Ekbis

Raup Jutaan Rupiah, Bisnis Tas Kulit Perca Masih Menjanjikan di Tengah Pandemi

Fauziah Utami (40) menunjukkan tas kulit perca produksinya.

Mojokerto (beritajatim.com) – Bagi sebagian orang pandemi Covid-19 cukup berdampak, namun tidak dengan bisnis tas kulit perca limbah industri milik Fauziah Utami (40). Dengan mengandeng pengrajin tas asal Tanggulangin, Sidoarjo dan sejumlah ibu-ibu di Mojokerto sebagai mitra, kreasinya mampu tembus pasar Asia.

Bahkan pada akhir bulan Oktober 2020 lalu, ibu tiga anak ini mengikuti ajang fashion tingkat nasional di Jakarta. Nama Amyrose De Craft berjajar dengan label karya desain beken tanah air lainnya. Seperti Ida Royani, Berkah Novita, Dewi Roesdji dan banyak lainnya.

Mulai usahanya di tahun 2006 lalu dengan hanya bermodal Rp500 ribu, siapa sangka justru membuatnya semakin disegani di kalangan pengrajin tas. Tak hanya di Mojokerto, namanya sudah mulai dikenal di luar kota. Ini lantaran kreasi tas kulit perca atau biasa dikenal dengan patch work tembus pasar Asia.

Warga Perumahan Japan Raya Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto ini, bahkan menjalin mitra kerja dengan pengrajin tas asal Tanggulangin, Sidoarjo. Ini dilakukan untuk memenuhi pesanan hingga ratusan tas sekali kirim. Bahkan ia tak jarang berbagi ilmu dengan memberikan pelatihan.

Lulusan Administrasi Niaga Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang ini mengawali bisnis tas kulit berupa lembaran namun berkembang menjadi patch work. Bahan kulit ia datangkan dari Jogja dan Magetan. Ini lantaran produktifitas kulit yang dihasilkan dari daerah tersebut cukup bagus.

“Memang spesialisasi tas kulit, limbah dari kulit sapi dan kambing kita bikin kerajinan. Dulu itu, malah yang pesan tas datang ke rumah sampai antri. Kan dulu, belum ada HP seperti saat ini. Awal-awal malah cukup menjanjikan. Kita tidak pernah tahu Corona ya, kapan berakhir,” ungkapnya, Selasa (2/2/2021).

Terakhir pameran tahun 2020 yakni di salah satu mall di Kota Surabaya, saat kembali ke Mojokerto sudah lockdown hingga hari Raya Idul Fitri. Menurutnya di awal pandemi memang berdampak pada bisnis tas kulit perca, namun dengan komitmen untuk terus berkarya, iapun membuktikan bisa bertahan.

“Sebagai UKM yang tangguh tidak boleh menyerahkan dengan adanya Covid-19 jadi kita bekerja Work From Home dan memaksimalkan penjualan lewat online. Dan bersyukur perjalanan bisnis ini diawali sebelum Corono jadi saya sudah menjadi vendor beberapa bank di Jawa Timur dan luar pulau” ujarnya.

Pengurus Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) Mojokerto menjelaskan, customer dan pengrajin juga ingin bangkit di tengah pandemi Covid-19 karena usaha tersebut dijalankan bersama-sama. Menurutnya jika tidak bergandengan tangan melawan Covid-19, Usaha Mikro Kecil (UKM) tidak akan bisa bergerak.

“Untuk penjualannya, saya memaksimalkan toko online via Instagram, master place. Alhamdulillah, mau percaya atau tidak ini kuasa dari Allah SWT. Selain bekerja, akhir tahun omzet saya melambung tinggi dan teman-teman saya insya Allah lebih banyak berkah saat Covid-19,” jelasnya.

Ketua Komunitas Putri Mojokerto ini menambahkan, penjualan tas kulit perca miliknya sudah sampai ke luar negeri dan menjadi UKM ekspor. Selain tas, ia juga membuat berbagai macam kerajinan tangan dengan omzet 100 pcs setiap hari yang dikerjakan mitra kerja ibu-ibu di Mojokerto.

“Untuk tas tidak dihitung setiap bulan, tiap tiga bulan atau tergantung pesanan. Untuk online, ada penjualan tiap harinya sampai ke Singapura dan New Zealand. Kalau harga mulai Rp150 ribu sampai Rp1,5 juta, mahal itu karena desain. Kita kolaborasi dengan ITS,” tegasnya.

Rencananya, pada bulan Maret hingga Agustus mendatang, ia akan mengikuti pameran di Jakarta dan Jogja bersama Indonesian Fashion Chamber (IFC). [tin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar