Ekbis

PT Waskita Beton Precast Garap Pasar Ekspor

Agus Wantoro, Direktur Marketing PT Waskita Beton Precast Tbk

Surabaya (beritajatim.com) – Di masa depan, manajemen PT Waskita Beton Precast Tbk menargetkan peningkatan ekspor produknya. Kendati demikian, pasar domestik tetap dipertimbangkan seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal itu dikatakan Direktur Marketing PT Waskita Beton Precast, Agus Wantoro, saat pertemuan dengan pimpinan media massa di Surabaya beberapa hari lalu. “Sampai tahun 2024 kita targetkan ekspor produk korporasi mencapai 70 persen dan sisanya pasar domestik,” katanya.

Pada tahun ini, pemasaran produk beton precast perusahana ini yang dilempar ke pasar ekspor sebesar 52 persen dan 48 persen sisanya pasar domestik. Pada tahun 2018 lalu, total kapasitas produksi mencapai 3,5 juta ton per tahun. Nilai revenue di 2018 mencapai Rp 8 triliun, dengan profit bersih kepada korporasi sebesar Rp 1 triliun.

Kendati baru berdiri pada 2015 sebagai salah satu anak perusahaan PT Waskita Karya, pada 2016 PT Waskita Beton Precast masuk lantai bursa dengan melakukan IPO. Total dana publik yang berhasil diraih dari penawaran saham perdana mencapai Rp 5,1 triliun. Dana tersebut dimanfaatkan untuk biaya modal korporasi dan kepentingan internal lain.

“Keunggulan kita adalah pada mutu, delivery, dan efisien produk. Kelebihan ini harus terus kita jaga dan tingkatkan dari tahun ke tahun. Untuk kepentingan tersebut, kita jalin sinergi dengan korporasi sejenis dari Korea Selatan,” ungkapnya.

Banyak jenis produk berbasis beton yang dihasilkan korporasi ini. Agus mengutarakan, korporasi berhasil memproduksi tiang pancang dengan lebar 1,2 lebar dan panjang 50 meter. Lalu girder untuk jembatan sepanjang 50 meter, bantalan rel kereta api, tiang listrik, pemecah gelombang, dan lainnya. “Untuk produk pemecah gelombang dipesan Singapura dengan nilai Rp 217 miliar,” jelasnya.

Dalam perjalanannya, kapasitas produksi PT Waskita Beton Precast terhitung cukup pesat. Dengan kapasitas produksi 3,5 juta ton/tahun, korporasi kini didukung 11 plant, mengelola 72 batching plant dan 5 quarry. Infrastruktur pendukung operasi korporasi ini tersebar cukup merata di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. “Kita juga punya lahan di Kabupaten Panajam Paser Utara Kalimantan Timur yang diplot sebagai ibu kota negara,” ujarnya.

Pada tahun 2019 ini, korporasi optimistis mampu mencapai target kontrak sebesar Rp 10,39 triliun bakal tercapai. Di kuartal kedua tahun ini, korporasi menargetkan perolehan kontrak baru sebesar Rp 5,22 triliun yang berasal dari beberapa proyek besar yaitu proyek jalan tol Probolinggo-Banyuwangi, addendum proyek jalan tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar (KLBM), proyek jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi, NCICD PUPERA, dan proyek lainnya. “Nilai proyek untu seksi 2 dan 3 dan 4 dari jalan tol Krian-Legundi-Manyar mencapai Rp 3,9 triliun,” tegasnya. [air/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar