Ekbis

Pesan Menristek Bambang Brodjonegoro di Acara Digifish 2020

Jakarta (beritajatim.com) – Minapoli bekerjasama dengan Jaringan Startup Perikanan Indonesia (Digifish Network) pada 15-16 Desember 2020 menyelenggarakan sebuah event tahunan yang fokus pada inovasi digital di bidang kelautan dan perikanan, Digifish 2020.

Dengan mengusung tema “Accelerating The Impact of Innovation Ecosystem on the Fisheries Sector”, acara yang dilangsungkan secara daring melalui platform Zoom, Youtube dan juga Facebook Live ini diikuti lebih dari 450 peserta mulai dari para pembudidaya ikan, petambak udang, startup/pelaku inovasi, kementerian dan lembaga, pelaku usaha perikanan, perguruan tinggi, NGO, asosiasi perikanan hingga media. Rangkaian event Digifish 2020 terdiri dari Conference, Industry Initiatives, Startups Carnaval, dan Farmers Showcase.

“Tujuan dari diadakannya event Digifish yang sudah memasuki tahun ketiga ini adalah untuk terus mengakselerasi ekosistem inovasi digital agar semakin banyak inovasi, semakin banyak sinergi dan kolaborasi dari ekosistem ini yang berdampak positif dan signifikan bagi sektor kelautan dan perikanan,” ungkap Rully Setya Purnama, penyelenggara Digifish 2020 yang juga merupakan salah satu pendiri Digifish Network.

Menteri Riset & Teknologi dan Kepala Badan Riset & Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro dalam pembukaan Digifish 2020 menyampaikan bahwa Visi Indonesia 2045 adalah menjadi negara maju berpendapatan tinggi dengan produk domestik bruto terbesar ke-4 di dunia.

Namun saat ini Indonesia masih berada pada jebakan kelas menengah karena Indonesia masih mengandalkan sumber daya alam sebagai tulang punggung perekonomian. Aktivitas ekonomi Indonesia harus didorong menjadi berbasis inovasi (innovation based economy).

Untuk menciptakan kondisi tersebut perlu diciptakan iklim inovasi yang kondusif melibatkan sinergi triple helix antara akademisi, pemerintah dan pelaku industri. Kemenristek/BRIN melaksanakan program riset yang memperhatikan pilar-pilar dalam kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan yang salah satunya adalah penguatan sumber daya manusia dan riset inovasi.

Dukungan Kemenristek/BRIN dilakukan dengan melakukan pembinaan startup di bidang kelautan & perikanan melalui program Startup Inovasi Indonesia. Melalui program tersebut harapannya dapat tercipta kemandirian dan kemajuan Indonesia di bidang kelautan dan perikanan.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Safri Burhanuddin mengatakan, pada 2025, Indonesia menargetkan masuk peringkat ke-5 besar negara perikanan. Tantangannya, bagaimana meningkatkan nilai tambah produksi perikanan melalui inovasi teknologi dan pemasaran yang bagus.

Startup digital perikanan memiliki peranluar biasa untuk meningkatkan produksi dan pemasaran. Jumlah usaha rintisan perikanan yang tergabung dalam Digifish Network mencapai 32 startup dan diyakini bertambah pada 2021.

Safri mengatakan, berrkembangnya usaha rintisan perikanan berbasis digital diharapkan mendorong inovasi teknologi untuk pemanfaatan sumber daya perikanan tangkap sesuai dengan kapasitas maksimum yang diperbolehkan (MSY). “Peningkatan produktivitas kelautan dan perikanan, pemanfaatan lahan budidaya perikanan secara optimal, serta integrasi tata ruang laut dan darat,” katanya.

Selanjutnya pada sesi Conference dengan format diskusi panel, menghadirkan narasumber dari perwakilan startup, Bappenas, KKP, Bank Dunia dan pelaku usaha. Sesi ini dimoderatori oleh Bapak Luky Adrianto yang merupakan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University.

CEO eFishery Gibran Huzaifah yang menjadi perwakilan startup dalam diskusi tersebut mengemukakan bahwa usaha rintisan berbasis digital perlu terus berinovasi untuk menawarkan nilai tambah dan efisiensi produksi.

Startupnya yang awalnya mengembangkan teknologi pemberiaan pakan (autofeeder), kini sudah merambah menjadi penyedia akses pembiayaan, pakan, dan pasar. Selama pandemi Covid, sejak Maret 2020 hingga kini, total sudah 850 ton ikan bisa berhasil diserap. Ikan ini dibeli langsung dari pembudidaya dan dikelola untuk dipasarkan.

Hal tersebut mendapat apresiasi dan perhatian khusus Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, “Dampak dari rekan-rekan yang tergabung di dalam Digifish Network ini salah satunya dirasakan khususnya selama masa pandemi Covid-19 dengan peran mereka dalam membantu penyerapan dan pemasaran ikan yang berasal dari pembudidaya,” ungkapnya.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budhi Wibowo mengemukakan, pandemi Covid-19 sempat menyebabkan pemasaran produk perikanan ke hotel, restoran, dan kafe anjlok hingga 80 persen dan saat ini pemasaran berangsur membaik menjadi sekitar 60 persen dibandingkan dengan sebelum pandemi. Sebaliknya, pasar ritel untuk konsumen akhir melalui supermarket dan e-commerce meningkat hingga 30 persen.

Budhi mengatakan “Persyaratan pasar ekspor semakin ketat, mencakup jaminan keamanan pangan, traceability, dan sustainability produk perikanan yang dipasok. Untuk bisa menerapkan itu, diperlukan integrasi informasi dengan memanfaatkan teknologi digital.”

Sementara itu David Kaczan yang merupakan Environmental Economist untuk Asia Timur dan Pasifik dari Bank Dunia menyampaikan bahwa pihaknya sangat antusias dan mendukung ekosistem inovasi digital perikanan di Indonesia.

Komunitas startup perlu terus didukung karena dari sanalah transformasi ide dan inovasi baru bermunculan. Tidak banyak negara di dunia yang memiliki komunitas startup seperti Indonesia sehingga ini menjadi hal positif bagi perkembangan ekonomi digital.

Bank Dunia sendiri memiliki program Coastal Fisheries Initiative: Indonesian Challenge Fund yang berkontribusi untuk menemukan peluang investasi sektor swasta dalam perikanan berkelanjutan, pengembangan bisnis dan menghubungkannya dengan investor yang fokus pada dampak sosial.

Pada hari ke-2 penyelenggaraan, Digifish 2020 dimulai dengan sesi Industry Innitiative yang menghadirkan dua perusahaan global yaitu BASF dan Aquaeasy (BOSCH) yang juga memiliki inovasi untuk sektor perikanan khususnya akuakultur.

Selain memperkenalkan inovasinya terkait penyediaan energi dan kualitas , kedua narasumber Presiden Direktur BASF Indonesia Agus Ciputra dan Founder AquaEasy Aries Fajar Dwiputra menyampaikan perusahaannya membuka peluang kolaborasi dengan komunitas startup terkait dengan digitalisasi akuakultur.

Sesi yang kedua yaitu Startups Carnaval yang menghadirkan berbagai inovasi di bidang kelautan dan perikanan. Sesi ini diikuti oleh 8 startup yaitu eFishery, Sgara, Banoo, FisTx, Jala, Minapoli, Indofishery dan Aruna. Yang kemudian dilanjutkan dengan sesi terakhir yaitu Farmers Showcase, terdapat 4 pembudidaya dan 1 nelayan yang berbagi pengalaman mereka bagaimana inovasi digital dapat membantu mereka dalam menjalankan usaha dan meningkatkan pendapatan. [hen/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar