Ekbis

Pensiunan Guru Tekuni Usaha Pembuatan Kripik Tape

Suradi, pensiunan guru yang menekuni usaha pembuatan kripik tape

Kediri (beritajatim.com) –  Di tangan Suradi, warga Dusun Kweden, Desa Karangrejo Kecamatan Ngasem ini, tape dapat dikreasikan menjadi makanan ringan berupa kripik. Kendati prosesnya cukup sederhana, namun untuk masalah rasa sangat cocok untuk lidah masyarakat Indonesia.

Dalam prosesnya, tape singkong diiris tipis-tipis, selanjutnya di simpan pada almari pendingin hingga membeku, selanjutnya irisan tape tersebut dimasukkan kedalam alat penggorengan vacuum frying selama kurang lebih satu jam, yang Suradi peroleh dari Bupati terpilih Hanindhito Pramana Putra ketika berkunjung ke rumahnya. Alat penggorengan tersebut, selain dapat digunakan untuk menggoreng juga berfungsi untuk menghilangkan kadar air pada tape, sehingga nanti kripik yang dihasilkan akan renyah dan tidak mudah melempem.

Usai di goreng, untuk menghilangkan sisa-sisa minyak yang masih menempel, selanjutnya tape tersebut di masukkan kedalam mesin peniris minyak, rasa manis dari tape yang masih dominan membuat keripik ini laris diburu pembeli.

Aneka produk kripik buah buatan Suradi, pensiunan Guru di Kediri

“Alhamdulillah mendapat bantuan alat penggorengan dan alat pengemasan dari mas Dhito, sehingga proses produksi lebih mudah dan cepat, padahal sebelumnya saya menggoreng secara tradisional menggunakan penggorengan berukuran besar, selain lama, konsumsi gasnya pun juga boros”, ujarnya.

Selain memproduksi kripik tape, pria pensiunan guru ini mengaku juga memproduksi aneka kripik, seperti kripik nangka, kripik pisang, dan kripik singkong yang telah dimulai sejak awal tahun 2018 lalu, sementara untuk penjualannya pada waktu itu hanya dengan cara dititipkan ke pedagang sayur keliling, hingga akhir tahun 2020, Suradi mencoba mengembangkan usahanya dengan memproduksi kripik berbahan buah nanas, nangka dan tape singkong tersebut.

“awalnya tahun 2018 membuat kripik singkong, selanjutnya baru akhir 2020 lalu saya mencoba berinovasi dengan memproduksi kripik tape, kripik nanas dan kripik nangka”, ungkapnya.

Kini dengan dibantu 2 karyawannya, serta adanya bantuan alat vacuum frying untuk proses penggorengannya, serta continous sealer band untuk alat pengemasannya, Suradi mampu memproduksi 80 bungkus kripik berukuran 100 gram dan 200 gram setiap harinya. Sementara untuk penjualan kripik yang dibandrol harga Rp 5 ribu hingga 20 ribu per kemasan tersebut kini telah menyebar di sejumlah daerah di wilayah Kediri dan sekitarnya hingga ke Surabaya. [nm/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar