Ekbis

Petani Dihimbau Waspadai Pupuk Palsu di Pasaran

Gresik (beritajatim.com) – Keberadaan pupuk palsu, atau tiruan yang beredar di pasaran sangat meresahkan. Untuk itu, petani dihimbau memwaspadai pupuk yang tidak standart itu, di saat musim tanam mulai bulan Oktober 2020 dan Maret 2021.

Sebelumnya, telah banyak beredar seolah-olah produk tersebut adalah keluaran dari PG. Kemasan itu, secara keseluruhan maupun persamaan sangat mirip dan beredar pada musim tanam.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Perusahaan Petrokimia Gresik (PG) Yusuf Wibisono menuturkan, pihaknya memiliki hak ekslusif atas merek dagang pupuk bersubsidi. Merek itu antara lain Pupuk NPK Phonska, Pupuk Super Fosfat SP-36, Pupuk Organik Petroganik, pupuk ZA berlogo PG, dan pupuk Urea berlogo PT Pupuk Indonesia (Persero).

Selain itu, juga memegang sejumlah merek dagang pupuk komersil atau non-subsidi, diantaranya adalah pupuk NPK Kebomas, NPK Phonska Plus, Kalium Sulfat ZK.

“Semua merek-merek tersebut telah sah terdaftar dalam Daftar Umum Merek pada Direktorat Merek dan Indikasi Geografis, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Jika memproduksi atau memperdagangkan produk tersebut tidak sesuai. Ancamannya pidana. Berdasarkan UU nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geogafis,” tuturnya, Jumat (18/12/2020).

Untuk itu lanjut dia, pihaknya memperingatkan dengan keras kepada pihak-pihak yang telah memproduksi, atau memperdagangkan produk pupuk yang seolah-olah produk PG segera dihentikan. Serta menarik peredaran, serta memusnahkan seluruh produk pupuk tersebut. “Secara internal, kami telah membentuk sebuah tim yang bertugas untuk menangani berbagai laporan dari berbagai sumber, dengan disertai bukti yang kuat, terkait peredaran produk pupuk palsu,” ujarnya.

Adapun ciri fisik kemasan pupuk asli buatan PG, maupun produsen pupuk lain di bawah PT Pupuk Indonesia (Persero). Diantaranya, menggunakan logo perusahaan, yaitu logo PI untuk pupuk Urea, NPK Phonska dan Petroganik, dan logo PG untuk pupuk ZA dan SP-36.

Disamping itu, pada kantong pupuk juga tercantum tulisan ‘Pupuk Bersubsidi Pemerintah, Barang Dalam Pengawasan’. Logo SNI, nomor pengaduan, nomor izin edar, dan bag code atau kode kantong (untuk pupuk bersubsidi) di bagian belakang untuk menunjukkan tanggal dan tempat produksi.

Pupuk bersubsidi pun memiliki ciri fisik tertentu, seperti berwarna pink untuk pupuk Urea, oranye untuk pupuk ZA, merah untuk pupuk NPK Phonska, putih untuk pupuk SP-36, serta cokelat untuk pupuk organik Petroganik. “Masyarakat bisa berperan aktif untuk ikut mengawasai peredaran produk pupuk palsu. Jika menemukan, lapor saja ke pihak berwajib,” pungkas Yusuf Wibisono. [dny/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar