Ekbis

Rupiah Menguat, Namun Perdagangan Riil Masih Lesu

Surabaya (beritajatim.com) – Suhu politik di Indonesia saat ini tak seperti yang diprediksikan banyak ekonom, yang akan berakhir dengan perang dingin “politik berkepanjangan”.

Namun pertemuan elit politik yang dulu berseteru di pemilihan presiden, mulai dengan naik MRT hingga suguhan nasi goreng yang dilakukan oleh Megawati, pentolan PDIP dan Prabowo membuat pasar menggeliat positif.

Bahkan analis ekonomi mengaku cukup kaget dengan dampak positif yang ditunjukan pasar, mulai dari Rupiah menguat dari Rp 15.000 kini kuat diangka Rp 13.900 per USD.

“Ini kondisi menyenangkan dan di luar prediksi sebelumnya. Tetap trend positif ini juga memiliki berbagai tantangan,” ungkap Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga), Adrian Panggabean, saat acara Diskusi Bersama CIMB Niaga di Surabaya, Kamis (25/7/2019).

Dikatakan, pihaknya optimis prospek pasar keuangan dan perekonomian Indonesia pada semester II/2019 positif. Apalagi melihat penguatan rupiah dan turunnya yield obligasi bertenor 10 tahun terjadi karena ekspektasi para pelaku ekonomi terhadap kebijakan terbaru Bank Indonesia (BI). Seperti diketahui pada 18 Juli 2019, BI menurunkan suku bunga BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRRR) sebesar 25 bps dari 6,00% menjadi 5,75%.

“Kami memperkirakan yield obligasi 10 tahun berpotensi turun ke kisaran 6,70-6,90% sebagai konsekuensi dari relatif rendahnya persepsi risiko obligasi Indonesia, suku bunga sertifikat deposito Bank Indonesia 12 bulan di 6,25%, serta imbal hasil US-Treasury 10-tahun di kisaran 2,0%,” ujar Adrian.

Meski demikian, prospek positif dari aset keuangan domestik juga bisa tertahan akibat defisit transaksi berjalan yang masih relatif besar. Hingga semester I/2019 defisit transaksi berjalan mencapai kisaran 2,6% – 2,7% dari produk domestik bruto (PDB).

Berdasarkan kondisi tersebut, Adrian menilai, penguatan rupiah yang terjadi belakangan ini akan terbatas. Hal itu akan terjadi jika indeks dollar AS terus melemah di semester II/2019. Ekspektasi ini mulai muncul di pasar keuangan dengan mengacu pada pergerakan harga emas yang terus menguat.

“Kami juga melihat bahwa penguatan rupiah yang terlalu cepat berpotensi menyebabkan harga aset rupiah akan menjadi terlalu cepat mahal,” ujar Adrian.

Namun di sisi lain ekspor dan impor Indonesia justru turun 10 persen. Hal ini disebabkan sektor riil nya melemah sehingga industri pun ikut melemah. Salah satunya penjualan dan perdagangan mobil terus merosot tajam.

“Ini adalah tantangan terbesar bagi Indonesia untuk mengatasinya,” tandasnya.[rea/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar