Ekbis

Pupuk Subsidi di Bojonegoro Diperkirakan Hanya Cukup untuk Musim Tanam Pertama

Petani di Bojonegoro mengecek saluran irigasi untuk kesiapan musim tanam

Bojonegoro (beritajatim.com) – Alokasi pupuk subsidi bagi petani yang ada di Kabupaten Bojonegoro pada 2020 sebesar 83 ribu ton. Pupuk tersebut diperkirakan hanya mampu untuk musim tanam pertama tahun ini.

“Prediksi Dinas Pertanian ini masih cukup untuk musim tanam pada awal tahun 2020,” ujar Kepala Seksi Pupuk dan Alsintan Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Tatik Kasiati, Jumat (17/1/2020).

Namun, pihaknya mengaku secepatnya akan melakukan evaluasi dan meminta penambahan alokasi pupuk untuk musim tanam selanjutnya. “Untuk tahun ini jika ada penambahan kemungkinan masih bisa, setelah adanya evaluasi pada bulan Januari,” terangnya.

Tren penyaluran pupuk biasanya akan naik pada Januari sampai April. Setelah itu periode Mei hingga Juni permintaan akan turun dan pada musim tanam kedua, September sampai November akan naik lagi.

Sementara Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Bojonegoro, Sally Atyasasmi mengungkapkan, penyaluran pupuk subsidi tahun ini mengalami penurunan signifikan. Dari tahun sebelumnya 180 ribu ton menjadi 83 ribu ton. “Dengan jumlah segitu kemungkinan pada bulan April – Mei sudah habis,” ungkapnya.

Sally mengungkapkan, dengan banyaknya penurunan kuota pendistribusian pupuk itu dinilai tidak rasional. Sehingga dikhawatirkan akan terjadi gejolak di kalangan petani.

“Sekarang kami menunggu hasil pendataan riil dari Dinas Pertanian. Maksimal pada Februari awal Komisi B juga akan ke Kementerian Pertanian atau ke komisi 4 DPR RI untuk mengajukan kuota resmi tambahan alokasinya,” jelasnya.

Selain itu, Politisi Partai Gerindra itu juga akan melakukan pengawasan terkait adanya indikasi penyaluran pupuk yang tidak sampai pada tangan petani, serta distribusi yang dilakukan distributor hingga ke luar daerah operasi. “Indikasi kasuistik ini yang juga kita lakukan pengawasan,” tegasnya.

Sekadar diketahui, realisasi penyerapan pupuk subsidi pada 2019 yakni, petroganik hanya 75 persen, atau 29.500 ton dari jumlah RDKK yang diajukan sebanyak 148.000 ton. Sedangkan pupuk Urea realisasinya sebesar 98,17 persen, atau sebesar 63.347 ton. Pupuk ZA realisasi sebesar 98,75 persen atau sebesar 22.504 ton.

Untuk serapan pupuk SP sebesar 99,5 persen, atau 14.210 ton, pupuk NPK sebesar 99,76 persen atau 37.239 ton. [lus/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar