model, sehingga harganya pun cukup bervariasi.

“Harganya bermacam-macam, mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 100 ribu, tergantung ukuran atau modelnya. Selain menjual pot, kami juga menyediakan beberapa bakalan (bahan) bonsa atau bonsai dengan harga yang terjangkau,” katanya.

Muttaqin bersama pekerja lainnya saat memproduksi pot di lapaknya yang berada di Desa Pengangsalan.

Terkait proses pembuatannya, Muttaqin menceritakan, bahwa prosesnya sangatlah mudah. Mulanya, bahan semen yang telah disediakan itu dicampur pasir, lalu ditambahkan air secukupnya, diaduk, dan dimasukkan ke dalam cetakan sesuai model dan ukuran yang diinginkan.

“Saat cetakan itu kering, pot setengah jadi tersebut lalu diamplas dan diperhalus pada sisa bagian cetakan yang masih menempel. Setelah halus, kemudian dilakukan pengecatan,” terang Muttaqin.

Kendati demikian, Muttaqin juga membeberkan sedikit kendala yang dialaminya selama proses pembuatan pot, yakni saat terjadi hujan, hal itu sedikit menghambat waktu pembuatan dan pengeringan pot.

“Kalau omset, saya tidak bisa memperkirakan, yang jelas penjualan pot naik drastis selama pandemi Covid-19 ini. Pembelinya pun tidak hanya berasal dari Lamongan, tapi juga luar Lamongan,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu pembeli pot yang bernama Ike (30) menuturkan, bahwa selama pandemi ini dirinya merasa jenuh jika di rumah saja, sehingga berkebun menjadi obat yang mujarab untuk mengisi kesehariannya.

“Saya sering membeli pot di sini karena selama pandemi ini, saya lebih memilih untuk bercocok tanam dan suka merawat tanaman hias. Oleh karena itu, saya membutuhkan banyak pot. Selain itu di sini harganya juga sangat terjangkau jika dibandingkan lainnya,” tutur Ike. [riq/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar