Ekbis

Plastik Bungkus Kopi Disulap Jadi Barang Unik dan Cantik

Tas, dompet dan lainnya yang dibuat dari bahan daur ulang bungkus kopi karya sumarsi

Sidoarjo (beritajatim.com) – Kreatifitas yang dimiliki Sumarsi (52) warga Jalan Sungon Rt 22, Rw 6 Desa Suko Kecamatan Kota Sidoarjo, patut ditiru. Betapa tidak, oleh Sumarsi, sampah bungkus kopi kemasan, bisa disulap menjadi pendapatan ekonomi keluarganya.

Dari tangan kreatif dan ide Sumarsi memanfaatkan banyak jenis sampah plastik dari bekas bungkus kopi berbagai merk dibuat daur ulang kerajinan tangan. Seperti tas, tempat tissu, tutup galon air mineral,  taplak meja, tas laptop, dompet, dan berbagai jenis tas wanita.

Kata Sumarsi, kegiatan daur ulang yang dilakukannya tujuan pertamanya untuk mengurangi banyaknya sampah plastik yang dijumpainya. Selain itu juga untuk meminimalkan jumlah sampah, meningkatkan nilai ekonomi, sekaligus menjadi karya seni yang mampu menghasilkan uang.

“Berawal melihat sampah plastik kemasan kopi dari warkop-warkop yang bertebaran di jalan. Kemudian mencoba kami lipat-lipat dan di buat dompet, alhamdulillah berhasil,” kata Sumarsi Kamis (7/3/2019).

Setelah berhasil menyulap sampah plastik dari bungkus kopi menjadi dompet, beberapa hari kemudian membuat taplak meja, tempat tissu, tas laptop dan berbagai jenis tas wanita.

“Kami mendapatkan bahan baku tidak ada kendala, yakni dengan cara mendatangi warkop-warkop di pinggir jalan. Kemasan yang dibuang kami beli satu tas kresek ukuran besar seharga Rp 5 ribu,” tambahnya.

Meskipun bahan bakunya dari sampah, proses pembuatanya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi diantaranya pada saat pelipatan. Proses pembuatan butuh keahlian, ketelatenan dan kesabaran.

“Setelah bahan baku di pilah-pilah  disesuaikan dengan warna, kemudian dilipat. Selanjutnya disusun dan bisa di buat beberapa macam disesuaikan dengan pemesanan,” tutur Sumarsi.

Namun sayang hasil karya kerajinan  Sumarsi yang cukup unik ini belum mampu di pasarkan di mall-mall dan supermarket, karena keterbatasan dana. Hanya di pasarkan melalui online dan ofline.

Dengan segala usaha dan ketekunannya dalam mempromosikan secara pribadi dan dari mulut ke mulut, akhirnya perlahan-lahan karyanya mulai dibeli konsumen. Seiring perjalanan usahanya pesanan dari pembeli pun mulai berdatangan.

Hasil karya kerajinan seperti tempat tissu dijual dengan harga Rp 25 ribu, tutup galon air mineral Rp 60 ribu, taplak meja Rp 50 hingga Rp 60 ribu, tas laptop  Rp 80 hingga  Rp 90 ribu dan tas wanita berbagai bentuk dan ukuran dipatok mulai dari Rp 75 hingga  Rp 150 ribu.

“Hingga saat ini pembelinya masih dari lokal Jawa Timur, meskipun begitu kami mampu membantu tetangga kanan-kiri rumah yang nganggur. Omset bersih per bulan masih minim hanya Rp 3,5 juta. Tapi kami bangga mampu memberikan kesibukan dan rezeki ke emak-emak yang tidak memiliki kesibukan,” papar Sumarsi. [isa/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar