Ekbis

PG Targetkan Jadi Market Leader di Sektor Agroindustri

Gresik (beritajatim.com) – Perusahaan ‘plat merah’ Petrokimia Gresik atau PG telah mengimplementasikan transformasi bisnis yang dijalankan sejak tahun 2019 dan menargetkan menjadi market leader di sektor agroindustri

Dirut Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo menuturkan, sebagai perusahaan yang telah mengimplementasikan transformasi bisnis ada tiga paradigma yang telah diubah untuk menjawab tantangan di pasar bebas. Pertama, inefisiensi menjadi efisiensi. Kedua, dari semula produk driven menjadi market driven, dan ketiga perubahan orientasi dari subsidi menjadi komersial.

“Perubahan paradigma itu adalah dasar bagi perusahaan untuk mencapai sasaran Transformasi Bisnis Petrokimia Gresik (TBPG) sebagai market leader dan dominant player di sektor agroindustri, menjadi leader dalam cost leadership, dan diversifikasi usaha,” tuturnya, Sabtu (31/10/2020).

Ia menambahkan, tantangan PG yang dihadapi kedepan adalah perubahan pola subsidi pemerintah.  Jika saat ini, subsidi diberikan kepada petani melalui produsen pupuk. Kedepan subsidi diberikan langsung kepada petani melalui penggunaan Kartu Tani.

“Kalau itu sudah diterapkan. Maka petani mempunyai kebebasan untuk memilih produk pupuk sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Di sini PG akan berbicara pasar komersial, bukan lagi berorientasi subsidi,” imbuhnya.

Tantangan selanjutnya kata Dwi Satriyo, adalah masih mahalnya harga gas yang merupakan bahan baku penting untuk memproduksi pupuk jenis Urea, NPK, dan ZA. Pasalnya, komponen biaya gas memiliki porsi hingga 70 persen dalam struktur biaya produksi pupuk Urea. Sehingga, tingginya harga gas berdampak pada daya saing usaha.

“Sebagai jawaban atas tantangan harga gas ini, Petrokimia Gresik harus melakukan penghematan yang ekstra agar produk-produk kita berdaya saing tinggi,” ujarnya.

Melalui implementasi TBPG lanjut dia, juga memperbaiki seluruh value chain rantai nilai yang ada di perusahaan, mulai dari pemahaman mengenai pasar (market intelligence), kemudian inbound logistics, proses produksi, outbound logistics, penjualan, hingga services.

“Perbaikan value chain pada tahapan produksi telah mampu menurunkan semua HPP atau harga pokok penjualan,” ungkapnya.

Menurut Dwi Satriyo, TBPG yang dijalankan Petrokimia Gresik merupakan burning platform untuk mampu bersaing di pasar komersial. Untuk itu, insan di korporat harus bangun dari ‘zona nyaman’ subsidi, dan sekarang harus berpikir inovatif, efisien dan berorientasi pada kebutuhan pasar.

“Kami berkomitmen untuk menjadi solusi agroindustri, semua jawaban atas kebutuhan agroindustri,” paparnya.

Adapun solusi yang ditawarkan terkait ssbagai perusahaan solusi agroindustri memberikan kawalan pertanian yang komprehensif mulai dari menyediakan benih unggul, pupuk berkualitas hingga pestisida. Bahkan, juga menyiapkan layanan pertanian melalui mobil uji tanah dan klinik pertanian yang ada di sejumlah wilayah di Indonesia.

Saat ditanya Petrokimia Gresik menciptakan produk berorientasi pasar (non subsidi) mulai dari NPK Phonska Plus yang dilengkapi dengan Zinc, pupuk cair organik Phonska Oca.

Dikatakan Dwi Satriyo, semua itu guna meningkatkan produktivitas dan menjaga kesuburan tanah, dan sejumlah produk lain yang sangat lengkap.

“Untuk menjadi leader kita harus menyamakan paradigma sehingga dalam perjalannya bisa saling melengkapi,” pungkasnya. (dny/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar