Ekbis

PG Fokus Pasok Bahan Baku ke Inalum dan SIG

Gresik (beritajatim.com) – Di tengah new normal pandemi Covid-19, perusahaan solusi agroindustri, Petrokimia Gresik (PG), mulai fokus memasok bahan baku ke PT Asahan Aluminium Indonesia (Inalum) dan Semen Indonesia Group (SIG). Pasokan guna mendukung industri manufaktur sesama BUMN.

Dirut Petrokimia Gresik, Rahmad Pribadi menyatakan strategi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang saat ini tengah fokus menumbuhkembangkan sektor industri manufaktur sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional.

“Terkait bahan baku Petrokimia Gresik memasok aluminium flouride (AlF3) dan purified gypsum kepada sejumlah perusahaan BUMN. Produk ini merupakan hasil samping dari proses produksi asam fosfat (bahan baku pupuk),” ujarnya, Jumat (14/08/2020).

Lebih lanjut Rahmad menambahkan, AlF3 digunakan oleh PT Asahan Aluminium Indonesia (Inalum) sebagai bahan penolong untuk industri peleburan almunium. Sedangkan Purified Gypsum digunakan sebagai bahan baku oleh industri semen, yaitu Semen Indonesia Group dan PT Semen Baturaja.

Saat ini kata Rahmad Prihadi, Petrokimia Gresik memiliki kapasitas produksi AlF3 sebesar 12.600 ton per tahun. Dari jumlah tersebut. Pada tahun ini,
sekitar 5.000 ton diantaranya dijual kepada PT Inalum. Selebihnya, akan dipasarkan ke sejumlah negara seperti India, Jepang, Amerika Serikat, dan sejumlah negara di Timur Tengah.

“Ke depan, Petrokimia Gresik akan meningkatkan kapasitasnya menjadi dua kali lipat karena potensi pasarnya masih sangat prospektif,” ungkapnya.

Kapasitas produksi Purified Gypsum yang dimiliki Petrokimia Gresik sebesar 1,5 juta ton per tahun. Pada tahun 2020, 750 ribu ton akan dimanfaatkan untuk mendukung industri Semen Indonesia Group. Sedangkan sekitar 80 ribu ton untuk mendukung produksi PT Semen Baturaja.

“Deferensiasi usaha yang kami lakukan tidak hanya pada produk pupuk saja, melainkan juga pada produk non pupuk, salah satunya adalah bahan kimia,” kata Rahmad Pribadi.

Sesuai dengan site plan kedepan. Industri manufaktur dalam negeri yang saat ini masih pada tahap perencanaan dan pengembangan dalam program transformasi binis adalah produk Methyl Ester Sulfonate (MES) dan Soda Ash.

MES adalah produk baru yang dikembangkan bekerjasama dengan Surfactant Bioenergy Research Centre Institut Pertanian Bogor (SBRC IPB). MES adalah bio-degradable surfactant yang dapat digunakan di sektor migas untuk meningkatkan produksi lapangan minyak tua melalui teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery).

Selanjutnya, Petrokimia Gresik juga akan membangun pabrik Soda Ash dengan kapasitas 300 ribu ton. Pabrik ini nantinya akan menjadi yang pertama di Indonesia, dan akan menjadi penopang penting dalam mendukung tumbuh kembangnya industri kaca dan deterjen dalam negeri. [dny/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar