Ekbis

PG Tingkatkan Produktivitas Tebu Jawa Timur

Gresik (beritajatim.com) – Produsen pupuk regional Petrokimia Gresik (PG) melakukan memorandum of understanding (MoU), dengan pabrik gula guna meningkatkan produktivitas tanaman tebu di Provinsi Jawa Timur.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total produksi tebu nasional tahun 2020 mencapai 2.130.700 ton. Produksi tertinggi berasal dari Jawa Timur yang mencapai 979.000 ton.

Produktivitas tersebut, dihasilkan dari perkebunan tebu seluas 420.700 hektar. Sedangkan di Jawa Timur sendiri luas pertanaman tebu mencapai 182.400 hektar. Dalam MoU itu PG bekerjasama dengan Pabrik Gula Gempol Kerep, Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

Dirut PG Dwi Satriyo Annurogo menuturkan, selama ini masih terdapat banyak kendala yang dialami petani tebu sehingga produktivitasnya cenderung menurun. Padahal, tanaman tebu merupakan salah satu kebutuhan pokok yang mempunyai peranan penting dan strategis di masa pandemi Covid-19.

“Kegiatan produksi komoditi perkebunan harus tetap berjalan agar dapat menyediakan kebutuhan pokok sebagai kebutuhan dasar masyarakat,” tuturnya, Kamis (8/04/2021).

Adapun kendala yang dialami petani tebu lanjut Dwi Satriyo, diantaranya produktivitas rendah, terbatasnya pendampingan kepada petani, ketersediaan pupuk subsidi yang terbatas, harga pupuk non subsidi yang mahal. Serta sulitnya akses ke lembaga keuangan, dan harga jual hasil panen yang cenderung turun saat panen.

Dalam MoU ini, PG bekerjasama dengan seluruh stakeholder industri gula untuk memberikan pendampingan intensif kepada petani, dan jaminan pasokan.

“Dengan program Agro Solution diharapkan petani dapat mengenal dan menggunakan pupuk non-subsidi. Sehingga, produktivitas dan kualitas tebu yang dibudidayakan petani meningkat,” ungkap Dwi Satriyo.

Petani tebu binaan Pabrik Gula Gempolkrep menyambut baik program ini, karena PG bersama stakeholder memberikan pendampingan dari hulu hingga hilir, termasuk memfasilitasi pinjaman untuk modal budidaya dan asuransi untuk perlindungan resiko gagal panen.

“Meskipun biaya budidaya meningkat karena menggunakan pupuk non subsidi, namun saat panen hasilnya meningkat diatas kenaikan biaya, sehingga pendapatan petani tebu masih ada peningkatan. Ini menjadi poin utama,” pungkas Dwi Satriyo. [dny/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar