Ekbis

Peternak Telur Puyuh Blitar Sediakan Pasokan Kebutuhan Pangan di Tengah Pandemi

Blitar (beritajatim.com) – PT Sumber Kelapa Blitar siap menyediakan pasokan telur puyuh untuk PT Charoen Pokphand. Rencananya, telur puyuh ini akan disumbangkan ke masyarakat yang terdampak pandemi Coronavirus atau COVID-19 baik langsung ataupun tidak langsung.

Ini adalah komitmen bersama PT Sumber Kelapa Blitar dan PT Charoen Pokphand dalam mendukung upaya pemerintah memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Salah satunya, menyediakan pasokan makanan yakni telur puyuh.

Sekadar diketahui, mengkonsumsi telur puyuh secara rutin dipercaya menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan imunitas tubuh. Fungsi protein di dalam telur puyuh bisa menjaga sistem imun tubuh. Tak hanya itu, kandungan protein di dalamnya juga bisa membantu dalam pembentukan antibodi. Sehingga, kemungkinan seseorang terpapar virus semakin menipis karena sistem imunnya kuat.

Diharapkan bantuan telur puyuh ini bisa membantu memenuhui kebutuhan masyarakat selama pandemi. Sekadar informasi, dari data WHO Tahun 2007, kebutuhan protein manusia rata-rata 40-60 gr/hari. Rencananya, untuk tahap awal, 1 ton telur puyuh siap didistribusikan ke masyarakat yang ada di sekitar lokasi  perusahaan yang di kawasan Sepanjang dan Krian, Kabupaten Sidoarjo.

Selanjutnya, kedua perusahaan ini akan tetap bekerjasama. PT Sumber Kelapa Blitar akan terus menyediakan pasokan telur puyuh. Ini akan berkelanjutan sampai ke tahap – tahap berikutnya.

Beky Herdihansah, Owner PT Sumber Kelapa Blitar mengatakan, saat ini kondisi peternak telur puyuh di Blitar saat ini sangat terpuruk sekali. Pandemi COVID-19 ini memberikan efek dan pengaruh yang sangat besar sekali di kalangan peternak telur puyuh.

“Dampak yang sangat signifikan dirasakan peternak adalah masalah harga. Karena pandemi COVID-19, harga telur puyuh per kilogramnya hancur. Harganya jauh dibawah bakul. Sangat murah sekali harga per kilogramnya,” kata Beky, Senin (27/4/2020) siang.

Ia menjelaskan, harga normal telur puyuh per kilogramnya itu Rp 25.000 – Rp 26.000. Efek domino pandemi membuat harga telur puyuh terperosok. Per kilogram telur puyuh hanya mampu maksimal dijual dengan harga Rp 13.000.

“Kondisi ini tidak sebanding. Biaya untuk memberi pakan ternaknya tidak cukup. Dampaknya, banyak peternak telur yang gulur tikar secara dadakan. Mereka tidak mampu melayani harga jual telur puyuh yang merosot jauh dari harga normal,” jelas dia.

Maka dari itu, ia sangat berharap ada kebijakan pemerintah yang sekiranya bisa memberikan angin segar untuk para peternak telur puyuh. Minimal, kata dia, para peternak ini sedikit mendapatkan angin segar di tengah pandemi seperti ini.

“Kalau semisal bisa, saya meminta pemerintah memasukkan telur puyuh dalam paket bansos yang dibagikan masyarakat terdampak COVID-19 baik itu langsung ataupun tidak langsung. Telur puyuh ini juga mengandung protein yang sangat tinggi sekali,” urai dia.

Beky juga menyampaikan terima kasih kepada PT Chraoen Pokphand, salah satu perusahaan yang mau memperdulikan dan memperhatikan nasib para peternak telur puyuh. Kata dia, orderan telur puyuh dari perusahaan ini ibarat memberikan nafas untuk peternak.

“Kalau bisa ada perusahaan yang seperti PT Charoen Pokphand ini sangat bagus. Peternak terbantu. Minimal mendongkrak dan menarik harga telur puyuh agar tidak terlalu jatuh dan memberikan kesempatan peternak untuk kembali berusaha, jangan sampai mereka gulung tikar,” tutup dia. (kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar