Ekbis

Petrokimia Gresik Alokasikan 137 Ribu Ton Pupuk Bersubsidi di Daerah Lumbung Pangan Jatim

Petugas sedang mengirim alokasi pupuk bersubsidi di Gudang PT Petrokimia Gresik

Gresik (beritajatim.com) – Guna mempercepat masa tanam selama musim kemarau di daerah lumbung pangan Jawa Timur, Petrokimia Gresik (PG) mengalokasikan pupuk bersubsidi sebanyak 137.219 ton.

Alokasi tersebut dua kali lipat dari ketentuan minimum pemerintah sebesar 64.660 ton. Stok pupuk bersubsidi itu terdiri dari Urea 28.322 ton, ZA 38.257 ton, SP36 25.992 Ton, NPK Phonska 31.522 ton, dan Petroganik 13.126 ton.

Sesuai intruksi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa telah memplot enam daerah sebagai lumbung pangan ditengah pandemi Covid-19. Keenam daerah itu antara lain Kabupaten Bojonegoro, Ngawi, Jember, Nganjuk, Tuban dan Tulungagung.

Dirut PT Petrokimia Gresik, Rahmad Pribadi menuturkan, untuk penyaluran alokasi pupuk bersubsidi itu disesuaikan dalam SK Dinas Pertanian setempat.

“Agar tepat sasaran penyaluran pupuk bersubsidi itu dikawal staf perwakilan daerah penjualan (SPDP) Petrokimia Gresik yang tersebar di berbagai Kabupaten di Jatim. Mereka rutin berkordinasi dengan Dinas Pertanian, petugas penyuluh lapangan (PPL), kelompok tani, hingga aparat berwajib,” tuturnya, Kamis (4/06/2020).

Rahmad Pribadi mengimbau agar distributor, dan kios resmi yang telah ditunjuk tidak main-main serta mematuhi peraturan yang berlaku.

“Jangan sampai terlibat dalam penyelewengan, penimbunan atau menjual diatas harga eceran tertinggi (HET). Sanksinya, jika terlibat izinnya bisa dicabut lalu diserahkan ke pihak yang berwajib,” ujarnya.

Adapun HET pupuk bersubsidi yang ditetapkan, pupuk Urea Rp90 ribu per sak (50 kg) atau Rp1.800 perkilonya, pupuk NPK Phonska Rp115 ribu per sak (50 kg) atau Rp2.300 perkilo. Selanjutnya, pupuk organik Petroganik Rp20 ribu per sak (40 kg) atau Rp500 perkilo, pupuk ZA Rp70 ribu per sak (50 kg) atau Rp1.400 perkilo, dan pupuk SP-36 Rp100 ribu per sak (50kg) atau Rp2.000 perkilonya.

“Petrokimia Gresik tidak akan segan untuk memberhentikan kerjasama distribusi jika distributor atau kios resmi terbukti melakukan kesalahan,” tegas Rahmad.

Terkait pola pemupukan lanjut Rahmad Pribadi, dirinya menghimbau petani mengikuti rekomendasi umum pemupukan berimbang 5:3:2, yaitu 500 kg pupuk organik Petroganik, 300 kg pupuk NPK Phonska atau Phonska Plus, dan 200 kg pupuk Urea. Perpaduan pupuk organik dan anorganik ini menjaga keberlanjutan pertanian, juga terbukti mampu meningkatkan produktivitas 1-2 ton gabah kering panen untuk setiap hektar sawah.

“Pemupukan berimbang ini juga sebagai solusi atas pemakaian pupuk yang cenderung berlebih oleh petani. Sehingga, alokasi pupuk bersubsidi yang terbatas dapat lebih efektif dan efisien,” pungkasnya. [dny/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar