Ekbis

PLN Kenalkan Kompor Listrik Lewat Demo Memasak untuk Bule-Bule

Surabaya (beritajatim.com) – Sosialisasi dan cara teknis penggunaan kompor induksi perlu dilakukan secara berkala dan konsisten. Diharapkan pada akhirnya secara perlahan masyarakat yang mengetahui sejumlah kelebihan menggunakan kompor induksi, dapat beralih atau memilih kompor induksi (kompor listrik) dibanding penggunaan kompor gas.

Kompor listrik hadir di  Electric PPJI Food Festival dengan digelarnya Embassy Cooking Competition Indonesian Cuisine, yakni memasak nasi goreng Indonesia selama 60 menit, yang diikuti oleh tiga peserta yakni perwakilan dari Kedubes Malaysia, Kedubes Rusia, dan Kedubes Inggris yang ada di Jakarta.

Menurut Komisioner (Konselor) Dagang Malaysia External Trade Development Corporation (Matrade) – Kantor Dagang pada Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia – Har Man Ahmad, dirinya mendukung penggunaan kompor listrik (induksi) pada acara kompetisi memasak Embassy Cooking Competition Indonesian Cuisine tersebut. Apalagi ia juga menggunakan kompor listrik sebagai cadangan kompor gas di rumah.

“Jadi kalau satu saat kehabisan gas, masih bisa menggunakan kompor listrik untuk memasak, jelasnya saat ditemui usai menjadi pemenang pada kompetisi yang diselenggarakan di hall 10 arena TEI Indonesia. Begitu juga di Malaysia, lebih banyak yang menggunakan kompor listrik – induksi dibanding menggunakan kompor gas,” kata Har Man Ahmad, Senin (21/10/2019).

“Namun menggunakan kompor listrik (induksi) berbeda ‘feel’nya dengan apabila menggunakan kompor gas. Kalau menggunakan kompor gas dengan penggunaan kuali, maka saya lebih dapat “feel’nya. Sebab jika menggunakan kompor listrik, harus lebih waspada. Karena jika agak terlalu lama proses memasaknya, masakan menjadi ‘matang terbakar,’ sehingga mempengaruhi hasil masakan,” sambungnya.

Selain mengikuti kompetisi memasak, kehadiran Har Man Ahmad yang sekaligus tengah mempromosikan ekspor produk Malaysia dan Indonesia melalui keikutsertaannya di salah satu booth di TEI Indonesia tersebut, mengemukakan partisipasinya sebagai bagian dari diplomasi publik untuk keperluan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta.

Peserta kompetisi sebagai Sekretaris Kedua dari Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Nikita Ivanov menyatakan, dirinya juga mendukung penggunaan kompor listrik –induksi. Namun demikian mengingat di sekitar perumahan Kedubes Rusia yang tersedia baru kompor gas, maka dirinya menyatakan, apabila harus berpindah menggunakan kompor listrik, dia pasti mendukung perubahan tersebut.

“Apalagi saat ini sebagian besar penduduk di Rusia juga sudah banyak yang menggunakan kompor listrik – induksi. Namun demikian masih banyak juga yang menggunakan kompor gas,” kata Nikita yang orang tuanya masih kerap datang ke Indonesia, serta secara khusus menonton Festival Indonesia di Rusia.

Penyuka masakan nasi goreng dan gado-gado yang sudah 11 tahun tinggal di Indonesia ini juga mengatakan, dirinya secara khusus membawa bumbu khusus dari Rusia. Bagus sekali bagi dirinya mengikuti kompetisi memasak nasi goreng, mengingat dirinya juga kerap memasak untuk keluarganya di rumah.

“Senang sekali berada di Indonesia, tidak hanya karena keramah-tamahan penduduknya, tetapi karena orang Indonesia suka membantu orang lain, saat menemui kesulitan,” tutur Nikita yang akhirnya menang kompetisi memasak itu.

Kompor Listrik Lebih Ramah Lingkungan

Pemenang kompetisi lainnya, Christopher (Chris) Agass, tim ekonomi kantor Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, mengemukakan penggunaan kompor induksi listrik lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan kompor gas. Namun penggunaan kompor listrik lebih lama waktu memasaknya, dibanding menggunakan kompor gas. Begitu juga dalam hal harga, berbeda jauh dibanding apabila menggunakan kompor gas.

Dirinya yang baru 4 bulan ini berada di Indonesia, menganggap kompetisi memasak nasi goreng adalah ide yang bagus, karena melibatkan keterkaitan antara negara-negara yang berbeda, dan kompetisinya berjalan dengan menyenangkan. Dampaknya dirasakan cukup positif dalam rangka mendukung kerjasama perdagangan internasional.

“Saya suka memasak jika ada waktu luang, seperti misalnya di hari libur. Kendati baru pertama kali memasak nasi goreng, tetapi bagi saya, memasak dilakukan untuk menghilangkan stress akibat tekanan pekerjaan,” jelasnya usai menerima penghargaan sebagai pemenang kompetisi.

Ketua Umum APJI Irwan Iden Gobel dalam kesempatan tersebut mengatakan, diselenggarakannya Embassy Cooking Competition Indonesian Cuisine ini, bertujuan membangun persahaabatan di antara Indonesia dan sejumlah negara lainnya dalam kerangka (format) kuliner.

“Dengan komposisi penilaian 20% untuk penyajian makanan; penilaian rasa makanan 50%; serta kreativitas dan variasi (hiasan) pada makanan 30%, akhirnya dewan juri Chef Ari Galih dan Chef Sabir dari PPJI memutuskan tiga peserta ini memenangkan kompetisi memasak nasi goreng,” jelas Irwan Iden.

Secara terpisah Eric Rossi Pryo Nugroho selaku Manager Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan PLN Yogyakarta, usai penyelenggaraan Friday Innovation Night, mengemukakan, kesempatan tersebut digunakan oleh pihak PLN untuk mengenalkan tema besar electrical lifestyle yakni eco living – eco lifestyle – dan eco moving.

“Sebagai bagian dari electrical lifestyle, kami memperkenalkan penggunaan kompor induksi kepada masyarakat, (listrik) ini bebas polusi, menggunakan nyala api menjadi lebih aman, juga praktis, dan tinggal colok tanpa menggunakan tungku secara khusus, bahkan tidak menggunakan tabung gas,” papar Eric.

“Jika kita selama ini menggunakan tabung gas dengan potensi bocor, kemudian kita harus memperhatikan bagaimana kualitas tabung, maka itu tidak terjadi dengan adanya kompor induksi. Penggunaan kompor induksi ini, bisa dikendalikan pada saat kita memasaknya, yakni dengan menggunakan timer (pengatur waktu),” tambahnya.

Dengan menggunakan kompor listrik, selain dapat mengatur daya listrik, juga dapat sekaligus melakukan pekerjaan lainnya, seperti menonton televisi atau mengasuh anak bermain. Jadi dengan menggunakan kompor gas, nyala api bisa dikontrol. Tetapi dengan menggunakan kompor listrik, maka besarnya daya juga dapat dilihat (diatur). Sebab pada kompor listrik tercantum daya dari 160 watt sampai 2 ribu watt, sehingga dapat diatur sesuai kebutuhan.

Eric menyatakan, sosialisasi penggunaan kompor induksi kelihatannya lebih mudah dilaksanakan di Yogyakarta. Beberapa restoran dan juga hotel di sana sudah banyak yang menggunakan kompor induksi – listrik, sehingga lebih mudah dilakukan sosialisasinya kepada masyarakat.

Penggunaan kompor induksi di Yogjakarta juga dimulai pada lounge di bandara, restauran yang ada di dalam mal kebanyakan juga sudah mulai menggunakan kompor induksi, terutama karena mereka mengutamakan kepraktisan, juga dilihatnya lebih elegan dan lebih aman, karena terhindar dari bahaya kebakaran. [rea/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar