Ekbis

Produsen Tahu Pong Ngawi Kelimpungan, Imbas Kenaikan Harga Kedelai dan Langkanya Minyak Goreng

Aktivitas produksi tahu di Ngawi yang bertahan saat harga kedelai naik, Sabtu (19/2/2022) (foto: Andik Ari Wibowo)

Ngawi (beritajatim.com) – Kenaikan harga kedelai berdampak besar bagi pengusaha tahu di Desa Gelung, Paron, Ngawi, Jawa Timur. Mereka bingung harus menstabilkan harga tahu meski harga bahan baku naik. Kebingungan mereka ditambah dengan kelangkaan minyak goreng kemasan, semengara harga minyak goreng curah masih terlalu tinggi di pasaran.

Riyanto (55) warga setempat, memproduksi dua jenis tahu. Yakni tahu biasa dan tahu pong. Kini dirinya harus mengurangi angka produksi, dari satu kuintal kedelai yang diolah, kini berkurang 30 kilogramnya. Harga kedelai yang mencapai Rp 12.000 per kilogram berdampak besar bagi usahanya.

”Produksi sementar maish dikurangi. Kami maish mau mempertahankan harga tahu di pasaran. Jika ikutan naik, kami bakal ditinggalkan oleh pelanggan,” kata Riyanto saat ditemui di lokasi produksinya, Sabtu (19/2/2022).

Dia semakin bingung, untuk produksi tahu pong, memerlukan proses penggorengan tahu. Harga minyak goreng curah yang masih tinggi membuatnya pusing. Hingga akhirnya, pengurangan produksi tersebut juga jadi solusi agar dirinya tak terlalu banyak menggunakan minyak goreng.

”Kami pengusaha kecil hanya bisa menangis dengan kondisi seperti ini. Harga kedelai dan minyak goreng mahal. Kami bingung harus bertahan dengan cara bagaimana lagi. Sementara kami memiliki karyawan yang masih harus dibayar,” kata Riyanto.

Dia hanya berharap agar pemerintah bisa segera menstabilkan harga kedelai dan minyak goreng. Sehingga, dirinya bisa memaksimalkan produksi seperti sedia kala. (fiq/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar