Ekbis

PJT I Mulai Tertibkan Keramba di Bendungan Sutami

Malang (beritajatim.com) – Satu per satu keramba jaring apung (KJA) yang berada di kawasan perairan Bendungan Sutami akhirnya diderek dan diamankan di pinggir daratan oleh kapal tender. Kegiatan penertiban KJA yang dilakukan Perum Jasa Tirta (PJT) I ini sudah mulai dilaksanakan sejak Kamis (19/3/2020) lalu dan direncanakan berlangsung hingga minggu depan atau akhir bulan Maret ini.

Bersama Koramil dan Polsek Sumberpucung, penertiban juga melibatkan perwakilan Dinas Perikanan Kabupaten Malang serta masyarakat kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) setempat, aksi yang dilakukan Divisi Jasa Asa (DJA) I PJT I ini berjalan lancar dan tanpa kendala. Setidaknya, dalam operasi penertiban ini, empat petak waring atau KJA dan satu pondokan nelayan telah dibongkar dan diderek keluar dari area tengah perairan.

Operasi penertiban KJA ini, merupakan bukti keseriusan PJT I dan masyarakat pokdakan untuk pembenahan dan kesadaran dalam menata serta menjaga kelestarian lingkungan di kawasan Bendungan Sutami dan Lahor.

“Ini adalah bukti keseriusan PJT I untuk menjaga kelestarian waduk atau bendungan yang kami kelola. Kegiatan ini terlaksana sebagai bukti masyarakat KJA di sekitar waduk sudah sadar lingkungan dan taat hukum,” ungkap Kasubdiv DJA I PJT 1, Hermawan C Nugroho, Sabtu (21/3/2020).

Hermawan menjelaskan, kegiatan penertiban KJA tahap pertama ini, dipusatkan di perairan waduk yang masuk di wilayah Desa Suko. Sedangkan yang menjadi target penertiban adalah keramba yang sudah tidak terpakai dan tidak produktif serta keramba liar.

“Sebagai tahap pertama, kegiatan penertiban dipusatkan terlebih dulu di wilayah desa Suko. Targetnya adalah keramba yang tidak terpakai dan tidak produktif juga keramba liar yang tidak masuk dalam pokdakan desa setempat,” tegasnya.

Diketahui, sebelum dilaksanakannya kegiatan penertiban KJA di Bendungan Sutami ini, PJT I telah melakukan sosialisasi dan pendataan pokdakan yang ada. Selanjutnya PJT I telah bersurat dan pemberitahuan resmi kepada semua pihak, tentunya juga kepada pokdakan dan kepala desa serta muspika setempat akan dilakukannya kegiatan tersebut.

“Setelah sekian banyak kami melakukan sosialisasi dan pendataan pokdakan KJA, kami pun harus melaksanakan kegiatan penertiban ini. Namun, kami juga telah bersurat ke semua pihak dan memberitahukan bahwa penertiban akan dilakukan hari ini, yakni di Desa Suko sebagai awalnya. Mulai dari pokdakan sendiri, kades dan perangkatnya, serta muspika juga dari dinas terkait sudah kami surati dan kami ajak koordinasi,” papar Hermawan.

Meskipun area waduk jadi kewenangan PJT I, lanjut Hermawan, pihaknya tetap melakukan secara maksimal prosedur dan membangun jalur koordinasi dan komunikasi yang baik dengan semua pihak khususnya masyarakat di kawasan waduk.

“Walaupun waduk ini adalah kewenangan kami, tapi semua pihak kami ajak diskusi, koordinasi dan komunikasi agar tetap kondusif. Kami juga mengharapkan PJT I dan masyarakat waduk dapat hidup berdampingan dengan selaras dan harmonis,” terangnya.

Petugas pelaksana teknis sekaligus ketua tim penertiban KJA Bendungan Sutami dan Lahor dari DJA I, Rofiq menguraikan, setidaknya terdapat sekitar 31 orang di dalam kelompok Suko Makmur yang memiliki keramba. “Menurut hasil pendataan kami, ada sekitar 31 orang yang menjadi anggota kelompok keramba dari kelompok Suko Makmur di Desa Suko,” jelasnya.

Kata Rofiq, masing-masing memiliki keramba lebih dari satu petak keramba, dari sekian banyak petak yang mereka punyai tidak terpakai maka beredia untuk dibongkar dan melakukan penataan keramba produktif.

“Sesuai hasil koordinasi ada kesepakatan dari mereka untuk mendata keramba yang sudah tidak lagi difungsikan dan bersedia dibongkar untuk ditertibkan dan ditata letaknya,” ujar Rofiq.

Hermawan menambahkan, kegiatan penertiban KJA di Bendungan Sutami sekarang ini berada dalam zona pengusahaan saja, dan akan dilaksanakan secara bertahap. Dimungkinkan, kegiatan penertiban sudah dijadwalkan dalam waktu sampai minggu depan. “Bukan hanya dilaksanakan hari ini saja, penertiban di zona pengusahaan rencananya akan juga dilaksanakan pada minggu depan sambil menunggu kesiapan masing-masing pokdakan,” ungkapnya.

Selain di zona pengusahaan, keramba yang sudah masuk dalam zona suaka, juga akan ditertibkan dan dilarang untuk membuka keramba di zona tersebut. “Bagi keramba yang sudah masuk di zona suaka juga akan ditertibkan dan dibongkar. Karena di zona ini, kegiatan usaha apapun dilarang, termasuk keramba hanya kegiatan yang berbasis konservasi lingkungan saja. Pemilik keramba di zona suaka, sudah sadar dan taat hukum sekaligus bersedia ditertibkan. Namun, pemilik minta waktu sampai memanen ikan hasil kerambanya, dan kami pun menyanggupi atas dasar karena sudah ada kesadaran dan kesepakatan dari pemilik,” katanya.

Disisi lain, Hermawan tidak menampik jika rencana bertahap penertiban KJA yang sudah terjadwal akan berubah dengan melihat situasi dan kondisi negara ini yang sedang berjuang mencegah dan memberantas wabah virus corona disease (covid) 19.

“Ya, kami pun juga akan memperhatikan keputusan pemerintah pusat terkait himbauan kewaspadaan penyebaran virus corona dengan pembatasan interaksi langsung atau social distancing. Maka jadwal kegiatan penertiban KJA pun bisa berubah, sambil menunggu situasi dan kondisi negara ini,” ucapnya.

Kegiatan operasi penertiban KJA tahap awal di Bendungan Sutami ini juga tidak luput dari dukungan masyarakat kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) setempat. Kesadaran masyarakat akan menjaga lingkungan dan kelestarian di kawasan waduk dibuktikan dengan membantu lancarnya penertiban dan melakukan aksi pembongkaran sendiri pada keramba-keramba yang dimiliki warga.

Setidaknya terdapat 31 orang pemilik keramba di desa itu yang tergabung dalam Pokdakan Suko Makmur pimpinan Rurun Sunaji. Dalam proses penertiban keramba di wilayahnya, Rurun beserta anggota kelompoknya benar-benar totalitas membantu PJT I dan aparat yang ikut serta dalam kegiatan ini.

Antusias kesadaran lingkungan dan ketaatan hukum dapat terlihat dari aktivitas Rurun dan anggotanya dengan membantu pembongkaran keramba-keramba yang tidak terpakai sebelum diseret kapal tender untuk dipinggirkan.

“Sampun pak, meniko sampun kulo pedhoti taline, di derek mawon. Sampun siap dibongkari, sebelah mriko nggeh wonten (Sudah,pak. Itu sudah saya putusi talinya, di derek saja. Sudah siap dibongkar, sebelah sana juga ada,” kata Rurun.

Operasi penertiban KJA di Bendungan terbesar di Jawa Timur ini, juga melibatkan Polsek Sumberpucung. Kapolsek Sumberpucung, AKP Edi Sunyata melalui Bhabinkamtibmas Desa Karangkates, Bripka Sanda Prasetyo mengatakan, kepolisian mendukung kegiatan penertiban keramba yang ada di Bendungan Sutami.

Menurut dia, akibat adanya keramba-keramba yang sudah tidak terpakai dan keramba liar, dapat mengganggu lingkungan di waduk dan areanya.

“Kami sangat mendukung sekali kegiatan operasi penertiban keramba-keramba di waduk Sutami ini. Dapat terlihat pada kondisi dilapangan, keramba-keramba yang selama ini ada di dalam perairan waduk memang perlu adanya penataan ulang. Apalagi, akibat keramba dampak yang muncul sangat terlihat, mulai dari sampah dan sedimentasi yang terjadi, akan mengakibatkan pendangkalan di waduk,” ungkapnya.

Pemberian pakan ikan yang berlebih pun juga dikhawatirkan akan mempengaruhi kualitas air di waduk, sehingga potensi pencemaran dari keramba. “Maka dari itu, niat PJT I dalam penertiban dan penataan keramba nantinya juga akan menguntungkan para pokdakan sendiri. Karena jika lingkungan perairan waduk bersih dan sehat, hasil ikan akan melimpah dan berkualitas, yang jelas ikan akan sehat,” ujar Sanda.

PJT I juga menggandeng Koramil 0818/06 Sumberpucung dalam pelaksanaan operasi penertiban KJA di Bendungan Sutami. Hal yang sama juga disampaikan Danramil Sumberpucung, Kapten Inf Sapardi melalui Babinsa Karangkates, Pelda Januri yang ikut serta dalam operasi penertiban.

“Kami mendukung kegiatan penertiban keramba yang dilakukan PJT 1 di waduk Sutami ini. Karena, memang sangat penting menjaga kelestarian lingkungan demi keawetan bendungan yang merupakan aset negara yang fungsinya juga untuk rakyat,” tegas Januri.

Januri menambahkan, terlihat tumpukan sampah di sekitaran keramba dan ilalang yang sampai tumbuh subur pada keramba tidak terpakai, itu merupakan bukti kurang sadarnya para petani keramba dalam menjaga lingkungan waduk. “Banyaknya keramba apalagi keramba yang mangkrak dan tidak difungsikan lagi oleh pemiliknya, menyebabkan perairan bendungan Sutami tidak enak lagi untuk dipandang keasriannya,” ujarnya.

Bertebarannya KJA yang tidak tertata baik atau berserakan di perairan waduk juga berpotensi menghambat sirkulasi dan alur aliran air waduk. Sehingga, kata dia, dapat dilihat di lokask banyak sampah di area keramba, sampai-sampai ilalang pun juga tumbuh subur di petak keramba. “Ini karena kurang sadarnya masyarakat keramba dalam menjaga lingkungannya di waduk, sehingga harus disadarkan dan ditertibkan,” pungkasnya. (yog/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar