Ekbis

PSBB Populis, Namun Memunculkan Ketidakpastian Ekonomi

Suasana di toko donat Bee Donuts Jember yang kali ini lebih banyak didatangi pengemudi ojol.

Jember (beritajatim.com) – Presiden Joko Widodo akhirnya menetapkan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar untuk menangani wabah Covid-19. Kebijakan ini populis, dibandingkan kebijakan karantina atau dikenal sebagai lockdown. Namun di lain pihak memunculkan ketidakpastian bangkitnya kembali roda perekonomian.

“Secara pribadi, saya mengapresiasi langkah presiden Jokowi terkait penetapan status dalam menghadapi pandemi ini. Kebijakan untuk tidak me-lock down ini memang menjadi kebijakan populis yang pro rakyat kecil, dimana warga yang berteriak ‘besok kita makan apa’ bisa melanjutkan untuk mencari nafkah,” kata Rahmat Hidayatullah, salah satu pemilik kedai kopi di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Namun, menurut Rahmat, Indonesia bukan hanya berisi pekerja harian lepas. “Ada juga para pengusaha yang notabene merupakan salah satu penggerak perekonomian di Indonesia yang sangat membutuhkan kepastian usaha,” katanya.

Rahmat menilai, visi penyelesaian masalah Covid-19 dengan model PSBB semakin kabur jika tidak disertai aksi nyata di bidang kesehatan. “Status PSBB yang prorakyat kecil akan menjadi sia-sia. Bagaimana tidak sia-sia, lha wong pernyataan tentang geliat usaha tidak boleh dibatasi, namun ternyata dibatasi di lapangan,” katanya.

“Memang tidak ada larangan untuk membuka usaha, namun pasar tidak bergeliat. Toko tidak ada pembeli, warung tidak ada yang datang, meskipun diperbolehkan take away. Driver tidak dapat penumpang, dan ojek online hanya berharap dari pendapatan antar makanan. Ini merupakan kenyataan pahit untuk masyarakat yang katanya menggantungkan hidupnya pada penghasilan saat itu juga (pendapatan harian). Kebijakan pro rakyat kecil ini menurut saya malah membuat tenggelam dalam ketidakpastian: mati segan hidup tak mau,” kata Rahmat.

Rahmat sendiri sudah menutup warung kopinya di Jalan Mastrip. “Kalau dulu sehari rata-rata pendapatan saya Rp 2 juta. Sekarang Rp 400 ribu per hari. Saya akhirnya tutup sementara, karena tidak cukup untuk membayar karyawan,” katanya.

Ketua Usaha Kecil Menengah-Industri Kecil Menengah Nusantara Jember Rendra Wirawan mengatakan, karena tak ada ketegasan pemerintah untuk melakukan karantina, semua tetap bergerak. Namun secara psikologis, konsumen sekarang khawatir. “Kegiatan usaha kecil menegah tetap dilaksanakan. Tinggal kita berharap kebijakan pemerintah sendiri. Tidak serta-merta warung ditutup, ada keramaian sedikit ditutup,” katanya.

Rendra melihat batasan PSBB belum tersosialisasikan dengan jelas ke pengusaha kecil menengah. “Kalau tidak ada ketegasan, UMKM kan harus tetap bergerak, ya harus berjalan, dengan batasan-batasan,” katanya.

“Saya berharap mudah-mudahan wabah segera selesai, dan segera kembali lagi pemulihan ekonomi masyarakat. Kami berharap program pemerintah lainnya bisa mendukung daya beli masyarakat,” katanya.

Rendra memperkirakan wabah ini berakhir pada Juni 2020. “Mudah-mudahan cepat selesai. Kalau sampai Juni masih terjadi wabah, kami harus lebih kreatif menangkap peluang,” katanya.

Pukulan akibat wabah Civid-19 sempat dirasakan Arif Wicaksono, salah satu pengusaha donat. Setelah sekolah diliburkan, omset mulai turun. “Omset turun 20 persen. Kunjungan toko berkurang,” katanya.

Arif sempat hendak meliburkan tokonya selama dua pekan. “Tapi pegawaiku tidak mau. Mereka umumnya bekerja untuk membantu orang tua membayar angsuran. Kalau libur, ya otomatis gaji tidak full. Akhirnya aku belain beli masker dan hand sanitizer. Standar prosedur pelayanan diperketat. Pakai sarung tangan yang sebelumnya memang sudah jadi SOP, ditambah masker untuk semua karyawan. Bahkan memberikan uang kembalian, pakai baki khusus uang. Terus memakai hand sanitizer setelah memegang uang,” katanya.

Namun ada anomali. “Akhir Maret sampai sekarang, penjualan normal kembali seperti sebelum ada wabah Covid-19. Cuma model belanjanya berubah. Sekarang orang-orang belanjanya lewat ojek online,” kata Arif, Minggu (5/4/2020).

Arif sebenarnya sudah menyiapkan antisipasi jika terpaksa ada karantina total, yakni melalui pembagian jam kerja. “Sekarang saya wait and see, beroperasi seperti biasa, menunggu kebijakan pemerintah. Sekarang buka seperti biasa saja. Tapi saya sudah sampaikan ke teman-teman karyawan, bahwa kebijakan pengusaha mengikuti kebijakan pemerintah. Jadi mereka harus siap,” katanya.

Arif tidak mau terlalu paranoid. “Kalau terlalu paranoid, takutnya malah mempengaruhi penghasilan karyawan saya,” katanya. [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar