Iklan Banner Sukun
Ekbis

Resign dari Honorer Dispendik, Petani Mojokerto Sukses Budidaya Melon Sistem Green House

Muhammad Fatihul Munir (35) saat memeriksa buah melon dengan sistem green house.

Mojokerto (Beritajatim.com) – Muhammad Fatihul Munir 35 tahun warga Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto sukses budidaya melon dengan sistem green house. Di lahan 600 meter persegi, omzet melon jenis Sakata Glamor ini antara Rp25 juta sampai Rp30 juta per setiap kali panen.

Budidaya buah melon dengan sistem green house ini dibangun mantan honorer Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto di dengan seluas 600 meter persegi di Dusun Pelintahan, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Lahan tersebut ia sewa dari warga setempat.

Munir mulai membudidayakan buah melon dengan sistem green house sejak satu tahun lalu. Dari lahan seluas 600 meter persegi yang ia sewa seharga Rp4 juta setahun, ia mampu menghasilkan 1,5 sampai 2 ton melon dalam sekali panen. Dalam satu tahun, bisa tanam sampai empat kali tanpa melihat cuaca.

“Sekitar tahun 2012, saya mengundurkan diri dari honorer Dinas Pendidikan, kemudian saya kerja untuk cari modal dan belajar teori tentang tentang teknik pertanian yang bermanfaat, yang berkualitas sesuai standar ekspor. Akhirnya saya belajar ke Malang, alhamdulillah sudah selesai praktek saya praktekkan di tanah kelahiran saya di Mojokerto,” ungkapnya, Kamis (23/9/2021).

Pemilihan budidaya melon sendiri lantaran pemasaran melon cukup menjanjikan. Ditambah dengan sistem green house, buah melon akan lebih diminati karena kwalitas cukup bagus. Dengan sistem green house, tanaman buah melon akan lebih aman dari hama, virus, penyakit dan hujan.

“Melon karena marketnya lebih jelas, pemasarannya lebih jelas kemudian kalau di dalam green house kita permintaan dari market itu sangat baik. Dibanding tidak menggunakan green House hanya meminimalisir hama, penyakit dan virus. Namun memang modal lebih besar jika menggunakan green house,” katanya.

Untuk luas lahan 600 meter persegi, lanjut Munir, dibutuhkan modal antara Rp30 juta sampai Rp40 juta tergantung bahan yang digunakan. Munir memilih green house dari bahan plastik dan jaring impor dari Turkey karena dinilai lebih tanah lama dari faktor cuaca. Bisa sampai 3 sampai 4 tahun.

“Green house, biaya produksi lebih banyak tapi kwalitas lebih bagus. Tapi kalau ingin biaya murah produk lokal jiga bisa, kalau tidak pakai green house lebih ringan biaya produksi. Dilahan seluas 600 meter persegi, bisa ditanam antara 1.300 sampai 1.500 bibit buah melon yang menghasilkan 2 ton buah melon,” jelasnya.

Munir menjelaskan, untuk modal tergantung jenis dan kualitas bibit pohon serta pupuk. Untuk 1.500 pohon melon miliknya, ia mengaku mengeluarkan modal sebesar Rp50 juta. Saat ini jenis melon yang ditanam saat ini adalah jenis Sakata Glamor. Setiap kali panen, dengan omzet Rp25 juta sampai Rp30 juta per setiap panen.

“Dalam satu tahun, bisa empat kali panen dan kali panen. Harga jual lebih tinggi kalau pakai green house. Meminimalisir tingkat keberhasilan panen hampir 30 persen. Aman dari hujan, aman virus, aman dari penyakit, aman dari hama. Karena cuaca juga pengaruh, Mojokerto dekat kota itu panas tapi ini kan pakai green house jadi bisa diminimalisir,” tuturnya.

Menurutnya, daerah dengan cuaca dingin seperti Pacet bukan tidak bisa namun kurang bagus untuk budidaya melon. Sampai saat ini, Munir yang juga pernah budidaya tanaman melon di tempat asalnya, Blitar ini, memasarkan hasil budidaya melon ke beberapa supermarket.

“Bahan tanam dan produksi kualitas ekspor biayanya agak tinggi. Kalau yang lokal agak lebih rendah, tapi kualitas hasil panen tentu juga berbeda. Saya ingin budidaya melon ini bisa ekspor ke luar negeri dan bisa menularkan ilmu saya ke para petani melon khususnya di tanah kelahiran saya, Mojokerto,” harapnya. [tin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar