Ekbis

Petrokimia Gresik Berencana Bangun Pabrik Soda Ash

Gresik (beritajatim.com)– Produsen pupuk regional PT Petrokimia Gresik (PG) berencana membangun pabrik soda ash guna mengoptimalkan pemanfaatan produk samping (Amoniak) menjadi produk yang memiliki added value, atau nilai tambah.

Pabrik yang memiliki kapasitas 300 ribu ton itu, merupakan yang pertama di Indonesia sekaligus untuk menopang industri kaca dan deterjen dalam negeri.

Pabrik yang akan dibangun itu, juga untuk mengurangi CO2 yang merupakan hasil samping dari Pabrik Amoniak PG sebesar 174 ribu ton yang sudah beroperasi.

Bagi Petrokimia Gresik, rencana dibangunnya pabrik soda ash diharapkan bisa memberi kontribusi revenue USD 87 juta setiap tahunnya. Selain itu, produk sampingnya berupa alumunium klorida (NH4CL) dapat digunakan sebagai bahan baku NPK, sehingga kebutuhan  ZA untuk bahan baku dapat berkurang sebesar 364 ribu ton setiap tahunnya.

“Kalau pabrik soda ash beroperasi kita tidak perlu lagi mengimpor ZA,” ujar Dirut Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo, Minggu (1/11/2020).

Masih menurut Dwi Satriyo, untuk bahan baku pabrik soda ash yakni garam. PG melakukan sinergi dengan PT Garam (persero) dengan jumlah kebutuhan sebesar 100.000 MTPY.

“Bu Gubernur Khofifah Indar Parawansa mendukung pendirian pabrik soda ash guna mendukung taraf hidup petani garam,” paparnya.

Melalui program hilirisasi ini lanjut Dwi Satriyo, PG semakin mampu melaksanakan tugas pokok sebagai penopang ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat industri nasional sebagai penggerak ekonomi.

Ia menambahkan, ada tiga strategi pertumbuhan Petrokimia Gresik. Pertama, peningkatan kapasitas. Pada tahun 2021 Petrokimia Gresik membangun pabrik Aluminium Fluorida (AlF3). Dengan adanya pabrik baru ini, kapasitas produksi AlF3 akan meningkat dua kali lipat menjadi 25.000 MT per tahun.

“Produk aluminium khususnya pada segmen transportasi terus meningkat setiap tahunnya. Sebab, kebutuhan AlF3 yang merupakan bahan penolong peleburan juga menjadi meningkat,” ujar Dwi Satriyo.

Saat ini kata dia, Petrokimia Gresik memiliki kapasitas produksi AlF3 sebesar 12.600 ton per tahun. Dari jumlah tersebut, pada tahun ini, sekitar 5.000 ton diantaranya dijual kepada PT Inalum (Indonesia Asahan Aluminium) sebagai bahan penolong peleburan aluminium.

Selain dalam negeri, kebutuhan AlF3 di pasar global juga sangat besar. Petrokimia Gresik selama ini mengekspor ke negara-negara yang masih defisit seperti Amerika, Eropa, India, Middle East, dan Afrika. Apalagi, AlF3 produk Petrokimia Gresik memiliki harga jual produk yang kompetitif dibandingkan dengan pasar global, bahkan margin profit bisa mencapai 25 persen apabila menggunakan bahan baku limbah dari pabrik asam sulfat.

Sedangkan keuntungan lain pembangunan pabrik AlF3 bagi Petrokimia Gresik adalah mengurangi limbah H2SiF6 yang merupakan hasil samping (by product) dari Pabrik Asam Sulfat. Apabila perusahaan tidak memproduksi AlF3 maka akan menghabiskan biaya sekitar Rp 40 miliar per tahun untuk mengelola limbahnya. Sedangkan dengan adanya pabrik baru AlF3 ini perusahaan bisa meningkatkan revenue sebesar Rp 245 miliar per tahun.

Kedua, Petrokimia Gresik akan bertransformasi dari single industry firm menjadi related diversified industry. Strategi ini tentu dilakukan dengan meneruskan hilirisasi produk.

“Kita akan pilih produk hilir berbasis gas alam, fosfat dan sulfur yang mempunyai nilai tambah yang besar,” ungkap Dwi Satriyo.

Tahun 2020 Petrokimia Gresik telah memproduksi produk baru, Methyl Ester Sulfonate (MES). MES Petrokimia Gresik ini dikembangkan bersama dengan Surfactant

Bioenergy Research Centre Institut Pertanian Bogor (SBRC IPB). MES adalah bio-degradable surfactant yang dapat digunakan di sektor minyak dan gas (migas) untuk meningkatkan produksi lapangan minyak tua melalui teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery).

“Ini merupakan terobosan penting dan diharapkan bagi pelaku industri sektor migas di Indonesia,” kata Dwi Satriyo.

MES diproduksi di Pabrik III dengan memanfaatkan gas SO3 yang biasa digunakan untuk memproduksi asam sulfat. Produksi MES ini akan meningkatkan profitabilitas Pabrik III, karena harga MES bisa mencapai 200 kali lipat lebih mahal dibandingkan harga asam sulfat.

Ketiga adalah pengembangan produk baru melalui pembangunan proyek baru. Proyek pembangunan pabrik baru harus bisa memperkuat posisi Petrokimia Gresik sebagai perusahaan berbasis Related Diversified Industry.

“Untuk itu pembangunan pabrik baru akan difokuskan pada hilirisasi produk,” pungkas Dwi Satriyo. (dny/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar