Ekbis

Perekonomian Membaik, Bisnis Infrastruktur Diperkirakan Capai Rp 92 Triliun

Direktur Utama PT Waskita Karya, Destiawan Soewardjono

Surabaya (beritajatim.com) – Direktur Utama PT Waskita Karya, Destiawan Soewardjono, mengatakan, potensi bisnis infrastruktur di ranah domestik sepanjang tahun 2021 sampai 2025 diperkirakan sebesar Rp 92 triliun.

“Kami perkirakan sebesar itu. Kalau kondisi perekonomian nasional membaik dan pandemic covid-19 tertangani tuntas, bisa saja lebih dari itu,” kata Destiawan saat pertemuan dengan pimpinan media massa di Kota Surabaya, Selasa (24/11/2020).

Selain itu, tambahnya, potensi bisnis infrastruktur di mancanegara yang bisa diakses manajemen Waskita Karya nilainya diperkirakan sebesar Rp 71 triliun. Korporasi ini juga sedang membidik bisnis pembangunan perumahan dan office di sepanjang jalan tol yang telah dibangun korporasi ini.

Sebagai BUMN yang bergerak di sektor konstruksi dan telah membangun banyak infrastruktur, baik jalan tol, gedung bertingkat, infrastruktur lainnya, Waskita Karya akan memperkuat kinerja dan telah membangun jalan tol sepanjang 908 kilometer di seluruh Indonesia. Total investasi yang telah dikucurkan korporasi ini mencapai Rp 160 triliun.

Di ranah Jatim, ada sejumlah ruas jalan tol telah dibangun Waskita Karya, di antaranya ruas tol Solo-Ngawi, ruas Ngawi-Kertosono, ruas Manyar-Bunder-Legundi-Krian, ruas Pasuruan-Probolinggo. “Untuk ruas jalan tol Probolinggo-Banyuwangi, kami dapat kontrak konstruksi senilai Rp 1 triliun,” ungkapnya.

Untuk ruas jalan tol Krian—Legundi—Bunder yang memiliki panjang 38,40 kilometer telah rampung pembangunan konstruksinya. Diharapkan jalan tol yang menghubungkan Kabupaten Gresik dan Kabupaten Sidoarjo tersebut segera dioperasikan.

Jalan tol ini membelah koridor tengah jalur perhubungan Gresik dan diharapkan makin meningkatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi di kedua daerah tersebut.

Selain itu, akses kendaraan, baik pribadi maupun niaga, dari Gresik yang akan ke Mojokerto, Jombang, Madiun, dan kawasan Jatim bagian barat lainnya, tak perlu memutar masuk Surabaya. Sehingga bisa mengurangi volume trafik lalu lintas di akses tol Surabaya maupun jalan arteri primer di ibu kota Jatim tersebut.

Jalan tol Krian—Legundi—Bunder—Manyar memiliki empat seksi, yaitu Seksi 1 Krian—Kademean Mengganti sepanjang 9,77 kilometer. Seksi 2 Kademean Mengganti—Boboh sepanjang 8,83 kilometer. Kemudian Seksi 3 Boboh—Bunder sepanjang 10,40 kilometer dan Seksi 4 ruas Bunder—Manyar sepanjang 9,40 kilometer.

Berdasar catatan Dinas PU Bina Marga Jatim, pembangunan jalan tol di Jatim sejak 2017 hingga 2020, telah terbangun jalan tol Mantingan-Mojokerto, Surabaya-Mojokerto, Porong-Gempol (relokasi), Gempol-Pasuruan, Pasuruan-Probolinggo, Gempol-Pandaan dan Pandaan-Malang.

Saat ini, sudah ada beberapa ruas jalan tol yang akan mulai prosesnya tahun ini, yakni Tol Kertosono-Kediri (20,3 kilometer), Probolinggo-Lumajang (28 kilometer), Gresik Bunder-“Java Integrated Industrial and Port Estate” (JIIPE)-Manyar (9 kilometer) serta dan Tuban-Gresik.

Menurut Destiawan, korporasi berjuang keras mendapatkan sejumlah peluang bisnis infrastruktur dan properti tahun depan dengan berbagai langkah inovasi, improvisasi, efisiensi, dan lainnya. Yang tak kalah penting adalah korporasi merestrukturisasi keuangannya. Saat ini, total asset korporasi sekitar Rp 115 triliun, dengan volume hutang sekitar Rp 90 triliun.

Dengan potret seperti ini, beban likuiditas korporasi tidak ringan, terutama terkait pembayaran hutang dan bunganya. “Tahun depan kita planning restrukturisasi keuangan, sehingga beban korporasi lebih ringan,” tegas Destiawan. [air/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Coba Yuk, Snack Berlumur Saus Hummus

Rela Tinggalkan Dokter Spesialis

Ngobrol dengan Komunitas Berbagi di Surabaya