Ekbis

PG Salurkan 1,5 Juta Liter Pupuk Subsidi Cair ke 11 Provinsi

Suasana pabrik petrosida anak usaha PT Petrokimia Gresik saat memproduksi pupuk cair bersubsidi

Gresik (beritajatim.com) – Pandemi covid-19 yang belum berakhir tidak menyurutkan Petrokimia Gresik (PG) untuk terus menyalurkan pupuk bersubsidi sesuai mekanis Kementrian Pertanian (Kementan). Kali ini perusahaan BUMN itu mendapat tambahan menyalurkan pupuk organik cair, atau POC bersubsidi 1,5 juta liter ke 11 provinsi.

Adapun kesebelas 11 provinsi itu yang mendapat pasokan POC diantaranya Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, DKI Jaya, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Direktur Operasi dan Produksi Petrokimia Gresik, Digna Jatiningsih menuturkan, tahun ini perusahaanya mendapatkan tambahan dari Kementan menyalurkan 1,5 juta liter untuk 11 provinsi.

“Pupuk cair Phonska Oca ini merupakan pupuk organik cair inovasi kami yang diproduksi oleh anak perusahaan PT Petrosida. Mulai tahun ini pemerintah memasukkan pupuk tersebut ke dalam skema subsidi melalui Permentan nomor 49 tahun 2020 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Subsidi 2021,” tuturnya, Kamis (11/03/2021).

Adanya kebijakan itu lanjut Digna, dalam upaya mengoptimalkan pagu anggaran subsidi pupuk organik. Hal ini karena selama 10 tahun terakhir, tren serapan pupuk organik subsidi baik bentuk padat atau granul tidak pernah mencapai angka 100 persen. Sehingga, setiap tahun terdapat sisa anggaran yang direalokasikan ke pupuk anorganik lainnya.

Di sisi lain, seluruh peneliti, baik dari Badan Litbang Pertanian dan Perguruan Tinggi serta para praktisi pertanian telah bersepakat bahwa pupuk organik sangat diperlukan untuk memperbaiki sifat fisik tanah. “Produksi tahun ini adalah awal, tidak menutup kemungkinan tahun berikutnya alokasi POC subsidi akan meningkat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, terkait aturan baru dari pemerintah. PG telah menyiapkan pabrik untuk memproduksi Phonska Oca dengan kapasitas sebesar 264 ribu liter per bulan atau 3,16 juta liter per tahun.

Pupuk cair bersubsidi ini berbeda dengan pupuk organik cair lainnya, karena memiliki kandungan C-Organik minimal 6 persen, unsur hara makro Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), dan diperkaya unsur mikro serta mikroba yang sangat bermanfaat untuk tanaman.

“Tapi perlu dipahami oleh petani bahwa POC bersubsidi merupakan suplemen tambahan dalam konsep pemupukan berimbang. Bukan pupuk yang diaplikasikan secara mandiri,” kata Digna.

Sebagai bagian dari edukasi terhadap petani, PG juga telah melakukan demonstration plot (demplot) di beberapa tempat di wilayah Jawa, Sumatera, Sulawesi dan NTB. Secara umum pupuk ini mampu mendorong peningkatan hasil mencapai 10 hingga 60 persen bergantung pada jenis komoditas.

Sementara, Kepala BB-SDLP, Dr. Husnain menyatakan Phonska Oca semakin relevan karena kesuburan tanah semakin kritis. Di Pulau Jawa saja kandungan organik tanah kurang dari 2 persen, sehingga diperlukan pupuk organik yang merupakan ruh dari kesuburan tanah.

“Pemerintah memberikan insentif pada POC cair ini sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan memperbaiki kondisi tanah,” terangnya.

Tantangannya, petani masih banyak yang enggan menggunakan pupuk organik karena memang hasilnya tidak instan. Ini tantangan bersama untuk memberikan edukasi kepada petani penggunaan POC subsidi merupakan investasi jangka panjang guna memperbaiki kondisi tanah. “Phonska Oca merupakan pupuk yang kualitasnya bagus karena banyak kandungan tambahan, sehingga akan memberikan efek yang signifikan,” pungkas Husnain. [dny/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar