Ekbis

PG Bidik Sentra Pertanian Wonosobo dengan Pupuk non Subsidi

Gresik (beritajatim.com) – Produsen pupuk nasional PT Petrokimia Gresik (PG) tak henti-hentinya memasarkan pupuk non subsidi sebagai penetrasi pasarnya. Setelah membidik daerah pertanian di Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur. Kini, anak usaha PT Pupuk Indonesia (persero) itu kembali membidik sentra pertanian di Wonosobo, Jawa Tengah.

Dipilihnya sentra pertanian tersebut karena Wonosobo memiliki ketinggian 500 hingga 1000 meter dari permukaan laut. Sehingga, daerah itu terkenal sebagai penghasil pertanian terbesar di Jawa Tengah.

Direktur Pemasaran PT Petrokimia Gresik (PG) Meinu Sadariyo mengatakan, selain memasarkan produl non subsidi pihaknya juga edukasi pertanian kepada petani Wonosobo serta konsultasi pelayanan uji tanah gratis dengan menyediaka mobil uji tanah.

“Petani bisa membawa sample tanahnya dan dapat mengetahui kondisi terkini tanah mereka. Setelah dilakukan uji tanah, petani akan memperoleh rekomendasi pemupukan yang tepat dan berimbang. Tujuannya agar lahan pertanian memiliki produktivitas optimal dan berkelanjutan,” ujar Meinu, Sabtu (20/07/2019).

Meinu menambahkan, disamping edukasi. Perusahaannya juga menggelar pasar murah di sentra pertanian Wonosobo. Dengan pasar murah itu, petani bisa menebus produk non subsidi melalui sistem tukar kupon seharga Rp250 ribu. Dari kupon ini, petani bisa mendapatkan satu sak pupuk NPK Phonska Plus (kemasan 25 kilo), satu sak pupuk NPK Petro Nitrat (kemasan 25 kilo), satu pak dekomposer Petro Gladiator (kemasan 1 kilo), dan satu pak pupuk hayati Petro Biofertil (kemasan 2 kilo).

“Total harga produk tersebut jika dibeli di kios berkisar di harga Rp388 hingga Rp518 ribu, sehingga diskon yang didapatkan petani melalui pasar murah ini mencapai sekitar 35-50 persen,” tambahnya.

Sementara itu, Dirut PT PG Rahmad Pribadi menyatakan bahwa kegiatan pasar murah ini merupakan salah satu strategi program transformasi bisnis, yaitu memperkuat brand image produk non subsidi untuk memperkuat posisi perusahaan di pasar komersil domestik. Hal ini sekaligus menjadi upaya perusahaan untuk memperkuat posisi produk non subsidi terkait wacana pengalihan subsidi pupuk.

“Kami memiliki banyak produk non-subsidi dari hulu hingga hilir seperti benih unggul, pupuk, pengendalian hama, dekomposer, hingga probiotik. Karena taget kami adalah untuk menjadi dominant player dan market leader di Indonesia,” tandasnya. [dny/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar